“Hai…hai, bangun…bangun. Kita sudah sampai di Labuan Bajo” Pak Dian membangunkan saya yang tertidur pulas beralas matras di dek belakang kapal. Tanpa cuci muka, buru-buru saya merapikan sleeping bag dan menata ulang barang bawaan di ransel.

Sore. Langit belum sepenuhnya sempurna merubah warna menjadi jingga. Para penumpang berebut turun tergopoh-gopoh menuruni anak tangga. Sanak saudara mereka sudah menunggu di ujung dermaga. Demikian para porter, menyambut penumpang yang butuh penolong mengangkut barang-barang. Riuh, bahagianya mereka selamat sampai tujuan.

Lima puluh jam lamanya saya naik turun transportasi umum dari Kota asal. Mulai dari roda tiga, roda empat, roda enam, hingga kapal penghubung antar pulau. puluhan kota yang tak mungkin saya hafal semua nama-namanya terlewati sudah. Empat selat terseberangi, delapan pelabuhan saya singgahi. Sungguh, perjalanan yang meremukkan badan. Dan yang paling membosankan adalah: kenyang mual karena terombang-ambing gelombang laut.

saya tiba di Bumi Flores!

Tujuan impian telah terwujud. Pulau impian sudah terjejaki. Di kepulauan kecil-kecil barat sana adalah tempat bersemayam satu-satunya hewan masa purba yang masih hidup di muka bumi (hanya di Indonesia) hingga UNESCO pun menyematkan kepulauan itu sebagai situs warisan dunia. Hewan bernama Komodo. Predator utama di Taman Nasional Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Advertisement

Benar yang di katakan seorang kawan. Sunset di Labuan Bajo memang sempurna, atau mungkin ini keberuntungan cuaca? Dalam pandangan mata begitu memesona. Ditambah lagi lekukan-lekukan bukit menjulang di kiri dan kanan, lenskap istimewa! Saya berjalan kaki menyusuri jalanan Labuan Bajo mengikuti arah redupnya senja, tanpa tahu dimana harus berhenti.

Entah sejak kapan saya selalu jatuh cinta dengan matahari sore. Bukan cuma di gunung, pantai, bangunan-bangunan tinggi. Di pemetang sawah pun rasanya betah berlama-lama. Menunggu ia berubah warna, dari putih, kuning hingga orange. Mengantarnya menyelinap perlahan di bagian bumi yang lain. Sedikit berlebihan mungkin, tapi nyatanya senja selalu menghadirkan romansa.

Dua puluh menit berjalan ke barat laut, saya tiba di Kampung Ujung. Kampung yang berhadapan langsung dengan Laut dan yang saya cari: Senja. Rumah panggung berjajar rapi, kadang terselip resort-resort sederhana pada deretan rumah penduduk. Ibu-ibu duduk di atas pondasi batas pemecah ombak, mungkin menggosip. Bule-bule di lantai dua resortnya juga memandang ke arah yang sama, ke arah barat.

Puluhan anak kecil membuntuti langkah saya menuju dermaga kayu sambil berbisik-bisik satu sama lain. Saya kagetkan dengan memutar badan secepat mungkin, dan saya gretak..Door! Seketika tawa meledak bersamaan, mereka terkekeh-kekeh.

Hari pertama menginjak tanah ini, sore pertama memanjakan mata pada alam Flores, besok keindahan apa lagi yang akan disajikan Nusa Nipa? Tunggu, senyum ramah dari tuan dan nona-nona kampung ini pun sebuah pertunjukan yang tak kalah istimewa. Apa lagi bisa bercengkrama dengan mereka dan bertukar cerita.

Bagiku (sekarang) keindahan tak semata di lihat, namun juga di rasakan. Ya, merasakan bahagia yang terpancar dari senyum tulus misalnya. Senyum tulus orang-orang di sekeliling, senyum dari kehidupan dari Kampung Ujung yang begitu jauh dari rumah.

Junaidi dan adiknya, Bocah asli Kampung Ujung ini hampir tidak pernah melewatkan sore untuk bermain di sekitar pondasi batas pemecah ombak. Demikian pula dengan teman-temanya yang lain. Entah itu bermain kejar-kejaran atau main bola. Yang saya tau, Junaidi dan adiknya paling antusias dengan sepak bola. Kaosnya saja jersey FC Juventus, hafal klub-klub raksasa sepak bola dari eropa pula. Dan dia juga sepertinya ada bakat di bidang olahraga ini, terlihat saat tadi menggiring bola melewati teman-temanya. Lincah dan gesit.

Mengobrol dengan anak-anak Kampung Ujung begitu menyenangkan. Tahu maksud kedatangan saya berburu sunset, mereka berebut saling menunjukan spot terbaik. “Di samping dermaga sana, bagus lagi kalau sambil naik perahu ke tengah, bagus di sana (sambil menunjuk ke atas bukit), enak di sini sambil main bola” celetuk anak-anak saling bersahutan. Kita bicarakan soal cita-cita, jawabnya semangat, ada yang ingin jadi Guru, Pemain bola, Dokter, dan Pencari ikan atau pelaut ulung seperti nenek moyang.

Paman si Junaidi bercerita kalau ingin sekali ke Jawa. Dia adalah pria berumur sekitar dua puluh tujuh yang ingin mencoba merantau di Tanah Jawa. Badanya kurus ceking. Kebetulan saudaranya ada di sana, di Surabaya kerja pabrik. Sebenarnya cari uang di sini juga tidak terlalu susah, dia seorang nelayan. Beruntung di Laut Flores tangkapan ikan begitu melimpah. Tapi, yang diinginkan hanya satu: Pengalaman. Sama seperti Junaidi dan adiknya, ketika ia besar dan sudah lulus sekolah nanti ingin mengadu nasib, mungkin di Metropolitan.

Terselip Do’a ketika matahari hampir separuh bulatnya tertelan ujung laut, Semoga anak-anak di Kampung Ujung ini mendapat hak mewujudkan mimpi dan cita-cita. Menjadi seorang yang di banggakan dengan potensi yang mereka miliki.

Adzan Maghrib berkumandang. Lantuanan ayatnya mengantar sang surya ke peraduan hingga tenggelam sempurna. Tinggal sisa-sisa berwarna jingga dan gurat langit yang semakin kelabu. Saya jatuh cinta pada senja untuk yang kesekian kali, dengan tempat ini. Kopi pahit sebagai hidangan pertunjukan sore sudah tinggal ampas. Rokok kretek juga tinggal isapan terakhir. Saya berlalu meninggalkan Kampung Ujung, berpisah dengan Junaidi, paman dan teman-temanya. Tidak lupa, di tutup dengan bernyanyi bersama lagu “SAYONARA”.