Aku mengagumi setiap sudut wajah dan lekuk tubuhnya. Jemari kecilku merasa aman ketika aku membayangkan telapak tangan dengan jari-jari besar itu. Tubuhnya yang tinggi membuatku merasa terlindungi dari apapun saat berada di sampingnya. Binar matanya menyiratkan seribu pertanyaan yang tak mampu kuselesaikan. Bibirnya menampilkan keindahan. Entah apa yang ku pikirkan saat melihat bibir itu perlahan tertarik simpul.

Aromanya adalah favoritku. Aku tak pernah perduli wewangian jenis apa yang dipakainya. Apapun itu ketika bercampur dengan bau khas tubuhnya akan menjadi nyaman di hidungku. Kenyamanan itu kemudian menjalar hingga ke otakku dan membuatku kehilangan cara untuk tidak memikirkannya. Taukah? Ada rak khusus di memoriku untuk menyimpan aroma menyenangkan itu.

Caranya tertawa, ah entahlah. Bisa jadi ini adalah bagian yang paling menarik hingga tak ada kata yang bisa menggantikan betapa aku mengaguminya. How nice.

Dia berpikir dan membuat semuanya menjadi lebih sederhana. Pikirannya itu mengarahkan ku ke sifat idealis dan praktisnya. Ya, sifat –sifat itu sangat ku benci. Tapi aku tak pernah benci caranya berpikir. Dia bisa membuatku mengerti dan itu menakjubkan.

Tingkah konyolnya selalu mengundang rasa geli di perutku dan menghadirkan tawa setelahnya. Aku tak pernah membenci tingkahnya itu walaupun terkadang itu memalukan. Dia menyukai apa yang tidak ku suka. Sesaat kemudian dia mampu membuatku berpikir sekali lagi untuk mulai menyukainya. Stupid.

Advertisement

Kecintaannya adalah tujuanku. Aku tak pernah ingin punya kamar megah di kepalanya. Untuk apa? Aku bahkan lebih memilih punya sebuah bilik sempit di jantung hatinya. Akan ku tata indah. Atau salahkah aku berharap kami akan menatanya bersama? Memilih warnanya dan mengisinya dengan moment-moment bersama.

Doaku, akankah juga menjadi doanya?

Damn, entahlah.