Senja kali ini saya bisa tersenyum lepas dan berjalan dengan langkah kaki yang lebih ringan. Saya berteriak pada lautan lepas “saya telah berdamai dengan diri saya Tuhan terimakasih sudah mengirimkan satu malaikatmu”. Sesat kemudian Tuhan seakan menjawab dengan deburan ombak yang berbisikan kata selamat dan matahari terbenam yang menandakan bahwa masih ada secercah harapan untuk mewarnai kehidupan yang akan saya jalani.

Saya bukan orang yang pandai merangkai kata-kata manis tapi untuk kali ini akan saya coba merangkainya agar menjadi kaset memori yang dapat saya simpan sampai tua nanti.

Kali ini saya akan menceritakan siapa saya yang terdahulu. Dulu saya hanya sampah yang terbawa arus sungai kehidupan yang kadang tersangkut diranting-ranting. Hingga suatu saat Tuhan memberikan satu keajaiban sampah yang tak berharga ini diambil oleh seseorang dan dijadikan sesuatu yang berguna.

Saya sangat ingat betul dimana saat saya menjadi sampah itu saat itu saya adalah orang yang tak punya arah. Saya tidak memiliki patokan untuk tetap bertahan untuk melanjutkan hidup dan saya mengaangapa semua yang sedang saya jalani adalah suatu hal yang sia-sia. Hingga suatu saat Tuhan mengirimkan satu malaikat yang bernama “sahabat” dia berkata

“kamu menghabiskan ¼ waktu hidupmu dengan hal yang tidak bermakna dan jika kamu tidak mulai merubahnya kamu sama saja menjadi patung yang hanya diam sampai terkikis hujan lalu menghilang tanpa dikenang ”

Advertisement

Kata-kata bernada sinis itu langsung membuat saya terdiam. Dia telah mengenal saya hampir separuh hidup saya saat ini dan saya tahu dia bukanlah orang yang bermulut tajam seperti belati yang digunakan untuk menyembelih hewan tutur katanya sangat halus dan menenangkan berubah menjadi menyeramkan saat melihat saya terpuruk dalam menjalani kehidupan. Dia tidak membenarkan semua alasan pembelaan yang saya berikan. Dia hanya terus berseru

“Sadarlah kau akan menjadi sampah yang sangat menjijikan bila hanya menyalahkan keadan”

Ya dia mengatakan semua itu dengan lantang saya merasa sangat tercengan akan fakta yang dia utarakan. Memang selama ini saya hanya menyalahkan keadaan. Keadaan dimana saya terdampar pada tempat yang menawarkan kenyaman di atas penderitaan orang lain. Dan bodohnya saya ikut terbawa arus ke tempat itu. Betapa mudahnya saya terpengaruh saat itu.

Euforia kebahagian semu yang saya rasakan berbalik menjadi penyesalan panjang sekarang. Dulu saya sangat terbuai dengan temapat itu hingga melupakan batas menyakiti hati seseorang, menyalahkan mereka atas kesalahan yang saya perbuat. Saya tidak menyalahkan tempat itu karena ditempat itulah saya mendapat banyak pelajaran bahwa saya harus menjadi diri saya sendiri tidak tergoda dengan penawaran manis semata.

Mulai saat itu saya seakan melihat titik terang yang ada di hidup saya. Saya mulai menata semua dari awal dibantu seorang sahabat yang tetap mengulurkan tangan membantu saya berdiri, berdiri dengan kaki saya sendiri kaki yang pernah patah berapa kali dan kaki yang memiliki banyak luka dari bekas goresan jalan kehidupan. Dia adalah orang yang pertama kali menyadarkan bahwa saya adalah orang yang berharga dan berhak mendapat penghargaan untuk tetap bahagia menjalani hidup.

“ Ikatan tali persahabat akan menjadi petunjukmu pulang ”