Senjaku masih saja sama, tak ada yang spesial. Matahari masih membenamkan diri dengan kilau warna yang sama, kuning mega mengkilau seolah mentertawakanku (lagi) karena aku masih saja duduk di kursi rotan lusuh ditemani secangkir kopi hitam hangat dengan cangkir yang sedikit retak dan pasti masih dengan satu kursi kosong di sampingku. Meski rotan lusuh yang sudah memudar, tetap saja aku berharap akan ada pria baik yang ingin mendudukinya dan enggan untuk beranjak meski tahu kursi yang kumiliki tak semegah sofa lainnya yang bisa ia duduki di tempat lain.

Dan di senja ini harapku masih sama, kamu akan segera datang lalu menemaniku untuk duduk bersama di beranda rumah dengan kursi rotan lusuh dan seruput kopi hitam hangat dengan cangkir yang sedikit retak untuk menunggu senja. Kekayaan yang kumiliki hanya itu, kursi rotan lusuh dan cangkir kopi retak, meski begitu apakah kamu akan tetap mau menemani senjaku?

Jika kamu ingin kekayaan yang lebih megah, aku tak memilikinya. Namun jika kamu ingin untuk menikmati apa yang kupunya, aku akan sangat bahagia. Kursiku memang hanya kursi rotan lusuh tapi kamu tahu, kursi itu sebelum ia lusuh juga pernah indah. Sudah banyak perjuangan yang ia lalui untuk tetap bisa bertahan, ia kuat dan ia sudah melewati semua musim untuk dapat bertahan sampai saat ini, sampai ia kumiliki dan menanti untuk kamu duduki.

Kursi rotan lusuhku memang tak indah seperti sofa yang orang lain miliki, tapi ia akan kuat untukmu duduk bersandar jika kamu merasa letih, termangu karena dunia yang kamu rasa tak adil bagimu, dan akan siap menopangmu jika kamu lelah dan ingin menangis. Aku juga akan siap untuk menjadi sandaranmu jika kamu merasa lelah di satu senja, dan bahkan untuk setiap senja yang kamu miliki selama hidupmu.

Aku yang akan mencoba mengubah tangismu menjadi tawa yang tidak akan pernah kamu lupa barang sedetikpun dan aku adalah tempat yang akan selalu kamu tuju ketika ingin menikmati senja di penghujung harimu.

Advertisement

Dan cangkir ku memang sudah sedikit retak, tapi percayalah itu tak akan mempengaruhi sedikitpun rasa kopimu, bahkan kamu akan lebih menghargai kopi hitam buatanku. Bukan perkara aku tak memiliki sedikit koin untuk membelikanmu cangkir baru yang lebih bagus, hanya saja aku ingin menghargai cangkir yang sudah lama menemaniku ketika menunggumu.

Ia yang selalu menahan panas ketika aku menuangkan air saat meracik kopi hitam untuk kuseruput di setiap senja. Ia yang selalu menemaniku tanpa mengeluh, berdiri sendiri di atas meja dan setia menunggu untuk kunikmati meski kutinggal di meja itu setelah senja berlalu.

Kamu akan sangat menikmati setiap tegukan kopi dari cangkir itu. Bagaimanapun keadaanmu nanti, aku akan menerimamu, apapun kekuranganmu aku akan siap untuk melengkapi dan kebersamaan kita tak akan pernah menjadi sia-sia karena aku akan menjaga setiap apa yang sudah aku miliki, dari awal hingga akhir.

Tidak dari senja yang mengkilau tetapi dari terbit fajar hingga malam kelam yang menyelimuti, dari kamu yang kutemui nanti hingga kamu menjadi angin yang akan mengusap lembut wajahku.

Tidak kah kamu rindu untuk segera bertemu denganku?

Karena aku di sini sangat merindukanmu. Karena untuk singgah dan mengenal banyak hati lagi sudah sangat membuatku lelah, aku hanya ingin bertemu denganmu dan memulainya dari awal. Kuharap kamu pun sudah lelah untuk mencari.

Jika kamu ingin bertemu, datang saja..

Aku akan tetap disini..

Aku, kursi rotan lusuh, cangkir retak dan Kau..