Rasulullah SAW. bersabda:

Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzi)

Banyak anak muda saat ini yang dunia mudanya sudah kebablasan, mendengar kata orang tua sudah tak ada artinya apa-apa atau bahkan di nomor duakan. Dalam daftar hidupnya, orangtua mungkin sudah berada di nomor ke sekian, setelah pacar, teman, sahabat, hangout, shoping dan sebagainya. Cukup menyayat hati jika melihat anak muda sudah terjerumus seperti ini. Padahal belum tentu apa yang dilakukannya mendapat restu atau ridho dari kedua orangtuanya.

Dalam Hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menyebutkan jika keridhaan Allah terletak pada keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orangtua. Apa jadinya jika yang kita lakukan saat ini ternyata belum mendapat ridho dari kedua orangtua kita. Betapa murkanya Allah pada kita saat ini.

Ayah dan ibu kita mencari riski dari pagi sampai bertemu pagi lagi. Bermandikan keringat tanpa ada keluh kesah yang terucap dari bibir mereka. Untuk apa mereka bekerja tanpa mengenal lelah dan waktu hanyalah semata untuk anak-anaknya. Demi kesuksesan dan kebahagian pelita jiwa mereka. Jadi, masih beranikah kita menduakannya?

Advertisement

Selagi mereka saat ini masih bersama kita, yuk kita berlomba untuk menjadi birul walidain. Kita berlomba untuk berbuat baik kepada kedua bapak ibu kita masing-masing. Selain orangtua akan bangga kepada kita, Allah juga akan bangga pada kita. Tentunya juga para malaikat pun akan senantiasa mendoaakan setiap langkah yang kita tempuh karena teriring doa keridhoaan dari bapak ibu kita. Betapa mudah dan ringankah jalan kita setelah keridhoan kita dapat.

Apabila raga mereka sudah tak bersama kita lagi. Bukan berarti kita tak bisa melakukan birul walidain. Selalu mendoakan dan meminta ampunan kepada Allah bisa menjadi birul walidain. Berusaha melakukan yang terbaik dan mewujudkan apa yang diinginkan kedua orangtua kita semasa masih hidup.

Namun, bayangkan jika apa yang kita lakukan ternyata orang tua belum meridhoi. Tentunya serasa berat dan sulit setiap langkah yang kita tempuh. Apa yang kita inginkan tidak terwujud-wujud, apa yang kita lakukan selalu menemui titik kegagalan. Barangkali bapak ibu kita belum memberikan jalan pintu restu untuk memperoleh itu semua.

Oleh karena itu sebagai anak muda yang belum dibebankan dengan permasalahan keluarga. Tugas kita hanya satu yakni membahagiakan ibu bapak kita. Egoislah kita, jika kita mampu mengajak kawan kita bersenang-senang, sedangkan kita belum mampu membuat bapak ibu kita tersenyum.

Untuk yang sedang menimba ilmu di tanah perantauan, pulanglah untuk sekedar menengok keadaaan orangtua kita. Untuk yang belajarnya masih main-main, mulai sekarang belajarlah yang sungguh-sungguh, orangtua kita menunggu kesuksesan kita. Untuk yang sudah mampu mencari riski sendiri, sisihkanlah sebagian untuk orangtua kita. Untuk yang masih berjumpa dengan kegagalan, kembalilah ke orangtua untuk mencium tangannya dan meminta restunya agar Allah segera membukakan jalan kesuksesan. InsyaAllah setiap langkah kita tersebut termasuk Birul Walidain. Amin