Melihatmu dari kejauhan adalah salah satu cara, untukku yang tak sanggup menyapa dengan hangat, atau bahkan hanya untuk menatap dari dekat. Benar, aku takut. Aku takut berbicara denganmu, aku takut mendekatimu, aku takut bila nanti kamu tak sepertiku, yang selalu berharap bisa selalu dekat denganmu.

Bukankah cinta harus diperjuangkan? Kenapa kamu tidak berjuang membunuh rasa takutmu? Kenapa kamu harus peduli bagian akhirnya. Kenapa tidak kamu beranikan dirimu. Tentang dia memiliki rasa yang sama atau tidak, itu bisa menjadi urusan belakangan.

Ya benar, semua orang akan berkata begitu. Bahkan aku pun akan berkata begitu. Tapi tentu saja tak semudah itu. Memang benar, cinta bisa membuat seseorang lebih berani, cinta bisa membuatmu melampaui dirimu yang sebelumnya, memberimu kekuatan. Namun tak se-instan itu, butuh waktu. 

Bukan aku tak mau menepis rasa takutku, bukan aku tak mau berjuang untukmu. Aku butuh sedikit waktu.

Untuk saat ini, selagi aku mengumpulkan keberanian untuk mendekatimu biarkan aku mencintaimu dalam diam, melihatmu dari kejauhan, mengagumi diam-diam. 

Advertisement

Melihatmu saja sudah menjadi bahagia untukku. Dalam setiap kesempatan dimana aku dan kamu ada di tempat yang sama, akan ku pastikan aku selalu melihatmu, memerhatikanmu dari jauh, dan menebak-nebak perasaanmu saat itu. Aku akan memastikan keberadaanmu.

Aku akan menjadi orang pertama yang menyadari ketika kamu tidak ada. Dan kamu tahu, saat itu, saat aku tak melihat keberadaanmu, aku aku akan gelisah sendiri. Otakku akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, apakah mungkin kamu sakit? apa sesuatu terjadi padamu? Ingin sekali rasanya saat itu juga aku menghubungimu, menanyakan keberadaanmu. 

Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah mencarimu melalui media sosialmu. Aku akan membuka semua akun media sosialmu, membaca postingan terakhirmu, dan membuat kesimpulan sesuai caraku sendiri. Lalu bagaimana jika aku tak adapat memastikan keberadaanmu melalui cara itu?

Teman-temanmu, ya benar, teman-temanmu. Tentu saja aku tidak akan bertanya langsung pada mereka.

"Eh dia kemana, kok gak keliatan?" Tentu saja tidak, membayangkan tatapan curiga teman-temanmu ketika aku menanyakan itu saja aku tak sanggup.

Lalu bagaimana caranya? "Pasang telinga". Aku akan berada dekat-dekat dengan teman-temanmu, mendengarkan setiap detail pembicaraan mereka, berharap mereka menyingung sedikit kamu.

Jatuh cinta dalam diam itu punya keunikan tersendiri. Kamu akan punya cara yang 'berbeda' untuk mencari tahu sesuatu tentangnya.

Postinganmu di media sosial adalah bacaan wajib setiap hari. Semua informasi pribadimu yang kamu sertakan dalam akunmu sudah aku ingat di luar kepala. Setiap kata yang kamu ucapkan setiap kali kita punya kesempatan bicara, tersimpan dengan rapi dalam ingatan. Baju yang sering kamu pakai, warna favorit, bahkan aroma parfummu, aku tahu. 

Untuk saat ini, selagi aku mengumpulkan keberanianku, biarkan aku menyimpannya sendiri. Biarkan aku mengingatmu sambil tersenyum sendiri, biarkan aku menuliskan namamu dalam buku harianku, biarkan aku menghadirkan bayangmu setiap malam menjelang tidurku.

Aku ingin sekali selalu berada di dekatmu, aku ingin bebicara denganmu, membuatmu merasa nyaman saat kamu bersamaku. Tapi bahkan untuk itu saja, hanya untuk berada di dekatmu, tanpa menunjukkan perasaanku, aku tak mampu. Perasaanku sudah lebih dulu tumbuh, megakar kuat. Dan aku, tak akan sanggup berada di dekatmu dengan menyembunyikan setiap keping perasaan itu. Ketika berada di dekatmu tubuhku kaku, lidahku kelu, aku takut. Aku takut kamu menyadari perasaanku, dan aku takut kamu tak nyaman dengan itu.

Suatu hari aku akan datang kepadamu, bersama kepingan-kepingan perasanku.