Tidak ada yang pernah tahu, kapan seseorang datang untuk mengisi setiap detik di hidup ini. Detik yang ku jalani mungkin tak semulus dari kebanyakan anak perempuan lain. Ya mereka yang mempunyai cinta pertama pada ayahnya. Aku memang tidak pernah merasakan hal itu. Aku bisa tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang tak pernah peduli kepada pria, teman pria pun hanya sekedarnya saja. Terlalu cuek, masabodo, tak pernah peduli terhadap pria manapun, bahkan takut, mungkin itu yang tergambar dalam diri ini.

Dirinya hadir di saat tidak pernah ada satu orang pun yang bisa membuka hati ini untuk menerima kaum adam. Awal bertemu dengannya hati ini masih tertutup. Masih saja merasa takut, resah, bimbang. Berawal dari sebuah komunitas dirinya bergabung dan bertugas untuk membantuku. Kesan pertama mungkin dia bisa menilaiku terlalu cuek, begitu jutek dan tak acuh, tidak seperti wanita kebanyakan yang bisa dengan gampangnya mengakrabkan diri.

Minggu bertemu minggu, mungkin lama-lama jadi begitu dekat. Aku tak ragu lagi menceritakan kehidupanku dengannya. Kini ia tahu latar belakangku mengapa aku takut dengan kaum adam. Dia pun terkadang tak sungkan untuk menceritakan masalahnya kepadaku. Terkadang setiap aku mengeluh tentang kehidupanku, dia selalu saja membalas dengan tertawa, dan aku selalu membalas "lu tuh cuma bisa ketawa aja, lu tuh gak pernah ngerasain jadi gue, hidup lu tuh enak, apa-apa tinggal minta orang tua". Namun hanya senyuman saja balasan darinya.

Bisa merasakan jalan berdua dengan pria, ibadah bersama, bahkan makan pun juga bersama. Setiap kali orang melihat kita, selalu saja orang tersebut mengira kami menjalin hubungan serius. Saat ada yang bertanya kepadaku apakah ia kekasihku, aku hanya membalas senyuman, karna aku sendiri bingung ingin menjawab apa.

Aku bertekad untuk tidak jatuh cinta kepadanya, aku bisa melakukan itu dan menganggapnya hanya sekedar saudara. Namun suatu kali di saat dia hendak pulang berpapamitan denganku dirinya menatapku dengan tatapan yang lebih lama dari sebelumnya. Sontak aku terkejut, bagaimana bisa aku yang menahan hati ini, namun kejadian malah sebaliknya dirinya yang mungkin sudah menaruh hati terlebih dahulu. Kini setiap kali bertemu selalu ada saja kode darinya, dari mulai menghalangiku ingin ke toilet, selalu saja duduk berdekatan denganku, dan bahkan ia minta di hari ulang tahunnya aku mengucapkannya di jam 12.00.

Advertisement

Namun selalu ada yang mengganjal, dia tak pernah meresponku lewat sosial media, seolah-olah bagiku dia menganggap tidak penting. Ternyata dia sedang dekat juga dengan teman kampusnya. Aku menyerah jika harus disejajarkan dengan teman kampusnya, aku hanya gadis sederhana, mandiri, biasa saja, tidak sebanding dengan teman kampusnya, kampus yang terkenal sangat elite dengan gadis-gadis cantik, keadaan berada, pintar dll. Apalah dayaku bersaing dengan teman-temanmu, aku pun sadar kau bisa dengan gampangnya mencari gadis cantik yang sempurna karna dirimu pun sangat tampan bak seorang pangeran di negeri dongeng.

Seringkali berkata dalam hati agar rasa ini tidak terlalu mendalam, karna mungkin ia hanya bermain-main. Namun beribu terima kasih aku lontarkan kepadamu orang yang telah membuka kunci hati ini. Kunci hati yang sudah tergembok oleh karna kepahitan terhadap kaum adam, melewati banyak hal bersamamu dan hanya denganmu. Tawa, canda, keluhan kita, itu yang membuat aku lebih bersyukur, karna sang maha kuasa telah berbaik hati mengirimkan sosok pria unik sepertimu. Mungkin kamu baik dengan semua wanita, sehingga banyak wanita yang dengan mudahnya punya perasaan kepadamu. Di sosial media kau memang tak pernah menganggapku namun bagiku itu tak apa, meskipun terkadang kecewa, namun selalu saja luluh ketika kita sedang bersama kembali.

Banyak kisah yang kulalui hanya bersamamu. Jika sekarang aku mengganggapmu hanya sebagai sahabat, tetapi mungkin suatu saat hati ini berkata aku ingin punya sahabat hidup sepertimu.