Andai kamu tahu, menjadi aku tak semahir yang kamu pikir. Aku harus bertarung dengan detik-detik yang melukiskan wajahmu di kanvas langit sore. Setiap waktu, semenjak kau beranjak–membiarkanku masuk terperangkap ke dalam ruang pengacuhanmu. Hari ini aku berhenti sejenak, tepat di bibir pantai utara. Satu tempat yang tak pernah dusta bahwa kita pernah meluncurkan senyum bahagia. Ditemani debur serta suara ombak yang seolah ingin menghibur.

Menjadi bagian yang teracuh memang tidak mudah. Namun dengannya akan menuntunku pada istana dewasa.

Berbisik pada ribuan pasir putih yang tak pernah berisik. Menanyakan kepada mereka, apakah aku sedang benar-benar bermimpi atau tidak saat kabar darimu benar-benar senyap? Kuayunkan lengan lalu kututup kedua bola mata, berharap setelahnya ilusi tentangmu tidak lagi merajai. Namun saat kuakhiri pejam, aku masih menemukan wajahmu di antara cahaya kecil yang hampir terbenam, di antara nila dan magenta yang saling berpadu mesra.

Aku melihatmu, pandangmu seakan-akan mengarah kepadaku. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus membalas senyumanmu? Sementara belakangan hatiku terseduh air ketidakjujuran. Ah mengapa demikian? Apakah aku masih kecewa? Dan mengapa rasa ingin memilikimu jauh meluas dari pada setitik perih yang pernah hinggap.

Bagaimana pun kecewa yang mendera, akan memudar seiring cinta yang bermuara pada sebuah ketulusan.

Advertisement

Ini kali ketidakpahamanku berbicara, apa aku benar-benar takut kehilanganmu? Tapi, bukankah kita hanya dua mahluk yang bertamu di lembah perbedaan. Atau apakah aku benar-benar sudah memutuskan untuk jatuh-sejatuhnya di angkuh hatimu? Entah, kurasa hanya hati yang berhak tahu bagaimana aku harus bersikap.

Begitu barangkali, aku dan kamu membutuhkan satu ruang. Satu waktu yang menghantarkan kita pada jeda. Untuk saling menegur sepi, dan membiarkan rindu tumbuh dengan baik.

Jika waktu tidak keberatan aku hanya ingin seperti ini, menatapmu hening dari bukit-bukit kecil tempat tengadah.

Mengakrabi rindu yang belum berhak terjamah pertemuan. Tak apa bila sepi menertawai, atau curah hujan yang coba memukul ingatan berulangkali. Karena akhirnya, pada lampiran lidah akan kusemai sehelai kata syukur.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada masing di bilik-bilik sunyi, menerapi hati dengan selalu meminta solusi pada sang Penata Hati. Sementara, diam dan doa akan menjadi terapi sederhanaku untuk menjagamu dari kejauhan.