Sebuah percakapan biasa kini menjadi rutinitas yang selalu kutunggu. Terlepas apakah kamu merasakan hal yang sama atau tidak, aku bahagia mengenalmu sejauh ini. Kita sudah saling tahu untuk beberapa waktu yang tidak sebentar. Kurang lebih empat tahun lamanya. Setiap kita bertemu, kita saling menyapa atau bahkan bercakap sekata dua kata.

Sebuah Awal Menjelang Akhir 2014

Dulu aku tidak peduli akan apa yang kukenakan ketika berada di tempat yang sama denganmu. Dan tidak lantas memperhatikanmu ketika hendak berjalan melewati kamu. Semuanya berubah, semenjak aku ada di kontakmu dan kamu selalu ada dalam list chat ponselku. Berawal dari pesanmu yang mengomentari status sosial mediaku.

Senyummu seakan mengajak berumah tangga, Bang. – September 2014.

Obrolan ringan berawal di hari itu. Kini kita berada di tempat yang berbeda dengan jarak ratusan kilometer. Terakhir bertemu langsung denganmu sekitar pertengahan tahun 2013.

Pertemuan Di Bulan Desember

Akhirnya kita sepakat untuk bertemu Desember itu. Entah kenapa aku yakin sekali, ketika itu aku dan kamu masih merasa biasa saja saat bertatapan muka. Karena aku tidak merasakan sensasi deg-degan ketika kali pertama menjabat tanganmu lagi. Dan kamu masih membawa kenangan lamamu ketika berbincang denganku. Pertemuan kita malam itu memang untuk saling melunasi hutang. Hutang bercerita tentang orang-orang yang pernah mengisi hari-hari kita.

Advertisement

Kamu bercerita tentang perempuan yang sempat akan membuatmu menyatakan cinta, serta mantan kekasihmu. Perempuan yang tak lain teman kita dan mantan kekasih yang masih menggentayangimu. Lalu Aku bercerita tentang dua laki-laki yang sudah kamu ketahui kisahnya dariku. Laki-laki pertama sudah jelas membuat hatiku patah. Dan laki-laki kedua tak lain adalah rekan kerjaku. Dialah yang menghiburku. Kamupun tahu bahwa kami memang dekat. Terlebih setelah hubungannya dengan kekasihnya berakhir. (Maaf aku belum bercerita tentang hal ini. Aku takut kamu membayangkan kedekat kami menjadi secara berlebihan).

Setelah makan, aku memberanikan diri mengajakmu berfoto. Aku ingin punya kenangan denganmu sebelum aku kembali ke Ibukota. Dan di akhir pertemuan kita, aku ingat kalimatmu ketika mengantarku pulang. Kalimatmu berhasil membuatku mulai memikirkanmu.

“Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan suasana disini..”, katamu sambil melihat sekitaran rumahku.

Maret dan Mei 2015

Di tahun ini, aku mulai sering pulang untuk sebuah keperluan. Tapi sayangnya jadwal kepulanganku tidak bersahabat denganmu. Kamu mengunjungi ibumu yang ada di lain kota dan juga harus bergantian dengan saudaramu untuk menemani eyang. Tapi percakapan kita masih seperti biasa. Kamu masih bisa membalasnya lebih cepat dibanding sekarang. Sangat aku sadari bahwa perbincangan kita sudah tidak lagi membahas mengenai masa lalu kita.

Unforgettable July

Lebaran tahun ini kamu stay di Jogja. Kita melakukan pertemuan ketiga. Kamu mengajakku menonton film yang sudah kamu tunggu jadwal tayangnya. Kamu sudah memesan tiketnya dan seperti biasa, kamu menjemputku. Kita menuju gedung bioskop yang ada didekat rumahmu. Rumahku dan rumahmu tidaklah dekat, bukan? Kebaikan yang kamu anggap biasa ini tidak bisa kupungkiri membuatku terkesan. Sebetulnya ada gedung bioskop juga didekat rumahku, tapi kamu lebih nyaman di gedung bioskop yang kamu pilih.

Aku akui, you are a geek. Dalam hal perfilman, aku bukanlah ahlinya. Aku senang kamu sabar mengahadapiku yang ngga nyambung soal cerita sebelumnya dari film yang kita tonton. Kamu bercerita panjang lebar, dan tersadar dengan mukaku yang mulai pucat pasi.

“Sebentar, pasti kamu ngga paham? Oke. Jadi gini cerita sebelumya…”, kamu menceritakan kisah sebelumnya agar tidak sia-sia aku menonton.

Setelah selesai nonton, kamu memintaku mengambil gambarmu didekat papan bergambar film yang kita tonton tadi. Kamu menawariku untuk mengambil gambarku juga.

"Aku ngga mau foto sendirian, maunya berdua sama kamu.." , pintaku.

Akhirnya kita mengabadikan gambar disana. Aku senang. Setelah itu kamu mengantarku pulang. Sesampainya di depan rumah, kamu menjabat tanganku. Aku masih ingat jelas, kamu menahan genggamanmu beberapa detik lebih lama. Dan mengarahkan jabat tangan kita ke atas dahiku. Sweet.

Dan sesampainya di rumah, kamu menghubungiku dan meminta foto kita berdua. Ini kali pertamanya kamu meminta foto kita. Bahagiaku semakin lengkap karenanya.

Agustus – Oktober 2015

Kamu semakin lama membalas pesanku. Sehari atau seminggu sekali kamu membalasnya. Aku tahu, kamu memang tidak aktif memegang ponselmu. Ada hal lain yang sedang kamu prioritaskan. Tugas akhir, hobi, dan tanggung jawab pekerjaanmu karena promosi yang baru saja kamu dapatkan. Tapi bukankah sejauh ini hanya komunikasi via chat ini yang bisa aku andalkan untuk tetap bisa saling terhubung?

Aku memang salah. Sebelumnya, aku mengacuhkan pesanmu selama tujuh hari. Aku kesal. Bulan sepuluh lalu aku pulang. Kita sudah berjanji untuk bertemu. Kamu tidak datang atau memberi kabar. Lewat dari jam yang seharusnya kamu datang, ponselku berbunyi.

“Maaf yaa baru balas, aku lagi futsal. Lagi hectic nih. Nih fotonya kalau kamu perlu bukti”.

Seharusnya kamu mengirimiku gambar lapangan atau teman-temanmu yang bermain futsal. Kamu mengirimi gambar lain lengkap dengan penampakan perempuan di depanmu. Aku tetap membalas pesanmu, tapi seharusnya kamu sadar kalau aku sudah tidak seperti biasanya. Ketika aku memojokkanmu tentang perempuan itu, kamu justru makin menjadi menjelaskan kedekatanmu dengannya.

Di stasiun, aku mengirim pesan padamu.

“Mas, aku balik Jakarta. Kamu ngga pengen ketemu aku ya?”.

“Pengen, tapi waktu dan situasi tidak bersahabat. Oya, Desember aku di Jogja. Cutiku ngga di-approved. Semoga Desember bersahabat, nanti kita ketemu. Hati-hati ya. See you.”

Seminggu setelah aku tiba di Jakarta, aku baru membalas pesanmu. Tersadar bahwa aku belum berhak untuk cemburu ataupun marah dengan keadaan semacam itu. Aku dan kamu belum menjadi kita. Mungkin akan sulit untuk itu, karena kamu tidak bisa menjalani long distance relationship. Dan kita sudah sempat bahas tentang ini.

Aku tidak lantas memilih mundur. Aku akan tetap ‘ada’ sekalipun kamu ‘tidak hadir’. Kisah cintaku yang lalu berakhir karena aku tidak punya keberanian untuk sekedar menunjukkan rasaku. Untuk kali ini, untukmu aku akan memperjuangkannya. Tidak dengan keagresifan atau kalimat I Love You. Aku akan memperbaiki diri sehingga pantas untukmu atau hmm.. takdirNya yang lain. Namamu takkan pernah luput dalam doaku. Semoga sibukmu dan sibukku akan segera menemukan muaranya. Entah menjadi kita atau tidak, aku percaya Tuhan punya alasan mempertemukan kita lagi. Aku memohon padaNya agar Desember ini ada dipihak kita. Dan aku diijinkan untuk merayakan Natal dan beribadah bersamamu, serta saling jujur satu sama lain. Kita sudah dewasa, bukan?

Untuk kamu, aku rindu.

Sampai jumpa Desember ini.