Hari ini aku berhenti. Terus menceritakanmu pada temanku, itu membuatku jengah, juga dengannya pasti. Tapi aku tidak berhenti satu hal, aku terus menceritakanmu pada dia yang tak pernah tidur, dia yang terus mendengar eluhan namamu dalam doaku.

00.00 yang kelabu.. ternyata melepasmu tak semudah aku melepas genggamanmu. Oke mungkin aku telah melepasmu, sekasat mata yang orang liat, kita sekarang tak lagi bertegur sapa. Tapi bagaimana dengan hatiku?

Seperti kata temanku, jika aku adalah Cafe tempatmu mencari kesenangan maka dia adalah rumah untukmu. Namun bagaimana mungkin kamu memilih membawa ibumu masuk dalam cafe yang tidak akan memberikan kenyamanan untukmu? Entah apa yang membuat kita terus melangkah jauh, berusaha merubah sebuah cafe menjadi sebuah rumah yang mungkin bisa memberikan kenyamanan untukmu dengan teduhnya kesabaran. Dan tidak berhasil dan aku menyerah.

Segalau ini, serapuh ini.. jika aku tau, mungkin tak akan kucoba untuk terus bermain yang kini menjadi bumerang untukku sendiri, juga untukmu.

Selamat datang 2016-ku.. yang ku awali dengan tetesan airmata yang mungkin akan berubah jadi tangis bahagia. Bersemangatlah di tahun ini karna entah kebahagiaan apa yang menanti.

Advertisement

DPA