Kalian pasti pernah mengalami pertanyaan kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan punya nak kedua and so on. Terkadang saya sempat berpikir apa sebenarnya mereka tidak menyadari pertanyaannya setajam silet yang mengiris-iris hati orang yang mendengarnya.

Ya, saya sedang di masa itu… dan akhirnya saya paham kenapa orang-orang bertanya seperti itu, karena mereka hanya bermaksud menyapa dan menanyakan kabar terbaru dari orang yang ditemuinya, jadilah circle pertanyaan seperti itu akan selalu ada.

Tapi it’s how about we face and response to that questions. How it affect us in a positive or negative way.

Saya sudah 2 tahun menikah, dari sebelum nikah orang-orang pada bertanya mau langsung punya anak apa ditahan dulu, tanpa banyak berpikir, kita merasa banyak hal yang harus disesuaikan ketika dua manusia hidup dalam satu atap, kebiasaan yang berbeda, cara tidur yang berbeda, jadi lebih bagus kalau memang kita menahan untuk mempunyai anak kurang lebih 2 tahun, dengan anggapan cicilan bisa dilunasin sebagian juga jadi ketika anak itu datang, biaya sudah siap. Seperti kata pepatah, hati-hati dengan mulutmu, mulutmu harimaumu.

Saya dan suami semenjak menikah tidak pernah memakai pengaman ketika berhubungan soalnya berasa ribet dan susah, walau ada rasa khawatir kalau jadi hamil, tapi kita pikir dijalanin aja, kalau memang sudah waktunya, diterima aja. Bulan demi bulan berlalu, saya tak kunjung hamil walau tanpa memakai pengaman. Di saat – saat ini, orang pada bertanya kenapa belum hamil? Udah cek ke dokter belum? Pertanyaan ini terus muncul dari family, friends, colleagues and finally all of the people that you met accidentally.

Advertisement

Awalnya kita masih bahagia berdua saja, traveling dan honeymoon setahun dua kali kemudian lama kelamaan pulang ke rumah terasa sepi ya, gak ada yang menyambut, gak ada yang menunggu, ga ada yang buat kita pengen cepet – cepet pulang ke rumah. Di awal tahun kedua, kerinduan akan anak mulai besar terasanya, suami yang awalnya tidak terlalu suka anak kecil pun mulai mengunjungi tetangga hanya untuk lihat dan bermain bersama babynya.

Sampai kita mikir, orang-orang pikir buat anak gampang apa ya, walau bagi sebagian orang itu memang gampang ya, ada yang sampai anak kedua dan anak ketiga, lah kita, 1 aja belum dapet-dapet sampai saya bertanya-tanya apa ada yang salah ya. Salah caranya kah, akhirnya pertama googling2 buat mencari tahu penyebab-penyebab pasangan belum mempunyai anak. Semua cara dicoba, naikkin kaki kayak sikap lilin setelah berhubungan 30 menit dl sebelum dicuci, trus minum asam folat. Ada juga yang bilang jangan banyak gerak setelah melakukan hubungan, karena katanya janin lagi mau berkembang kalau kita gerak – gerak berlebihan (seperti olahraga, naik ojek/motor) jadilah setiap habis berhubungan, jalan pelan – pelan keesokan harinya seperti putri solo pun dilakukan siapa tahu sperma sedang mencari jalan menemui jodohnya sel telur, jadi jangan sampai dia tersesat. Apapun caranya demi hamil, semua cara dicoba dan dilakukan. Pada akhirnya karena semua belum berhasil, kita pun sepakat menemui dokter kandungan untuk mengecek lebih lanjut, tanpa basa basi dokternya meminta melakukan USG, di luar (di perut) dan dari dalam (transvaginal) yang ternyata menimbulkan kesakitan yang sangat luar biasa bagiku sih, so far so good kata dokternya. Dengan alasan, dari dalam akan lebih akurat dalam hal melihat rahim dan indung telurnya, saya disarankan untuk mengikuti tes lanjutan yang yang namanya HSG, dengan teknik semprotan berupa selang yang dimasukkan cukup jauh di dalam vagina untuk melihat apakah saluran indung telurnya mampet sehingga jalannya sperma terhenti sebelum mencapai indung telur, kata dokternya habis ini biasanya orang langsung hamil, tapi saya disarankan untuk mengkonsumsi obat penahan sakit 2 hari sebelumnya karena katanya bakal sakit banget.

Tapi apa daya, nyali saya kecil banget, apalagi setelah melakukan USG yang dari dalam itu yang sampai nangis2 kemarin, belum sanggup kayaknya kalau harus mencoba dan mengalami rasa kesakitan seperti itu lagi, trauma jadinya.

Kami pun sepakat untuk berusaha sendiri terlebih dahulu dan berdoa tanpa melakukan tindakan HSG tadi. Hari – hari sebelum periode M dimulai, mulai deg – deg an menunggu, berharap telat M, entah berapa banyak test pack yang sudah dihabiskan hanya untuk mengecek kehamilan ketika telat sehari atau berasa mual – mual, nafsu makan besar, dengan segera langsung mengecek, tapi semua hasil nihil, sampai saya sudah hamper putus asa, dikecewakan berkali – kali akan hasil yang tidak 2 strip (baca : hamil). Suami memberikan support dengan anggapan semua akan ada waktunya dan semua akan indah pada waktunya juga.

Akhirnya perlahan – lahan, teman – teman di sekitar pun mulai hamil, dari yang menikah sebelum atau baru saja menikah aja sudah berhasil, dan di situlah pertanyaan kok cuma saya yang belum ya? Apa sebenarnya memang ada yang salah dengan saya dengan suami? Hidup pun mulai tidak bermakna dan merasa menjadi wanita yang tidak “berhasil” dan tidak “berguna”.

Akhirnya aku disadarkan oleh keadaan sekitar di mana seorang teman hamil, dan dia bahkan tidak sadar hamil, masih gym dan masih beraktivitas seperti biasa, even drinking alcohol dan baby is still okay and healthy. I mean if the baby is for you then it will be with you until the end. Not to worry anything and have a little faith that your time will come. Because every people have their “Time Zone, waits for yours, hold on, be strong, stay true to yourself, and grateful for the time that you have now. You will pass each time of it, wait and enjoy every minute of it.

Happy moment is worth to wait !