Untukmu yang telah memberikan warna baru dalam hidupku. Janganlah marah membaca tulisan ini, karena aku tak berniat membuatmu malu. Aku hanya ingin kau tahu, bagaimana kerasnya usahaku untuk memaafkanmu, untuk tetap bisa bersamamu.

Karena tak ada manusia yang sempurna, begitupun kau dan aku. Kita berdua memiliki banyak kesalahan, kita juga selalu berjanji untuk memperbaiki diri. Tapi mengapa kau masih saja mengulangi kesalahan yang sama? Kemana perginya janji-janjimu untuk memperbaiki diri? Pada akhirnya aku yang hanya bisa menangis mempertanyakan semua janjimu untuk berubah, akan selalu memaafkan kesalahanmu. Tapi kenapa disaat aku memaafkanmu, kau malah berkata bahwa seharusnya aku yang bisa memahami keadaanmu. Keadaan yang menjadi alasanmu untuk melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.

Seingatku, Tuhan tak akan pernah menempatkan kita pada keadaan yang mengharuskan kita berbuat salah. Bukankah dalam setiap kesulitan selalu ada jalan keluar?

Meskipun kau terjebak dalam ruang kosong tak berpintu, bukankah kau bisa hancurkan dinding di sekelilingmu untuk dapat keluar? Lalu apa maksud permintaanmu untuk aku bisa selalu memahami keadaan yang membuatmu melakukan kesalahan yang sama? Lalu apa artinya kata maaf dan janjimu untuk tidak akan mengulanginya lagi?

Aku sadar kesalahan yang kulakukan juga tak kalah banyak. Tapi apakah aku pernah mengulanginya hingga berkali-kali? Tidak. Karena aku telah meminta maaf dan berjanji padamu untuk tak mengulangi kesalahan yang sama. Karena aku menghargai kehadiranmu dan berusaha untuk menjaga janjiku. Aku tahu bahwa kita butuh niat dan usaha yang besar untuk dapat memperbaiki kesalahan kita dan tak mengulanginya. Hal itulah yang kulakukan, berusaha untuk memperbaiki diri agar bisa terhindar dari pertengkaran yang hanya akan menghancurkan kita.

Advertisement

Tapi kenapa hanya aku saja yang berusaha memperbaiki diri? Kenapa hanya aku saja yang mencoba menjaga janjiku padamu?

Aku bahkan telah menyiapkan ribuan kata maaf untukmu yang suatu saat akan berbuat salah lagi. Tapi pantaskah aku memberikan maafku pada kesalahanmu yang berulang? Jika kau membaca pertanyaan ini, kau pasti akan berkata bahwa aku adalah sosok perempuan pemarah dan pendendam yang tak bisa memafkan kesalahan orang lain.

Apakah kau tak mengerti bagaimana perasaanku yang harus dikecewakan olehmu dengan kesalahan yang sama? Tak ingatkah dirimu berapa banyak maaf yang telah kuberikan untukmu?

Semua maaf yang telah kuberikan padamu adalah usahaku untuk memberimu kesempatan baru. Segala cara yang telah kulakukan untuk memahami semua alasan di balik kesalahanmu, adalah usahaku untuk tetap bisa ada di sampingmu. Selalu ada ketulusan hati yang kuberikan, untuk percaya janjimu menjadi lebih baik. Meski kenyataannya semua kesempatan itu kau nodai lagi dengan kesalahan yang sama, dan semua janji itu hilang begitu saja.

Pada akhirnya, akan selalu ada kesempatan baru yang kuberikan untukmu untuk memperbaiki diri. Akan selalu ada kata maaf untukmu, dan akan selalu ada hati yang percaya pada semua janjimu. Untukmu yang tak mungkin bisa kutinggalkan, tolong hargailah usahaku untuk selalu bisa menerima alasanmu. Meski akan selalu ada maaf untukmu, tapi bukan berarti kau boleh melakukan kesalahan yang sama.

Jangan kau kira maaf yang kuberikan dengan mudahnya untukmu, keluar begitu saja dari mulutku. Karena sesungguhnya dibalik semua maaf untukmu, ada rasa sakit yang kucoba singkirkan demi bisa terus bersamamu.