Tepat pukul 00.00, hatiku masih terbaring lemah di sudut harap. Entah, angin apa yang membawaku dalam lamunan yang semakin senyap ini. Entah apa yang berada di lorong pikiranku, hingga wajahmu mulai membangunkan lagi kesekian malamku. Cerita malam di hari lalu masih terasa sama, terus menggetarkan dada kala mengingat senyum manja nan manis itu. Rindu. Ya, mungkin itu yang masih mengalir dan mengusik relung ragaku.

Sudah ku coba terus menghela nafas panjang agar bayangmu pudar. Namun lagi-lagi aku tak mampu berkata, kala bayangmu juga menyelinap di dasar ingatanku. Mengusik kesepian lama yang ku pendam namun belum sepenuhnya hilang.

Untukmu, aku beradu harap dengan waktu.

Entah telah seberapa lama ku memikirkan ini. Memikirkan kesendirian yang tak berbatas. Nyaman, sepertinya bukan rasa itu yang kini pantas dalam dasarnya logika. Aku masih berharap, jika kau mampu membaca keadaaanku. Aku masih berharap pada suka cita yang kau janjikan. Aku masih berharap, aku disini menantimu.

Jika kelak hari itu datang, perlahan segala akan sirna. Satu hati yang dulu kau perjuangkan, kini hanya menjadi debu hiasan masalalu. Debu masalalu yang terbuang jaman. Jika semua rasamu pudar, kelak saat nanti. Ku harap kisah ini bukanlah penantian. Aku beradu dengan waktu hari ini, agar kau tahu rasaku, karena aku tahu semuanya akan pergi. Pudar pada saatnya, dan menghilang tak berbekas.

Satu hati ku putar searah, namun terus berbalik.

Telah sekuat mentari yang menolang malam, namun kegelapan juga akhirnya datang. Telah sekuat ku bertahan dalam bimbang, namun aku hanyalah sosok usang yang nantinya juga terbuang.

Advertisement

Setidaknya aku telah bersusah payah mengharap pada egomu, ego masa depanmu yang aku tak tahu itu benar adanya. Sekuat hatiku memutar pandang, merontamu kembali dan memaksamu sedikit mengisi kosong milikku. Namun itu semua, kini tak terjawab, kau memilih pergi. Memilih jauh berbalik arah, melingkar dan tak ingin melihatku lagi. Jika itu maumu, aku pun akan rela.

Sekilas pandangmu, kini ku tekan hilang. Agar hidupku kembali tenang.

Tak ku pungkiri bayangmu pun tak kunjung padam dalam lamunan. Namun aku tetap bersikeras membakarnya dalam ingatan. Hingga menjadikan abu yang tak mungkin kembali datang. Kini aku lebih memilih mencintai waktu kosongku. Menjejaki kisah lama yang dulu tak bisa ku lakukan saat bersamamu.

Mungkin dulu tak mungkin ku tutup hariku tanpa senyummu, namun hari ini aku bisa. Akan ku taruh dalam-dalam momen bahagia, duka, suka dan cita dalam sebuah bingkai kenangan. Hingga terus tertata rapi. Bukan karena aku tak melupakanmu, namun karena kelak aku juga akan mengenang masa laluku, kenanganku. Dan membukanya tatkala semuanya telah seperti sediakala. Saat hatiku sudah tak serapuh ini.

Melangkahlah kini bersama sebuah citamu, karena kerelaanku, sebelum aku berubah pikiran. Melangkahlah pelan hingga tak terdengar olehku, karena jika iya, maka kan ku ikuti kemana arahmu berjalan, memaksamu lagi bersama jalanku. Hmm, sungguh, sungguh tak akan, memaksa rasa itu lagi, rasa sayangmu kan sudah hilang.

Maaf.

“Biarlah rasa sayang itu mengalir adanya dalam pembuluh harapan. Hingga memompanya dalam jantung penghidupan”.

Selamat melangkah, teman (seseorang yang mulai layak ku panggil dengan sebutan “teman”).