Farid Nabil Elsyarif, biasa kupanggil Farid. Selamat ulang tahun ke-14 ya Nak. Pada 3 Januari 2002 di Kamis Wage, 18 Syawal 1422 H, nama itu kusematkan di raga dan  jiwamu sebagai simbol makna “kehadiran permata yang istimewa dan mulia, buah cinta dua insan manusia”.

Di hari ulang tahunmu Nak.

Abi hanya bisa berkirim doa dan nasehat. Dengan sedikit pelukan cinta. Hari ini Abi terbangun lebih cepat, mengiringi mentari pagi yang penuh berkah untuk mengingatkanmu. Bahwa tujuan hidup sejatimu adalah kamu mampu menggapai tempat terhormat saat hidup di akhirat kelak, ketika kehidupan dunia ini sudah berakhir. Renungkanlah itu, Nak…

Selamat ulang tahun Nak, semoga kamu selalu sehat, rajin ibadah, dan rajin belajar.

Abi dan Ibu tak bisa memberimu “hadiah” kecuali nasehat yang sesekali nanti, di usia dewasamu, dapat kamu baca berulang-ulang. Bukan hanya untuk kenangan, tapi bisa menjadi “bacaan reflektif’ tentang kamu sendiri.

Advertisement

Saat Abi tuliskan ini, Farid berusia 14 tahun, siswa kelas 3 1 MTsN 32 Jakarta. Kamu masih ingat Nak, kita pernah menulis buku bersama (Abi, Farid, dan Kakak Fahmi) yang berjudul “Surti Tak Mau Gelap Mata”, terbit pada 2014 lalu. Di situ banyak pesan dan pelajaran hidup untuk kita bersama.

Selamat ulang tahun, Nak.

Dulu sewaktu kamu masih bayi. Abi selama 40 hari pas selalu melantunkan ayat suci Al Quran di telingamu, kadang saat Ibu menyusuimu. Sesekali Abi menggendongmu sambil  menyanyikan lagu “khas kita”, yang isinya doa. Bagi Abi dulu, tiap tetes pipis bayi Farid adalah penghapus lelah raga dan kepenatan jiwa … Ya Allah, lindungilah kami dari setan dan gangguannya terhadap apa yang telah Engkau karuniakan kepada kami.

 

Kini, izinkan Abi bernasehat kepadamu Nak. Di hari ulang tahunmu ke-14, Abi tak akan memberikanmu 3 hal ini:

1. Tak akan memberikanmu HARTA, karena ia hanya alat untuk ke akhirat.

2. Tak akan memberikanmu TAHTA, karena ia hanya jembatan untuk ke akhirat.

3. Tak akan memberikanmu MAHKOTA, karena ia hanya selimut ke akhirat.

 

Abi hanya bisa memberikanmu nasehat, pesan untukmu.

Agar kamu bisa menjadi manusia tegar dan kuat dalam hidup yang sementara ini.

Dalam hidupmu kini dan hari esok, jadilah pejuang bukan pengecut. Jadilah pemenang bukan pecundang. Karena dunia ini sudah cukup penuh sesak dengan pengecut dan pecundang kehidupan.

Nak,

Jadilah pemaaf bukan pendendam. Karena samudera maaf kini sudah mulai dangkal dikikis oleh kesombongan.

 

Nak ketahuilah,

Hidup di dunia itu sementara saja, tapi hawanya panas. Maka tetaplah eling karena waktu berlalu begitu cepat dan tak mungkin kembali lagi.

Hidup di dunia itu semu, tapi aromanya menggelegar. Maka tetaplah waspada karena bujuk rayunya yang memabukkan.

Tetaplah menjadi orang yang kuat, tapi gak usah jadi orang angkuh

Tetaplah menjadi orang yang sabar, tapi gak usah jadi orang tak berdaya.

Tetaplah menjadi orang ikhlas, tapi tetap menjunjung tinggi martabat dan harga diri

Tetaplah pasrah pada kehendak Allah, tapi tetap terus ikhtiar untuk hidupmu

Abi dan Ibu akan terus menemanimu, mendoakanmu agar menjadi anak soleh.

Kuburlah kisah masa lalu kita, dan tanamilah hidup dengan benih kebaikan dan kebenaran.

Jujur Nak, Abi bangga padamu.

Karena kamu punya modal yang luar biasa, menurut Abi. Kamu punya pendirian kuat, ketekunan dalam mengejar tujuan tanpa ragu. Kamu sangat kaya dalam kebijakan dan ramah. Kamu sangat praktis, sabar, dan humoris hingga bisa menggapai ambisimu. Farid itu figur yang menarik dan bersemangat dalam mencapai cita-cita. Masa depanmu akan cerah karena kamu berbudi luhur dan punya wibawa. Dan berhati-hatilah dalam hidup, jangan takabur, jangan terlalu kaku serta berpikirlah yang panjang. Ingat Nak, jadilah anak yang rajin dalam ber-ikhtiar.

Sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara, kamu di tengah. Apa artinya itu Nak ?

Farid harus berani bilang “tidak” untuk yang salah dan “ya” untuk yang benar. Kamu akan menjadi “tempat curhat” kakak maupun adik. Karenanya, kamu harus melindungi martabat rumahmu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun Nak.

Abi ingin sekali menggendongmu di saat ini. Tapi biarlah “gendongan nasehat” ini yang bisa kita lakukan bersama. Hingga kamu tertidur nanti, dari lelahnya kehidupa dunia.

Nak, kamu tahu ..

 

Kegagalan itu pasti. Keberhasilan juga pasti. Semua tergantung padamu,seberapa kuat bertahan dan bersabar. Karena setiap cerita selalu punya akhir. Dan akhir dari kehidupan adalah awal di akhirat nanti. Tetaplah istiqomah dalam kebaikan Nak. Rajin ibadah, rajin belajar.

Maka Abi dan Ibu pun selalu tersenyum untukmu …. #SelamatUlangTahunFarid