Haii, aku tidak tahu kapan kau akan baca tulisan ini. Yang pasti tulisan ini aku buat saat ku teringat bahwa hari ulang tahunmu jatuh tepat di 59 hari dari sekarang.

Aku tahu, menurutmu saling memberi kado dihari ulang tahun keluarga adalah hal yang wajib. Walaupun aku bukan bagian dari keluargamu aku harap hubungan ini akan membawa aku menjadi bagian dari keluargamu kelak. Namun maaf jika aku tidak bisa memberikan kado disetiap hari ulang tahun anggota keluarga nantinya. Seperti sekarang, aku belum mempersiapkan kado apapun untukmu. Memang masih sekitar dua bulan lagi, tapi waktu itu akan terasa cepat karena kesibukan aku sebagai karyawan swasta. Kau tahu lah bagaimana pekerjaanku.

Sekarang aku punya sedikit waktu luang, namun aku lagi-lagi belum kepikiran ingin memberikan apa untukmu. Jadi lebih baik aku pakai waktuku ini untuk menuliskan apa yang kurasakan kepadamu selama ini. Mungkin bisa jadi tulisan yang menarik untuk hadiah ulang tahunmu.

Aku selalu menekankan pada diriku bahwa kesempatan yang kau berikan padaku untuk bersama ini adalah kesempatan ketiga, bukan kedua. Kebanyakan orang disana mengatakan bahwa sangat sulit mendapatkan kesempatan kedua apalagi ketiga sepertiku. Karena itu aku merasa beruntung. Kesempatan kedua kau berikan beberapa bulan setelah 27 Desember 2010 (saat aku memutuskanmu tanpa alasan yang jelas). Selang beberapa bulan kau kembali meminta kita untuk bersama tapi bodohnya aku malah menolakmu. Padahal aku tahu rasa sayang yang tulus yang kau berikan tidak pernah berubah hingga sekarang.

Lalu lima tahun berjalan aku tidak berusaha melupakanmu dan tidak juga mengingatmu. Aku berusaha untuk menjalankan hidupku seperti biasa. Aku yang berada di Solo kembali menata waktu untuk kegiatan kuliah dan bermain bersama teman-temen baruku. Kesibukan masa kuliah membuatku banyak bertemu orang, termasuk lelaki yang menarik untukku. Tapi entah kenapa hatiku masih menunggumu kembali. Masa penantian itu berjalan hingga 3 tahun. Sampai akhirnya aku menyerah dan kembali membuka hati untuk yang lain. Tapi sayang, pilihanku saat itu tidak tepat. Hubunganku saat itu tidak lebih baik dari hubungan kita. Namun bedanya kini aku yang diputuskan bukan aku yang memutuskan. Akhirnya aku merasakan apa yang kau rasakan. Patah hati, sampai tak ada semangat untuk beraktivitas, bahkan makan saja tak nafsu.

Advertisement

Entah setan apa yang mendorongku untuk mengajakmu bertemu setelah aku kembali ke Tangerang. Memang sebelumnya kita saling tanya kabar beberapa kali, namun seingatku kau belum pernah mengajakku bertemu. Aku rasa ada beberapa hal yang perlu ku ceritakan kepadamu. Jadi ku beranikan untuk mengajakmu bertemu.

Awalnya pertemuan pertama setelah sekitar 5 tahun memang terasa dingin. Namun, akhirnya menurutku terasa menyenangkan. Hubungan kita semakin dekat. Kita mulai saling membicarakan apa keinginan kita masing-masing untuk masa depan bersama. Aku bahagia, sangat bahagia.

Aku berdoa bahwa perasan ini tidak hanya bertahan beberapa bulan atau beberapa tahun. Aku harap perasaan bahagia saat bersamamu ini terasa seumur hidupku. Makasih ya kamu udah buat aku merasa beruntung dengan kesempatan ketiga yang kau berikan