Menepis pelukanmu adalah inginku. Melepaskan genggaman tanganmu dan beranjak pergi adalah pilihanku. Membiarkanmu berjalan menjemput senja seorang diri adalah keegoisanku. Luka ini ada karena aku.

Untukmu lelaki dari timur Indonesia sana, apa kabar? Sosok menyenangkan, penikmat senja juga pemintal asa yang handal. Setelah sekian lama perpisahan yang dipaksakan itu terjadi, sudahkan kamu baik-baik saja? Sekarang mari kita berbincang meski kamu sudah tidak menginginkannya?

Ijinkan aku berjalan mendekatimu, jangan selangkahpun bergerak menjauhiku. Bisakah kita mendekat sekendar untuk saling menatap? Bisakah kita riuh membicarakan senja sekedar untuk melebur luka? Bisakah kita menertawakan keadaan dan berharap ini hanya sandiwara?

Jarak yang membentang, setumpuk penyesalan, dan setangkup harapan adalah hal yang menggelisahkan.

Masihkah kamu meluangkan waktu untuk menikmati senja ditemani buku tebal kesayanganmu? Masihkan senja seperti yang sering kita bicarakan? Adakah rasa kehilangan yang diam-diam membuatmu kebingungan? Aku, aku juga merasakan.

Advertisement

Untukmu lelaki berparas tampan dengan mata yang selalu berbinar-binar saat kita beradu pandang, sudahkah senja menyampaikan salam rinduku?

Ya, aku terlebih dulu merindukanmu, aku kalah. Aku yang meninggalkanmu dan aku yang terluka.

Lelaki yang cinta dan kesungguhannya sempat tak benar-benar mampu menguatkan hatiku, dengarkanlah. Secangkir americano kegemaranku dan lemon tea kesukaanmu setidaknya menjadi saksi betapa kita sempat saling diam karena sudah tak mampu saling mengiyakan keiginan. Seperti senja dan fajar yang tidak mungkin hadir bersamaan, begitu juga lemon dan kopi yang tidak bisa disandingkan.

Masih belum bisa aku mengerti tentang senja sederhana yang begitu damai ketika ia menyatukan kita, pun saat ia berubah menakutkan dan membuatku kelimpungan.

Sampai pada pernyataan itu sudahkan kamu paham mengapa keputusan untuk meninggalkan menjadi suatu keharusan? Ya, karena memaksa bertahan tak akan merubah keadaan.

Lelaki bermata sipit dengan wajah teduhnya, kamu. Terima kasih untuk cinta yang begitu luar biasa lebih dari siapapun. Maaf untuk kesalahanku memilih cara yang salah untuk menghentikan semua ketidakmungkinan. Terlepas dari apapun, bukankah kita berhak menikmati kebahagian dari jalan yang kita telah tentukan? Jadi mari untuk tidak saling memendam rasa dan mencabik-cabik luka.

Terakhir, ya kamu benar bahwa satu-satunya hal yang kita sepakati adalah senja yang meneduhkan. Tapi sekarang senja bagiku sudah berbeda, senja sudah tak lagi sama. Aku sudah berjalan menuju fajar, dan meninggalkan senja yang membuatku ketakutan. Bersenang-senanglah dengan senjamu dan aku akan berlari kencang menuju fajarku. Lagi-lagi kita harus sadar bahwa keadaan memang tidak bisa dipaksakan.

Salam hangatku, senjamu dahulu.