Ah, apalah mau dikata. Jika rasa tak kunjung menemui senja, hanya terka dan bayangan semu belaka. Bisa saja rasa itu sirna, tanpa ada pencerahan sebelum atau setelah terbaca. Hanya berbungkus sendu, berujung mengharu biru, atau membuat isi hati saling beradu. Oh pilu, layanknya tumis kacang tanpa bumbu.

Yang dia tahu hanya durjana, tak pernah peduli rasa di sekitarnya. Entah dia buta, atau memang hanya menerka-nerka. Lalu, apa yang mau diterka? Jika kenyataan memang seadanya. Tanpa embel dusta yang hanya berbuah nestapa.

Kemudian, bagaimana dengan titik-titik rindu? Seiring bergantinya hari, ia semakin menggebu, tanpa belenggu, namun tak ada yang terpaku. Ia hanya akan tertahan tanpa rintihan, hanya tergambar lewat simpul senyuman. Ah, seringkali terbaca seperti kebohongan. Kadang dilihat hanya sebagai rayuan.

Begitulah perasaan. Ia hanya tersimpan, sebelum berani terungkapkan. Sering berbuah gentar, dan bahkan bisa pudar. Wahai para empunya perasaan. Selamat malam, dan selamat menikmati keBAPERan.