Hai kamu, pemeran utama baru dalam ceritaku, duduk di sampingku sebentar ya, perempuanmu ini sedang ingin bercerita. Aku harap kamu tidak keberatan untuk mendengarnya. Semoga kamu juga tidak risih jika aku menatapmu lekat dan sesekali merajuk manja.

Lelakiku, dengarlah ini

Ku ucapkan terimakasih untuk kehadiranmu saat ini. Kamu membuatku kembali percaya setelah sempat merasa hati ini tidak akan bisa lagi terisi. Aku berharap perjuangan kita tidak akan selesai hanya sampai di sini. Masih ada banyak tantangan yang harus kita hadapi setiap hari, juga ada mimpi-mimpi yang sangat layak kita miliki. Mulai hari ini, maukah kamu berjuang lebih keras lagi?

Aku tidak menjanjikan hubungan yang akan selalu bahagia, realistis saja, sesekali kita pasti akan berdebat karena pemikiran yang berbeda. Bagaimanapun juga kita adalah dua kepala yang dibentuk dengan cara berbeda, dengan prinsip yang mungkin tak serupa, tidak mungkin segala sesuatu tentang kita semuanya akan sama. Aku tidak bisa menjamin akan menjadi yang terbaik dari semua yang pernah kamu punya, tapi aku berjanji akan memberi versi terbaik dari diriku yang terus ku benahi semampunya. Perjuangan kita tidak akan selalu mudah, sesekali mungkin kita akan melewati trek terjal berliku dan banyak batu, tapi apapun keadaannya nanti, kupastikan aku akan selalu ada. Ku janjikan pendampingan yang tidak akan ada habisnya.

Kamu tentu tahu, sebelum ini aku pernah melewati beberapa hati yang ternyata pandai menyakiti. Aku pernah menghabiskan waktu bersama dia yang membuatku sangat percaya namun kemudian mengkhianati. Aku pernah menjadi sangat ahli menghapus air mata sendiri, melewati banyak malam sepi sambil merutuki diri, dan sesekali bertanya-tanya apakah aku tidak cukup layak untuk dicintai?

Advertisement

Aku butuh banyak waktu untuk sembuh dari luka itu, terus menyibukkan diri hingga menjadi pribadi yang baru. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukanku denganmu, yang sangat sabar mengetuk hati dan membuatku kembali membuka pintu. Semoga kamu bukanlah orang yang datang untuk kemudian pergi meninggalkan lebam biru. Bagaimana pun juga saat ini aku percaya untuk menitipkan hati padamu.

Aku jelas tahu, sebelum ini kamu pun pernah mencicipi nyerinya patah hati. Kamu mungkin akan menutupi, tapi aku sudah mendengar bahwa kamu pernah berjuang dengan hebat hingga akhirnya harus berhenti. Kamu pernah terluka, diriku apa lagi, mungkin saja itu akan membuat kita menjadi pasangan yang saling melengkapi. Kita sama-sama pernah merasakan betapa sulitnya mencari, maka setelah ini aku berharap tidak ada satu pun dari kita yang berniat untuk pergi.

Dari semua cerita yang telah habis kulakoni perannya, aku belajar bahwa dalam sebuah ikatan kita tidak bisa hanya berjuang sendirian. Seperti karet yang ditarik kedua ujungnya, jika salah satu melepaskan, maka pihak lain pasti akan kesakitan. Aku tidak lagi menginginkan hubungan yang semacam itu, yang terus mengabaikan rasa sakit karena sering tersapu rasa nyaman. Atau karena dulu sudah terlanjur mengembang biakkan harapan hingga rela bertahan pada dia yang tidak memberi penghormatan.

Kamu, aku lihat kamu adalah pribadi berbeda dari mereka yang pernah kusinggahi sebelumnya. Bukan bermaksud membandingkan, aku hanya berusaha untuk tetap logis walau sedang jatuh cinta. Ada rasa nyaman yang berbeda sejak kamu datang menawarkan rasa. Entahlah, berada di dekatmu rasanya seperti sedang berada di rumah saja. Tenang, aman, bisa melakukan apa pun yang kusuka, hingga tak canggung menunjukkan diriku yang sebenar-benarnya.

Bersamamu, aku tidak hanya merasa cukup dicinta, tapi juga diterima tanpa syarat apa-apa. Denganmu aku merasa semua mimpi dan harapan kita terasa sangat masuk akal untuk dikejar bersama. Aku dan kamu sadar betul bahwa kita tidak bisa menjadi manusia yang hanya mau enaknya saja, dunia tidak seramah itu persaingannya. Kamu mendukung penuh perjuanganku untuk mengejar cita-cita, kamu juga tidak pernah letih untuk bekerja sama kerasnya.

Kita sadar, dengan level hubungan kita sekarang, kita tidak hanya cukup dengan sekedar rasa hangat di dada. Ada jauh lebih banyak daftar kebutuhan yang menunggu di depan sana. Jika sudah serumah nanti, perkara besarnya KPR dan cicilan kendaraan akan jauh lebih memusingkan kepala, harga susu dan popok juga akan memaksa kita untuk jauh lebih keras bekerja. Jika sudah begitu, apa masih ada waktu bagiku untuk merengek hanya karena kamu tidak bisa menemani belanja saja? Aaahh… rasanya tidak perlu, pendampinganmu untukku tidak pernah sesederhana itu.

Di ujung hari, kamu selalu menjadi penawar lelah yang paling mempan. Kita tidak selalu harus duduk berdampingan, sedang berjauhan pun tidak pernah membuatku merasa kesepian. Walaupun menyenangkan rasanya jika aku bisa menyandarkan kepala di dadamu dengan nyaman. Ah, ingat kalau kamu mencintaiku saja sudah sangat menenangkan. Kamu tidak tahu kan jika sekarang aku sudah jadi observer nomor satumu, yang mengamati caramu menghabiskan nasi goreng keasinan hingga hafal betul cara kamu berjalan. Semoga untuk selamanya kita disatukan.

Yang terakhir sayang, kuberi bocoran apa yang selama ini selalu kuminta dari Tuhan. Aku sudah melewati pahit manis, tersambung dan terputusnya hubungan. Kali ini aku tidak lagi meminta macam-macam. Aku hanya minta dipertemukan dengan dia yang sederhana namun bisa dipegang janjinya, yang tidak perlu tampan tapi cintanya tidak akan kikis oleh hebatnya pertengkaran. Dia yang datang dan tidak pernah berniat meninggalkan. Dia yang tidak pernah main-main dan menganggap remeh perasaan. Dia yang biasa saja tapi mau berjuang dengan sepadan. Jika sekarang Tuhan mengirim kamu, semoga memang itulah jawaban dari semua doa yang aku panjatkan.

Semoga semesta memberi jalan untuk Kita