Malam yang hening. Angin semilir menyampu wajahku lembut. Hitamnya langit dan kemilaunya bintang mengingatkanku dengan malam itu. Malam saat aku berlari-lari keluar rumah usai menyelesaikan tugas sekolah. Ya tugas sekolah. Betapa aku selalu ingat. Kami bertiga, aku dan para kakak laki-lakiku, duduk berjejer di ruang tamu mengerjakan PR kami masing-masing dengan diawasi oleh bapak. Ya, ruang tamu. Kami tidak memiliki meja belajar. Rumah kami kecil, hanya ada ruang tamu, ruang tengah yang multifungsi, dan ruang belakang yang berfungsi sebagai kamar mandi, dapur, dan satu kamar kecil. Ruang tamu selalu kami jadikan ruang belajar di malam hari.

Usai salat magrib dan mengaji, bapak selalu mengecek tas sekolah kami satu per satu. Mengecek tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah (PR). Usai mengecek, lantas aku dan kakak-kakakku menuju ruang tamu. Tentu, tak mungkin tak ada PR.

Aku dan kakak-kakakku selalu berkompetisi, siapa yang menyelesaikan PR terlebih dahulu. Dan bapak mengecek pekerjaan kami satu per satu dengan teliti. Kalau ada kesalahan, kami harus menahan diri untuk bermain dan memperbaiki kesalahan kami saat itu juga. Jika pekerjaan kami telah benar semua, bapak mengizinkan kami bermain di luar.

Aku bergegas menyelesaikan PR-ku. Aku tak sabar ingin keluar rumah dan bermain dengan teman-teman. Dan aku berhasil menyelesaikan PR-ku dengan benar semua. Aku berlari riang keluar rumah, bergabung dengan teman-teman yang telah menunggu di luar. Kami bermain galaksin hingga aku berhenti sejenak karena mendengar suara kentongan. Itu dia. Itu yang aku tunggu-tunggu. Lantas aku berlari mencari sumber suara. Nah.. itu dia. Akhirnya datang juga. Tukang bakso yang aku tunggu-tunggu. Aku memesan semangkuk bakso dan menunggu dengan tidak sabar. Abang tukang baso meracik bumbu dan bahan-bahan pelengkap masakan bakso. Lalu, kuah bakso dituang ke dalamnya. Aroma kuah bakso menyeruak masuk ke dalam lubang hidungku. Emm.. wangi. Kusodorkan uang yang telah kusiapkan di dalam kantong ke abang tukang bakso lalu kuambil mangkuk berisi bakso dan mie yang siap untuk disantap.

Dengan hati-hati, aku membawa semangkuk bakso ke rumah. Kuperhatikan langkahku. Aku membatin, "angan sampai tumpah. Jangan sampai tumpah". Kuulangi perkataan itu untuk ditujukan pada diriku sendiri. Aku telah berdiri di depan rumah. Dengan hati-hati, aku membuka pintu. Itu dia. Bapak masih duduk di ruang tamu. Matanya terpenjam mendengarkan lagu "Kalau bulan bisa ngomong". Ya. Bapak sangat suka lagu itu dan lagu-lagu sejenisnya. Aku juga suka. Entah karena jenis musiknya, liriknya, atau hanya sekadar sering mendengarkannya hingga tanpa sadar aku menyukainya. Aku mendendangkan sebuah lagu. Bukan lagu "Kalau bulan bisa ngomong" melainkan lagu "Selamat ulang tahun". Aku tinggikan suaraku untuk melawan suara dari kaset yang diputar bapak. sambil membawa semangkuk bakso, aku bernyanyi mendekati bapak.

Advertisement

Happy birthday to you

Happy birthday

Happy birthday

Happy birthday

Happy birthday to you

Bapak terkejut. Spontan dia menyecilkan volume musik yang sedang didengarkannya. Dia tersenyum. Tersenyum malu melihat aku yang mendekatinya dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil membawa semangkuk bakso. Aku menyerahkan mangkuk bakso kepadanya. Masih sambil tersenyum dan tersipu malu, bapak menerimanya. Dia meletakkan mangkuk berisi bakso di meja. Dipeluknya aku dan membisikan kata "terima kasih" di telingaku lalu mengecup keningku. Aku pun tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya. Lalu, kuucapkan kata "sama-sama" kepadanya. Aku pergi keluar, bermain lagi dengan teman-teman. Kutinggalkan bapak seorang diri di ruang tamu dengan mangkuk bakso yang diletakan di atas meja.

Setelah menimbang waktu yang telah berlalu, aku kembali ke rumah. Kulihat bapak di ruang tamu. Bapak telah melahap habis bakso yang kuberikan kepadanya. Aku harus mengembalikan mangkuk itu ke abang tukang bakso. Kasian abang tukang bakso menunggu lama. Aku ambil mangkuk kosong di depan bapak dan berlari keluar rumah. Berlari menuju abang tukang bakso yang telah lama menunggu. Kuucapkan terima kasih kepada abang tukang bakso dan kembali berlari menuju rumah untuk menemui bapakku.

Dia masih di ruang tamu. Aku bertanya seraya mendekatinya dan duduk di sampinya, "enak gak baksonya, Pak?" Aku ingin tahu rasanya. Uangku tak cukup untuk membeli semangkuk lagi untukku. Dengan santai, bapak mulai berkomentar, "Biasa aja. Malah kebanyakan merica". Jujur, aku kecewa karena bakso yang aku beli tidak memenuhi standar selera bapak. Tetiba, bapak mengusap kepalaku dan berkata, "tapi tetap enak kok karena utri yang beliin. Makasih ya?". Seperti dapat membaca isi kepalaku, bapak menenangkanku dengan kata-kata manis. Aku menyengir mendengar kata-katanya dan menunjukkan deretan gigi susu yang renggang. Lalu, kuanggukan kepala sebagai balasan atas ucapannya.

Waktu telah lama bergulir sejak peristiwa itu terjadi. Aku memang tidak ingat tahun berapa peristiwa itu terjadi. Namun, 15 tahun lebih peristiwa itu berlalu. Aku tidak akan pernah lupa kenangan indah saat kau berada di tengah-tengah kami. Tiga hari lagi adalah tanggal kematianmu. 21 Oktober 2002. Tanggal yang sangat kuingat. Tanggal yang memisahkan bapak dengan aku, kakak-kakakku, dan ibu. Kini, tidak hanya tanggal kelahiranmu yang aku ingat tetapi juga tanggal kematianmu. Walau begitu, aku yakin bapak masih akan terus ada. Di dalam hati kami masing-masing, anak-anakmu dan juga istrimu.