Malam ini rembulan bersinar terang, hari ke 15 tanggalan Jawa. Gadis itu menikmati redup sinarnya yang sesekali tersaput awan lalu muncul lagi di langit yang tak benar-benar cerah. Siang tadi matahari begitu terik, tak hujan seperti hari sebelumnya, mungkin itu sebabnya awan berebut menghias langit, berpasrah pada angin.

Dinginnya atap semen menembus celana jeans yang ia kenakan, gelapnya terasa pas untuk memandang rembulan dari kejauhan. Sangat jauh, hingga lubuk hati yang paling dalam. Di malam-malam seperti ini, dia ingin sebentar saja melupakan tumpukan tugasnya. Berkontemplasi tentang tanya-tanya dalam hidupnya. Atau janji-janji yang ia buat pada diri sendiri. Bisa jadi di satu rembulan sebelumnya, dia berfikir tentangmu. Iya, kamu, seseorang yang baginya sangat istimewa, entah apa sebabnya.

Malam itu, dia menancapkan di dalam hatinya sebuah bendera kemerdekaan. Bendera itu bertuliskan “aku merdeka, sebab aku berdiri di atas prinsipku sendiri!”. Semoga kamu pun tahu, bahwa dia berprinsip untuk memilih yang terbaik, yang akan diajaknya berjalan menyusuri jalan perjuangan. Bersama-sama menanggung terjalnya kehidupan dan bergandengan menapaki manisnya cinta atas nama Tuhan. Sungguh dia sadar bahwa hidup tak akan melulu mudah bagi hati manusia, sesekali keadaan tak sepihak dengannya. Maka saat semua itu tiba, dia berharap bersama kamu yang tak pernah bosan menguatkan dan tak pernah lelah mencintai meskipun saat wanitamu itu tak lagi cantik, pun saat bersamanya tak lagi mendesirkan hati.

Bersabarlah wahai kamu di sana, karena dia tidak akan secepat itu memutuskan hidup bersamamu. Bendera itu akan selalu dia eratkan ikatannya ketika mulai kendor oleh banyak rintangan dalam hidup, yang ada-ada saja untuk menggoyahkannya.

Terkadang dia ingin bersegera saja, saat masalah yang datang begitu rumit. Hmmm. Setidaknya akan lebih mudah jika bersamamu. Pokoknya sepelik apapun yang penting ada kamu. Kira-kira seperti itu yang pernah terlintas di benaknya. Terkadang hanya sekedar bosan menunggu. Barangkali mengetahui namamu akan membunuh rasa penasarannya selama ini. Atau hanya karena merindukanmu, orang tercinta yang belum pernah dia temui.

Advertisement

Gadis itu terkikik kecil, ternyata ia pernah se-labil itu, oh Ya Tuhan.

Besuk pagi saat matahari terbit, saat itu juga potret rembulan malam ini akan tersimpan lekat di hatinya. Tak lagi mengganggu dan merisaukan. Dia akan tersenyum sangat lebar pada setiap tantangan yang menyapa, dengan perasaan sangat yakin, bahwa kamu akan datang di waktu yang terbaik, tanpa harus dinanti-nanti apalagi pake latihan.

Dia telah berjanji di dalam hatinya, untuk mencintaimu dalam diam, sebab dia takut semisal yang dia cintai bukan kamu yang tepat. Percayalah, sebenarnya dia tidak seyakin itu dan tidak sekokoh yang terlihat, juga tidak bisa berjanji untuk tak jatuh ingkar. Tetapi ia akan mencoba sekuat tenaga, untuk menjadi orang yang pantas, entah siapapun jodohnya. Iya, sebab dia merdeka.

Ketika ada seseorang yang menggoyahkan hati, maka dia akan mengikhlaskan saat itu juga. Mungkinkah itu kamu? Dia ikhlas sejak hatinya memulai, agar tidak ada ruang bagi harapan-harapan yang kosong. Entah seindah apapun dan sebaik apapun dirimu.

Sebab dia tahu, yang indah belum tentu mengindahkan dan yang baik belum tentu menjaga.

Bahkan rembulan pun tahu, bahwa sejatinya yang dia cintai bukan hanya kamu. Bersiaplah untuk diduakan, ditigakan, atau bahkan lebih!

Izinkan dia mengikhlaskanmu, menggeser posisimu ke nomor sekian, dan menempatkan Tuhannya di nomor satu. Sebab betapapun kamu mencintainya, akan ada luka yang kau goreskan dalam hatinya. Kamu pasti sama tahunya dengan dia, bahwa orang tercinta adalah orang yang paling mungkin membuatmu terluka. Ketika yang paling dia cintai adalah Tuhannya, maka sungguh tidak akan sesakit itu saat kamu berulah nanti, wahai jodoh tercinta. Maka ia akan memantaskan diri. Bukan lagi untuk dirimu, tetapi untuk yang lebih dia cintai. Tolong berbahagialah.

—————-

Rembulan bergulir, pelan tapi pasti. Hingga tenggelam di ujung barat. Seperti malam-malam sebelumnya. Tak pernah bertanya apakah dia telah menemukan jawaban atas pertanyaannya malam itu, apalagi menunggunya. Tak penting bagi rembulan. Saat-saat seperti itu mengingatkannya akan suatu hal “Kita tidak tahu siapa yang akan menjemput kita lebih dulu, apakah jodoh atau kematian”. Maka esok pagi dia akan sibuk dengan janji lain di dalam hatinya. Sebab sama saja, waktu tak akan menunggunya sampai bertemu denganmu. Tak penting bagi sang waktu.

Waktu tidak akan menjawab janji-janji yang ada di benakmu, yang terkadang kau cipta sendiri. Tetapi waktu akan menjelaskan dengan sederhana, bahwa ada harga bagi setiap susah dan senangmu hari ini. Tidak ada yang sia-sia, sama sekali tidak. Pantaskanlah dirimu.

Selamat malam. Semoga besuk rembulan tetap bersinar terang.