Tahu nggak sih apa yang bikin kita terus maju dalam mengoptimalkan kapasitas dan potensi diri kita? Yup, benar jawabannya adalah kritik. Setiap kita pasti sudah pernah merasakan kritik dan teguran. Entah itu kritik yang membangun atau bahkan yang menjatuhkan. Ada orang yang mudah menerima kritik dengan senyum dan berlapang dada, ada orang yang jika di beri kritik justru marah dan kecewa malah balik membenci dan tidak suka pada orang yang memberi kritik.

Inilah hidup, inilah proses. Setiap kita diharapkan selalu menghargai proses dalam pencapaian visi, karena proses dapat mempengaruhi dan membentuk karakter serta mental yang menentukan hasil akhir. Positifnya, bila kita ingin naik ke titian anak tangga selanjutnya untuk level yang lebih baik, kita harus menjadikan kritik sebagai cambuk dan pecut agar mental semakin tangguh dan gigih meraih hasil yang baik.

Tenang saja, banyak orang yang mendukung kita bila kita punya niat baik. Bilapun ada segelintir orang yang tidak menyukai kita, anggap saja mereka adalah petugas pemerhati yang ditugaskan Tuhan agar kita tetap mawas diri dan bersyukur, untuk mengingatkan bahwa ketika kita berada diatas harus tetap melihat tanah tempat kita berpijak. Mereka yang mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan tidak lupa diri. Tutup telinga untuk cibiran jelek, lebarkan hati dan ambil nilai positif dari setiap kritikan mereka.

Ada pesan baik yang disampaikan sahabat saya saat saya kuliah dulu, hal ini yang saya selalu ingat dari dia : "Menegur jangan sampai menghina, mendidik jangan sampai memaki, meminta jangan sampai memaksa, memberi jangan sampai mengungkit".

Bicara tentang prinsip, integritas, kejujuran dan harga diri, saya punya standar dan takaran sendiri. Saya tidak malu menjadi orang idealis atau diejek miskin materi. Saya hanya akan mengabaikan omongan miring nggak penting yang nggak mutu seperti itu. Paling hanya akan saya tanggapi dengan senyuman. Iya, senyuman dan anggukan untuk meyakinkan orang tersebut bahwa saya tidak marah dengan ucapannya. Nilainya seperti ini : Orang tua saya mengajarkan kejujuran, integritas, dan sebisa mungkin menjaga nama baik. Mereka membentuk saya menjadi pribadi yang tidak mau kalah dalam artian tidak cepat menyerah, positif thinking dan membentuk saya untuk mandiri dan berwawasan luas.

Advertisement

Tentang idealis, itu yang membedakan saya dengan orang-orang dunia yang seringkali plintat-plintut dan cenderung mengikuti buaian sepoi angin yang salah. Saya memilih on the track. berdiri dan menapakkan kaki di jalan yang benar. Next tentang kaya atau miskin ,,,saya percaya rejeki dan kesuksesan ada ditangan Tuhan. Absolutely yes!, and then soal pendidikan tinggi dan ijasah tinggi namun tanpa kekayaan materi yang melimpah, tidak membuat para cendikiawan miskin dan mati kekurangan makan kan?

Seorang yang berpendidikan tentu punya pola pikir dan daya juang atau survive hidup yang baik pula. Tapi bukan berarti ijasah itu sia-sia dan gak berguna. Untuk mereka yang suka memandang sebelah mata potensi dan bakat seseorang mereka sih saya anggap orang-orang yang takut terdepak eksistensinya, takut tersaingi, takut disikut dan didepak posisinya. Positifnya, jadikan ucapan mereka sebagai cambuk untuk meningkatkan kapasitas dan potensi diri lebih maksimal lagi. kita tidak pernah tahu masa depan kita seperti apa. Kita yang memilih dan melakoninya. Tuhan yang merencanakan dan menggenapi janji-Nya. tetaplah bersyukur. Whatever they say, stay be a good person! Hagai dirimu sendiri, karena kita bernilai di mata Tuhan.

Hati-hati melemparkan kritik, dan positifah untuk sebuah kritik! Karena kita sama-sama hidup untuk saling membangun dan memerbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tidak pernah ada yang sia-sia bila kita berusaha dan melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati. Karena proses, membuat kita tangguh. "Ditolak itu hal biasa, jatuh itu belajar, berdiri setelah jatuh itu membuat kita lebih kuat."

Be positif and stay strong.