Matahari sudah benar-benar terbenam meninggakkan jejak kenangan. Sepoi udara pantai mengembalikan memori di pikiranku. Dan lagi, kamu yang nomer satu di pikiranku.

Dudukku termenung di atas pasir putih Kuta. Tempat dimana ombak pantai menghapuskan langkah kaki kita, dahulu kala.

Entah apa yang ada pada dirimu sehingga aku terlalu lumpuh untuk meninggalkan kamu.

Arus memoriku mulai menjadi-jadi ketika Kuta untuk kesekian kali aku sambangi. Apakah kesalahanku terlalu besar hingga sekejam ini sanksi yang kau berikan?

Aku pernah sampai memohon agar dimaafkan, aku pernah berlutut agar kau ampuni. Dan yang ku dapat, langkah kakimu yang malah makin menjauh pergi. Aku sebenarnya tak memohon banyak, aku tak memohon kau kembali mengisi ruang hati.

Advertisement

Aku tahu diri. Namun, izinkan aku untuk tetap menjalin persahabatan denganmu yang begitu diinginkan hati ini.

Satu kata saja yang terucap dari bibirmu. Aku tak akan pernah mampu.