Selamat sore yang kesekian hari selepas kau kecewakan.

Angkat kepalamu, coba tengok sedikit kemari. Masih bengkak tidak mataku? Masih basah tidak pipiku ?

Kamu pikir bagus menjadikan aku kambing hitam dari semua cerita ingusan tak penting itu, itu khilaf bagiku. Astaga..malunya aku mengingatnya. "Haahhh, hidup macam apa ini" pikirku kemarin.

Aku benci sekali dibuat bertanya-tanya perihal kesalahan yang kuperbuat padahal segala hal dimulai darimu. Tidak jantan caramu dan semoga perasaanmu bisa lekas diperbaiki Tuhan.

Nampaknya aku semakin benci saja dengan maklhuk-Mu satu itu. Coba tolong sadarkan dia suatu hari nanti, karena kini kurasa dia masih sok benar sendiri. Aku mau lihat bagaimana ekspresinya ketika menjadi sama sepertiku sekarang. Apakah masih bisa bertahan sepertiku kini atau dia hanya bisa meratap menanti mati ?

Advertisement

Dikira enak menahan kecewa lumayan lama, dia pikir aku boneka barbie yang hatinya plastik tubuhnya juga plastik. Termasuk manusia jenis apa sih dia Tuhan ? jadi ingin tau sekali perihal manusia macam itu. Tidak merasa bersalah namun menyalahkan. Mengaku korban padahal tersangka. Sembunyi tangan lalu mencucinya, tak mengaku. Tak mau kalah dan sudah bisa ku tebak..pasti dia adalah orang yang perangainya sangat buruk.

Terimakasih menjadikan aku korban dalam cerita macam ini. Tidak berkelas sama sekali tapi jadi pelajaran berharga bagi aku pribadi. Marah sekali rasanya hatiku ini, namun mencoba sedikit lebih santai menghadapinya. Dia pikir aku akan meratap di dalam kamarku karena mengingatnya, padahal aku menangisi diriku sendiri yang sakit hati dibuatnya. Bodo amat dengan dia, aku merasa kecewa setengah mati dan nanti dia pasti tau rasanya jadi begini. Karma tidak pernah salah alamat kan Tuhan ? aku percaya pada-Mu sepenuhnya. Tenangkan aku sekarang dan jangan biarkan aku kotori namaku untuk mencacinya di media sosial. Sabarkan aku selalu menghadapi manusia jenis itu.