Izinkan aku meceritakan dengan bangga sosok laki-laki yang telah berhasil meluluhlantakan kokohnya benteng pertahanan hatiku. Hingga akhirnya tiada kata indah selain rasa syukur yang senantiasa kupanjatkan pada Sang Maha Pemilik cerita karena telah memberikan peran yang begitu indah pada drama kehidupan ini, meskipun terlambat aku tak akan menyesalinya.

Sebelumnya aku tak pernah membayangkan akan jatuh hati pada laki-laki ini. Laki-laki keras kepala yang tak pernah mau beranjak dari tempatnya berdiri meskipun sudah berulang kali aku memintanya pergi. Laki-laki yang selalu saja menunggu meski berulang kali aku meninggalkannya. Laki-laki yang terus saja berjuang meski tak pernah aku menoleh kearahnya.

Sudah jangan kau lakukan lagi hal-hal yang sesungguhnya tidak pernah aku inginkan untuk kamu melakukannya. Semua tau, kita ada dalam zona yang orang-orang dan diriku yakini tabu untuk menjalani hubungan yang lebih dari seorang teman. Maafkan aku yang selalu saja egois karena tidak pernah mau mendengar dan melihat perjuanganmu itu. Maafkan aku yang selalu bersembunyi dibalik kata teman dan selalu saja berpura-pura tidak tau dengan kesungguhan yang kau miliki. Sungguh aku sebenarnya tak ingin kau terluka lebih dalam lagi oleh karenanya aku memintamu untuk pergi. Yakinlah aku melalukan itu karena aku peduli deganmu.

Hingga akhirnya sang waktu benar-benar memishkan kita, tapi anehnya bukan matahari kebahagiaan yang datang, tapi mendung duka rasa kehilangan yang siap menjatuhkan tiap butir airnya. Ada suatu kebiasaan yang hilang dan mungkin tidak akan pernah kembali. Hati berkata tanpa persetujuan dariku “aku menyerah pada sang waktu dan membiarkan diriku hanyut dibawanya. Keteguhan hati yang selalu aku junjung tinggi terkikis sedikit demi sedikit dengan usaha dan keyakinan yang kau gantungkan pada tiap-tiap doamu dulu”.

Penyesalan datang seiring dengan keteledoranku memaknai perasaan yang selama ini ada namun terabaikan karena adanya batas yang tak pernah mampu untuk kuungkapkan. Kali ini biarlah aku yang berjuang, menyusuri setiap jejak langkah masa lalu yang kau tinggalkan. Kuterima dan jalani dengan ikhlas. Aku jadikan ini sebagai karma, hukuman untukku karena pernah mengabaikanamu dulu. Hingga nanti jejak-jejak ini membawaku padamu pada saat itu pula aku berharap kau masih seperti dirimu di masa lalu.