Kau tahu tidak? Hari ini aku belajar dari sepi, bahwa rindu lebih baik dibiarkan; agar mandiri, katanya. Sebab aku mandiri, karena dulu selalu kau biarkan. Tak peduli aku menolak dan teriak, lukisan wajahmu, suaramu dan matamu, tetap saja terpajang sejauh mata memandang. Ah.. Andai kau tahu.. Hujan tidak lagi mengirim kamu kesini; seperti dulu. Dia hanya menjatuhkan air terus-menerus. Serupa kau, ya? Melukaiku berkali-kali, dan yang kulakukan hanya menyalahkan takdir dan waktu.

Salah apa aku? Kau denganku atau tidak, rasanya tetap sama. Sakit.

Dari sisi Jakarta sore ini, aku tahu kamu tidak pernah tahu, bahwa selalu ada aku yang tahu, aku yang menanti dan berharap kau ada. Berkali-kali kau biarkan aku menjadi matahari yang mencintai bumi; sebegitu jauh jaraknya dan tidak pernah mendekat. Karena akan membinasakan, katanya. Kulakukan, karena itu takkan baik.

Lalu kau berubah menjadi malam. Padahal aku jelas-jelas ada ketika siang.

Sudahlah.. Memang kamu tidak pernah izinkan aku walau sekedar melindungimu, dari derasnya hujan yang terluka. Seperti aku.

Advertisement

Di satu waktu, aku pernah begitu yakin bahwa aku mampu melupakanmu. Sungguh, serupa kau, keyakinan itu malah menyakitiku. Mengapa kau membiarkan aku menangis? Padahal dulu kau pernah rela menangisiku. Aku biarkan kaca-kaca retak. Aku biarkan daun-daun gugur. Aku biarkan kenyataan menghantamku. Andai kau tahu seberapa banyak aku berdoa dan seberapa keras aku mencoba.. Aku hanya ingin melupakanmu.

Tapi sedetik kemudian, aku menyadari bahwa sama saja. Sungguh, aku bisa gila. Melupakanmu atau tidak, kenyataan bahwa semua telah berakhir tidak akan berubah.

Teruntuk kamu yang dulu kuminta pergi.. Sejujurnya aku berusaha dan sama sekali tidak ingin kau nyata, di hidupku, di kenanganku, juga dalam mimpi-mimpiku. Aku telah mencoba. Sudah kusimpan kau dalam kotak yang tertutup rapat, lalu kubuang jauh. Namun hujan dan malam, begitu pandai memainkan perannya. Aku ingin marah, aku ingin berteriak dan menangis kala menyaksikan hancur leburnya aku saat harus melupakanmu tepat di saat aku setengah mati merindukanmu.

Sering aku bertanya; apakah kamu mengingatku? Perempuan yang pernah menantimu bertahun-tahun sedemikian sakit dan begitu berdarah.