Senja telah menampakkan dirinya. Ia tak segan mengatakan bahwa Ia mampu untuk memikatku. Akupun tak dapat melawannya, aku mulai terhipnotis oleh cahaya emasnya. Langkah kakiku meninggalkan jejak di atas butiran pasir itu. Sembari mengingat setiap memori tentang kalian beberapa tahun lalu di tempat ini. Nimas, Are, Dorka, Retha. Empat nama yang mungkin akan selalu aku ingat sepanjang hidupku.

“Kau tahu, Ning, aku sangat menyukai senja di sini, cahayanya bisa membuatku semakin yakin bahwa Ia mempunyai rancangan yang indah untukku.”

“Tapi, Dor, bukannya nggak percaya sih. Cuma aku juga nggak terlalu yakin kalau Ia bakal ngebuat hidupmu indah…” kataku pada Dorka.

“Lah kenapa, Ning?”

“Karena kamu juga nggak nunjukkin usaha buat nyenengin Yang Di Atas, Dor.” Ejek Are, tanggap dengan kalimatku.

Advertisement

“Ah, kalian ini! Sukanya ngejekin aku melulu. Udah, ah! Ayo kita pulang semua aja deh.”

Kita pun tertawa melihat tingkah Dorka yang kesal dengan ejekan tersebut.

Seketika angin mengehembus perlahan, membuyarkan lamunanku tentang kalian. Tahukah kalian? Kepergian kalian memberi luka yang sangat besar pada diriku. Aku masih mengingat semua yang kita lakukan selama bertahun-tahun. Tawa, tangis, kejahilan, sakit hati, dan juga air mata bahagia saat kita diterima di Perguruan Tinggi yang kita inginkan.

Aku masih mengingat saat Dorka memutuskan untuk menempuh pendidikan di Jawa Tengah, sementara aku, Are dan Nimas harus meninggalkan kota asal kita untuk menempuh pendidikan ke Jawa Barat. Akhirnya hanya Retha yang tetap tinggal di sini.

Pertemuan terakhir kita sebelum keberangkatan kita ke kota masing-masing.

“Nanti kalau sudah jadi orang sukses, kita perginya harus naik mobil sendiri-sendiri ya? Aku bosen naik motor buat goncengin Dorka mulu. Dia cowok tapi nggak mau gonceng aku.” Keluhku pada mereka.

“Aku tuh bukan nggak mau loh, Ning. Tapi, kan aku belum punya SIM. Kamu mau kita ditilang? Bisa-bisa aku jadi sate kalau Bundamu tau.” Bela Dorka.

“Hahaha… Tapi, bener juga kata Dianing loh. Kalau nanti kita udah sukses, kita harus bisa liburan bareng naik mobil, dan harus keluar kota!” seru Are.

“Setuju! Dan harus sudah punya pacar semua! Hahaha…” tambah Nimas dengan penuh semangat.

Tetes airmataku jatuh membasahi pipiku. Jujur aku berusaha mati-matian untuk menahan isak tangisku ketika mengingat akan kegagalanku mencegah kalian pergi menemuiku saat liburan itu. Kalau saja saat itu aku bisa mencegah kalian kesini, mungkin aku tetap bisa melihat kalian sekarang.

Mendengar seluruh candaan kalian kembali. Aku tak bisa menahan seluruh tubuhku, yang bisa kulakukan hanya tersungkur pada tanah yang telah menjadi pembaringan kalian saat ini. Aku menyampaikan semua permintaan maafku tanpa kata-kata, mungkin hanya lewat tangis ini aku dapat berbicara lagi kepada kalian.

“Eh, kalau nanti ada apa-apa , aku mau kalian langsung buka kotak aku ya. Itu pesan buat kalian semua. Entah itu kalau tiba-tiba persahabatan kita retak, entah kalau kita lagi mulai sibuk dengan dunia kita sendiri, entah itu waktu kalian lagi kangen pengin kumpul bareng lagi, atau mungkin kalau aku sudah pergi mungkin.” Terang Dorka saat itu.

Tiba-tiba kami semua tertegun melihatnya, sosok yang penuh canda itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang sangat menyadarkan kami bahwa tidak selamanya kami akan bersama mengukir canda.

“Aku bakal buat 4 kok, masing-masing buat kalian. Supaya kalian tetap inget kalau kita masih bisa bersahabat meskipun nggak bersama lagi. Nanti aku taruhnya di Pondok dekat pantai ya, nggak bakal ada yang ngambil kok.” Tambah Dorka yang sekali lagi membuat kita tertegun. Kami hanya terdiam dan mengangguk menanggapi setiap perkataan Dorka.

Pondok! Aku harus kesana! Seketika aku tersadar akan hal yang harus aku lakukan dengan segera. Secepat arus ombak di pantai yang mendampingiku, aku berlari ke arah Pondok tersebut. Aku tak lagi memperdulikan serpihan kerang kecil yang menusuk telapak kakiku. Aku hanya ingin melihat sedikit dari apa yang telah kalian berikan padaku.

Aku memasuki Pondok itu dengan segera. Mungkin orang akan berpikir aku gila. Tapi, apalah pentingnya perkataan orang-orang jika dibandingkan dengan perkataan kalian.

Aku mencari disetiap sudut Pondok yang akhirnya berani untuk kumasuki ini. Sungguh, memandang Pondok ini pun sepertinya aku akan runtuh, dan sekarang aku bisa merasakan bahwa sebagian dari diriku telah hancur tanpa sisa. Semua masih sama! Perabotan tertata rapi disetiap sudutnya, sama seperti saat terakhir kali aku kemari bersama kalian. Apakah kalian tetap merawatnya selagi aku tak bersama kalian?

Lalu aku melihat botol dengan surat-surat kecil didalamnya. DIANING. Tertera namaku di salah satu botol tersebut. Aku bergegas untuk mengambilnya, aku membukanya perlahan dan mencari surat yang Dorka maksutkan dalam perkataannya. LEMBARAN USANG. Tulis salah satu dari beberapa surat disitu. Aku mengambilnya perlahan, sembari berpikir, “Apakah ini?”. Aku pun membuka dan mulai membaca isi dari surat itu…

Kalian tahu bagian paling menakutkan saat aku hidup? Mengetahui bahwa aku akan pergi, tak tahu kapan, seperti apa, dan dengan cara apa.meninggalkan kalian? Itu bonus ekstra untuk ketakutanku. Kini aku telah tenang. Kau pun juga harus…

~ Dorka

Saat itu juga aku luruh ke tanah dan kembali hanya mendengar isak tangis dari diriku sendiri. Menangisi kepergian kalian, sekaligus bersyukur bahwa Ia memang telah memberikan rencana yang indah untukmu Dorka, bahkan untuk kalian semua! Matahari pun terbenam seiring dengan diriku yang merelakan kepergian kalian.

***

“Jangan tanya Tuhan kenapa kau rasa kelat, tapi bilang terima kasih kepada Tuhan, kerna beri kau kesempatan untuk jadi lebih baik.” – Faiz Ibrahim