Pada senja diperbatasan waktu, menjelang matahari terbenam kita masih saja berlari dalam ceria tanpa ada gundah. Langkah kaki membawa kita pada tepian nostalgia yang akan membuat kita selalu tertawa, sebab luka kadang menjadi cerita penuh canda saat masanya sudah berlalu.

Waktu dengan tanpa persetujuan membuat kita bertemu dalam arus duka yang sudah menjelma menjadi lupa. Meski semua kisah kita masih akan terekam pada hippocampus sebagai memori, toh kita sepakat untuk menghentikan neoron membawa memori itu kembali. Sehingga pada hari ini ada ikrar baru yang ingin kita selipkan dalam hubungan lama yang sempat terputus, ya kita mencoba menyebutnya persahabatan.

Tapak kaki itu menjadi bukti nyata bahwa semua bisa pergi dan hilang serta kembali menjadi biasa. Saat ombak mendatangkan arusnya menghapus jejak langkah kaki kita dan membawa semua memori itu pergi bersamanya, maka saat inilah kita bisa berkata “mari kita coba”.

Perih luka lama yang sudah bermetamorfosa menjadi lupa maka biarlah menjadi bagian cerita kita. Awal baru akan selalu ada meski tak selalu dimulai dengan mudah. Butuh banyak waktu dan banyak wajah serta cerita sehingga kita bisa kembali saling bersapa. Namun saat kita menjadi dewasa maka kita akan saling berkata bahwa kita bisa.

Persahabatan ini kita sepakati sebagai bagian dari kedewasaan kita. Sebab toh dunia itu punya banyak rupa, kadang duka namun begitu banyak tawa jika kita mau mencoba. Saat ini hati kita sudah bisa menerima maka pada saat yang sama kita akan tertawa mengingat luka kita yang menjelma menjadi lupa. Kita hari ini kembali tertawa, mengejek kebodohan masa lalu yang membuat kita berlama-lama dalam rasa yang membuat kita menderita. Ternyata hanya perlu satu keberanian untuk saling menyapa dan membuat semuanya menjadi biasa sehingga luka sudah tidak ada.

Advertisement

Lagi, kedewasaanlah yang membuat kita bisa bernostalgia tentang masa muda. Kali ini dalam format yang sudah bisa menerima bahwa aku kamu tak bisa menjadi kita. Namun saat bercerita tentang rasa yang dulu pernah ada maka sah saja “kita” sejenak dipinjam untuk menyatakan bahwa rasa itu dulu memang bukan hanya milik aku atau kamu semata.

Hari ini, ditengah senja yang sebentar lagi sirna aku ingin berkata bahwa semua memang tak mudah namun apa sulitnya mencoba, perihal gagal atau berhasil biarlah senja berikutnya yang akan membawa ceritanya.