Entah bagaimana lagi cara yang harus kulakukan agar membuka sedikit matamu. Agar engkau tau betapa dalam rasa yang telah hadir, semenjak kau ada disini, didalam hati. Aku hanya bisa menjadi seseorang yang layaknya pecundang, meluapkan semua rasa dan asa lewat sebuah tulisan. Mungkin aku lemah, ataukah semua terlalu menyakitkan?

Kenyataan bagaimana lagi yang harus kuterima?

Aku hanyalah pilihan keduamu, yang selalu ada tanpa kau minta. yang selalu peduli meski teracuhkan, yang tetap berdiri disini saat kau tinggalkan. AKu tak menyesalinya. Hanya saja aku meratapi, bagaimana bisa berjalan sejauh ini.

Senja hanya tertawa, padahal aku menangis dibawahnya.

Bukan karena dia tak peduli, senja hanya telah kehabisan kata. begitupula dengan makna.

Advertisement

Lalu bagaimanakah aku setelah kepergianmu?

Aku tetap disini, dengan kepingan hati yang telah kau hancurkan. Dengan hati dan perasaan yang sama, tentunya untukmu. Untukmu yang telah dengan sengaja meninggalkanku, menyuruhku pergi begitu saja dari hidupmu. Sementara kau tau dari dulu bahwa bahagiaku adalah dirimu.

Sekarang, kau minta aku untuk melanjutkan hidupku, kau ingin melihatku bahagia, sementara kau tau semua alasan dibalik hal-hal itu hanyalah dirimu, senyummu. Lantas bagaimana aku akan bahagia dan melanjutkan hidupku jika itu tanpa kamu? :") sama saja halnya dengan kau menyuruh seekor burung terbang setelah kau patahkan sayapnya, masih mampukah ia terbang?

Aku tetap disini des 🙂

Sebagai seseorang yang pernah kau kuatkan lalu kau patahkan. Seseorang yang pernah bahagia dan tertawa denganmu lalu tersenyum miris. Seseorang yang (masih) selalu mencintai dan menyayangimu. Seseorang yang tetap setia meski hanyalah yang kedua, seseorang yang selalu berusaha menuruti semua maumu. Seseorang yang rela menjadi sandaranmu saat engkau menangis karena orang yang kau cintai, aku, aku yang selalu tersenyum diatas semua sakitku, yang selalu mendoakan yang terbaik untukmu, yang selalu mendoakan kebahagiaanmu. AKu yang sabar mendengarkanmu bercerita tentang "dia". Mungkinkah suatu saat nanti aku akan kau rindukan?

Setidaknya aku pernah memiliki harap. Untuk selalu bersamamu, untuk kebahagiaan kita. Meski kini aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, menjagamu dalam setiap untaian doa dan percakapanku dengan Tuhan. Sungguh, kamu masih yang terindah des, aku sangat menyayangimu dengan hatiku. mungkin itu pula alasan mengapa aku terluka begitu dalam saat ini, bahkan lebih dalam daripada harus melihatmu bersamanya.

Entah berapa banyak airmata yang terjatuh saat ku tulis tulisan ini. entah mengapa begitu dalam semua rasa ini, aku telah terjatuh sejatuh jatuhnya. Namun aku tak menyesal des, setidaknya aku telah berjuang sampai engkau yang memintaku untuk pergi.

Jika kamu pikir sekarang aku menyerah, jawabannya tidak. Aku masih berjuang, meskipun kini aku berjuang sendiri…