Seperti halnya kau, aku pun telah punya banyak cerita yang ingin kubagi. Sebagian di antaranya melibatkan dirimu dan aku sebagai tokoh utama. Nah, mari, kita duduk bercengkrama dan membagi segalanya, termasuk hati kita.

Di suatu senja, bersama debur ombak dan nyanyian angin di pucuk daun-daun nyiur. Aku menatapmu tanpa kata. Kamu menatapku tak berbicara. Duduk berjauhan mencipta jarak, dan suasana mendadak terasa amat beku. Kualihkan pandang, enggan melanjutkan komunikasi tanpa suara. Aku marah. Kau tahu aku marah, tapi terus diam saja.

Matahari terbenam semakin lesap, mencipta warna saga yang entah kenapa membangkitkan kembali rasa jengkelku. Bukankah kita pernah berbagi tentang banyak hal? Tertawa dan menangis bersama seperti hatiku adalah milikmu dan kau pun sebaliknya; tapi kenapa? Kenapa hari ini mendadak semua tak lagi ada bekasnya?

Langkah kaki kita telah lama dijilat ombak, dihapus pelan-pelan dari ingatan masing-masing. Barangkali semua tentangmu telah kulumat, kulindas mati-matian dan kubuang jauh dari memori. Lantas kuharap, laut di depan kita menjadi kian kuat arusnya dan menelanmu jauh bersamanya….

Ah!

Advertisement

Aku menatapmu lagi. Rupanya, sedari tadi kau tak pernah mengalihkan pandang – terus menatapku. Ribuan kata maaf tampak kau susun susah-payah dari tatapanmu. Aku menghela napas panjang.

Bukankah kita telah membuat kenangan hingga ratusan kali? Bukankah kita menjadi sama-sama lupa, telah seberapa banyak cerita yang kita cipta bersama? Lantas, kenapa dengan satu kesalahan kecil aku tak bisa memaafkanmu?

Aku mencoba tersenyum. Kau tampak terkejut dan kesulitan mengartikan senyumanku. Tapi, satu kata itu akhirnya terlontar meski patah-patah. Maaf.

Aku mengedik, “Aku masih marah karena kemarin kau ingkar janji dan membuatku menunggu kedatanganmu tanpa kepastian. Jangan harap aku memaafkanmu semudah itu.”

“Lantas…?” katamu pelan, “Aku harus bagaimana supaya kamu memaafkanku?”

Aku menahan tawa. Polos dan berhati malaikat. Kau tidak pernah berubah.

“Traktir aku es krim”

“Eh, apa?”

“Atau aku tidak akan memaafkanmu.”

Angin berkesiur lebih lembut. Kau tersenyum, berdiri dan berjalan menghampiri. Mengulurkan tangan, “Ayo.”

Aku menyambutnya dengan senang hati.

Tepat ketika matahari terbenam purna, kita telah kembali sama-sama tertawa. Ah, bukankah persahabatan terasa begitu indah…?

(8 April 2016)

Hei. Masih ingat aku? 🙂