Catatan menjelang usia silver. Usia silver yang dimana kata orang-orang itu usia yang cukup sakral apa lagi untuk kaum perempuan. Ah masa sih? Dulu waktu masih ABG banyak banget target yang harus dikejar sebelum usia itu dan salah satu targetnya adaalah memakai gaun putih berjalan menuju altar dan mengikat janji bersama lelaki yang sudah Tuhan gariskan untuk menua bersama. Tapi itu kemarin.

Seiring berjalannya waktu, hall itu bukan lagi jadi target melainkan tujuan dalam hubungan. Sekarang bukan lagi gencar-gencarnya memaksa pasangan agar segera membawa ke altar di usia itu, bukan lagi mencari siapa yang siap untuk segera mengikat janji melainkan mencari dan sama-sama menemukan orang yang tepat. Sekarang mencoba berpikir lebih realistis tentang pernikahan. Menikah itu memang karena siap, siap segala-galanya siap menerima kenyataan kalau memang menikah itu bukan hanya persoalan bahagia bareng, ke sana sini bedua dan mesra-mesraan halal. Melainkan bayar cicilan berdua, saling menguatkan kalo salah satu terpuruk, berselisih paham karena beda pendapat dan berbagi masalah hidup.

Nah karena pernikahan itu ga seindah dan semuluk impian anak kecil maka dari itu sekarang lebih mempersiapkan diri menjadi pribadi yang dapat diandalkan kelak, sambil meyakinkan apakah pasangan kita memiliki kerinduan yang sama dengan kita.

Seseorang yang dapat menerima kekonyolan,kegilaan,keanehan,kebodohan, keegoisan sambil saling belajar arti kedewasaan, seseorang yang tidak akan meninggalkan ketika kelak tubuh ini bertambah bulat dan kerutan dimana-mana, seseorang yang tetap bertahan meski keadaan ekonomi sedang jungkir balik, seseorang yang memiliki hati lembut namun tegas untuk kebahagiaan keluarganya. Aku tau Tuhan sudah membaca pikiranku jauh sebelum aku menulis catatan ini dan aku pun yakin Ia sudah menyiapkan lelaki itu jauh sebelum aku memikirkannya.

Untukmu semoga kita saling menemukan ya.
Catatan ini bukan kode loh atau tentang kegalauan hati. melainkan hanya catatan untuk pengingat pribadi saja.