Anna

Seperti biasa aku menghabiskan akhir pekanku di beauty house, tempat spa favoritku. Aku butuh relaksasi setelah berkutat dengan perkerjaanku selama seminggu. Ponsel-ku berdering. Kamu mengirimkan pesan singkat melalui whatsapp mengatakan bahwa kamu sudah tiba di Medan dan mengajakku bertemu. Tak berbeda dengan liburan yang kemarin, aku pasti akan melarangmu untuk langsung menemuiku dan memintamu beristirahat lebih dulu.

Namun kamu bukan kamu tanpa otak keras seperti batu yang tak menghiraukan apa yang kukatakan. Aku memberitahumu dimana keberadaanku. Sejam kemudian kamu sudah berdiri di depan beauty house langgananku karena pria dilarang masuk ke dalam, kamu hanya duduk diatas motormu dan menggangguku dengan jutaan pesan singkatmu yang mengatakan bahwa kamu sudah menunggu diluar.

Aku keluar dan menertawakanmu karena semakin hari kulitmu semakin hitam. Seperti biasa kamu akan memasang wajah lucu dengan lelucon bodohmu.

“Kemana kita?” katamu mengakhiri semua kebodohan yang telah berlangsung.

Advertisement

“Gatau, terserah kamu aja” aku menjawab dengan kata favoritku, terserah.

“Ketempat makan biasa?” tawarnya.

“Ah, pilihanmu selalu junk food” ledekku kemudian.

“Atau kita beli sayur organik trus kamu yang masak?” kamu balas meledekku.

Aku tertawa tak lagi memberikan tanggapan, seperti biasa aku selalu kalah jika adu mulut denganmu.

Kita sampai di restoran favoritku, sebenarnya aku tak begitu menyukainya namun ada menu favoritku, ice cream Flurry Oreo maka aku menyukai setiap kita kesini daripada di Chicken Store lainnya yang hanya menyuguhkan Chocolate Sundae sebagai opsi ice creamnya.

Kamu menceritakan banyak hal padaku, bagaimana hari-harimu dipulau yang terbentang jauh dari pulauku. Kamu kembali memunculkan nostalgia akan mimpi-mimpi sewaktu kuliah kemaren, greenhouse atau petani organik. Aku hanya mendengarnya dan tersenyum karena aku tak bisa bercerita semenarik saat kamu bercerita. Ceritamu selalu menarik untuk kudengarkan.

Sampai akhirnya kamu mengubah topik pembahasan kita..

“Aku cuti dua minggu, keluargaku akan menemui keluargamu dalam dua minggu ini” katamu tiba-tiba.

“Aku nggak bisa…” kataku setengah ketakutan, aku menunggu penghakiman darimu.

Kau menatapku bingung..

“Aku serius…” katamu dengan tatapan serius. Aku selalu benci tatapan itu, rasanya seperti sedang diruang sidang hanya aku yang menunggu penghakiman.

“Aku akan pergi dengan temanku dua minggu kedepan dan aku sudah membuat janji lebih dulu dengan mereka” kataku menjelaskan.

“Tapi.. aku sudah mengatakan pada orangtuaku” kau mulai mengeraskan nadamu dan aku mulai merasa tersudut.

“Tapi temanku juga berhak atas waktuku” kataku tak mau kalah.

“Lalu aku? Aku juga menunggu momen cuti dan saat aku datang menghampirimu ke pulaumu ini lalu kau akan pergi ke pulau lain?” katamu dengan nada direndahkan dan sedikit pasrah. Kamu melemas dan tak mengatakan apapun lagi.

Kamu menatap kegelas setengah kosong milikmu, dengan tatapan kosong. Lalu aku menatapmu dengan perasaan bersalah, aku tak tau apa yang harus kuputuskan..

Kamu mengemasi barangmu dan pergi, lalu aku mengikuti dari belakang. Kamu tak mengatakan apapun yang kulihat hanya wajah menyeramkan dengan penuh kekesalan, aku seperti anak kucing yang bingung harus melakukan apa.

Awan gelap menandakan akan turun hujan namun kamu tetap tak peduli, aku kedinginan. Tetes kecil hujan mulai memunculkan dirinya. Dingin semakin mencekam, gelap semakin menyerang dan rasa takut tak mau kehilangan bagiannya untuk membuatku semakin terluka. Kamu membiarkanku kedinginan di bawah hujan meskipun wajahku telah menunjukkan wajah paling memelas, kamu tetap tak peduli.

“Boleh kita berhenti, aku kedinginan” kataku dengan nada pelan dan lembut. Tak ada respon apapun darimu. Kamu memakai jaket tahan air yang biasa kamu gunakan sedangkan aku hanya berbalut kaus lengan pendek yang sudah basah terguyur hujan.

Tubuhku gemetar dan bibirku mulai membiru. Dengan nada tersendat karena kedinginan disertai kedipan mata yang tak karuan karena kepalaku sudah basah seluruhnya aku setengah berteriak “Berhentiii!! Kumohon!”

Kamu menghentikan motormu didepan sebuah toko. Namun kamu belum mengatakan apapun.

“Pergilah Tam Pergi!! Pergi jika kau ingin pergi!!” kataku, air mataku mungkin telah jatuh saat itu namun hujan yang membasahi wajahku menutupi air di sudut mataku, air dengan suhu yang berbeda dengan air hujan rasanya lebih hangat dan tenang.

“Dan aku tak berjanji akan kembali, lalu melanjutkan semuanya denganmu.” Akhirnya kamu berbicara setelah diam cukup lama.

Namun diam yang menusuk tak lebih menyakitkan dari kalimat yang baru saja dilontarkan untukku. Kamu menghidupkan mesin motormu dan meninggalkanku sendirian di gelap malam. Kamu membiarkanku sendirian di gelap malam meskipun tubuhku telah bergetar karena aku takut pada gelap yang mencekam.

Aku berjalan dibawah hujan dengan tersendat-sendat, dipertengahan jalan sendal sepatu yang kugunakan putus. Aku menarik nafasku dan setengah berteriak meluapkan semua kesialanku hari ini. Jalanan itu sepi, hanya ada aku dengan kaki telanjang yang berani melewati jalan setapak tak berpenghuni. Aku tiba di kamar kosku, ku lihat kakiku sudah memar dan biru.