Sudah 7 bulan aku menyandang gelar Amd ini, setelah menempuh kuliah 3 tahun di salah satu Politeknik Kesehatan di Jawa Tengah. Bukan perkara yang mudah bagiku untuk menangani mereka yang notabenya Anak Berkebutuhan Khusus dan orang-orang yang mengalami gangguan komunikasi lainnya. Harus punya keterampilan untuk menangani mereka, profesi kami ini juga harus bisa bekerjasama dengan orang tua, keluarga, guru dan ahli kesehatan yang terkait karena itu sangat diperlukan untuk kemajuan mereka.

Terkadang aku ingin mengeluarkan air mata saat menangani mereka dan mendengar keluh kesah dari orang tua maupun keluarga mereka. Apalagi ketika ada orang tua yang tidak begitu memperhatikan anak mereka yang ABK. Bahkan ada orang tua yang dengan tega menyembunyikan anaknya bahkan membuangnya. Saat di kuliahlah aku mulai bertemu dan mengenal anak- anak spesial maupun orang-orang yang memiliki gangguan komunikasi. Seperti gangguan bahasa, wicara, suara, irama kelancaran, menelan bahkan gangguan pendengaran.

“Tak perlu malu jika kau punya anak ABK, karena sesungguhnya mereka anak yang istimewa”

Kulangkahkan kaki kecilku ini menapaki pasir putih, menantikan sang lazuardi melukiskan senja di langit hingga membawa sang matahari terbenam kembali ke peraduannya. Kunikmati semilir angin yang berhembus bersama gemerisik air laut. Kuputar kembali memori dalam otakku saat pertama kali praktik di RSAL RUMKITAL, Surabaya.

Aku bertemu seorang pasien yang mengalami Cerebral Palsy, dia memang sudah bisa berkomunikasi tetapi dia masih belum mampu berjalan. Kalian tahu senyumannya begitu polos dan menentramkan. Ketika itu aku duduk disampingnya dan dia berbicara kepadaku.

Advertisement

“Kakak, aku ingin berlari seperti mereka, aku ingin berjalan seperti mereka, tetapi kakiku ini tidak bisa untuk berjalan” ucapnya sambil memegang kakinya, bahkan dia masih saja tersenyum. Ingin rasanya ku teteskan air mata ini tak kuasa untuk mendengar keinginannya itu. Itulah mimpinya ingin berjalan dan berlari seperti yang lain.

“Mimpi yang sederhana namun begitu menohok hati”

Arus waktu telah mempertemukan ku dengan mereka. Mereka adalah salah seseorang yang memberiku segala inspirasi hidup dan merekalah yang selalu membuat saya mengucap syukur. Mereka yang telah memberiku motivasi supaya mencari ilmu yang nantinya bisa diterapkan kepada mereka yang spesial supaya bisa berkomunikasi seperti kita. Seperti menulis diatas kertas kosong, apa yang kita terapkan saat terapi itulah yang mereka tahu. Kesabaran dan keikhlasan saat menjadi seorang terapis sangatlah diuji.

Tidak mudah memang saat menghadapi mereka, tapi terkadang merekalah yang bisa membuat saya tersenyum dengan segala tingkah laku polos mereka. Belum lagi saat orang tua hanya mengandalkan kami para terapis karena orang tua yang terlalu sibuk. Mereka adalah dunia saya, inspirasi saya dan bahagia saya. Mereka bukan aneh, mereka bukan bodoh, mereka bukan idiot atau apalah yang sering kalian ucapkan, akan tetapi mereka adalah orang-orang spesial.

Tuhan menciptakan mereka pasti punya kelebihan jangan hanya melihat mereka dari satu sisi saja. Mereka bisa seperti kita bahkan lebih dari kita asal kita bisa menemukan kelebihan/bakat mereka. Mereka sama, sama–sama manusia makhluk sosial, punya hati yang juga bisa merasa, punya mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, dan komunikasi yang sungguh “istimewa” agar dapat memahami mereka, orang – orang yang “istimewa”.

Jangan mengangap mereka “BERBEDA” mereka bukan berbeda tapi mereka “ISTIMEWA”. Ulurkanlah tangan kita untuk mereka. Berikanlah senyum yang penuh ketulusan untuk selalu menyemangati mereka. Mereka mungkin Berkebutuhan Khusus, namun mereka adalah ciptaan Tuhan yang “istimewa” dan mampu menginspirasi kita agar bisa lebih mensyukuri apapun yang Tuhan berikan kepada kita.

“Mereka bukan aneh, idiot, bodoh atau apalah yang ada di pikiran kalian, tetapi mereka adalah anak yang ISTIMEWA”

Langkah kaki ini terus meninggalkan jejak diatas pasir pantai. Terus ku berjalan menyusuri bibir pantai hingga warna gelap telah mengganti warna jingga. Seperti halnya terus ku pupuk rasa persahabatan antara aku dengan pasien-pasienku demi untuk mewujudkan mimpiku, mimpi mereka, juga mimpi orang tua mereka. Masih ada banyak hal yang ingin ku lakukan untuk mewujudkan mimpi ku, mimpi pasienku dan mimpi para orang tua ABK.

Aku tak pernah takut jika mimpiku itu tak pernah jadi nyata karena aku punya Tuhan sang perancang hidup yang luar biasa hebatnya. Tuhan sang penulis skenario hidup untuk makhluknya pasti tahu apa yang terbaik bagi umatNya. Aku hanya bisa berdo’a dan berusaha saja.

“Karena Tuhan, orang tua, juga mereka yang telah kutemui dalam hidup aku mampu berdiri di titik ini”