Ia diam, wajahnya menguapkan cairan-cairan keringat yang mendidih oleh amarah dari pelipis hingga lehernya. Sambil memandangi selembar foto yang nampak telah usang dari dompetnya yang berwarna cokelat muda. Matanya begitu berkaca-kaca, mendekati retak dan pecah kemudian berhamburan!

Hatinya tengah bernyanyi dalam-dalam, mungkin sebuah lagu tentang kepergian atau melepaskan. Wajahnya masih kusut bagai benang yang tak terpintal, kedua bola matanya masih saja tetap fokus menatap isi dalam kertas foto tersebut. Sepintas kelopaknya tergenang, padahal hujan belum terekam di sana. Beberapa detik berselang, beberapa embun jatuh dari pucuk mata yang sedang rapuh; menerima sebuah kenyataan pahit.

Ditinggal pergi adalah kebahagiaan yang menepikan janji, sebelum tiba ke hilir sebuah hubungan.

“Engkau pernah berdalih, di sebuah taman dekat sekolah; berkata bahwa aku mencintaimu, izinkan aku merawat cinta ini hingga ia menemukan persimpangan yang tepat untuk bertemu kembali” Kenangnya.

“Selepas kepergiannya, perkataan itu belum sepenuhnya aku pahami. Persimpangan yang seperti apa yang dia maksud? Apakah semua lelaki di dunia ini hanya mencintai dengan indahnya puisi”

Advertisement

**

Kelak yang tersisa hanya kesendirian. Kau pernah mengatakannya padaku saat masih sekolah dulu, aku masih sangat mengingatnya, bahkan aku mencatatnya dalam sebuah nama; ingatan.

Memulai kisah baru tanpa dirimu nampaknya menjadi pilihan terakhirku, seandainya kau tahu, memilih adalah hal tersulit jika pilihan itu tak sejalan dengan apa yang pernah kau janjikan. Aku berkila, jangan kau lupakan kenangan kita yang selama ini kita ukir, di tiang-tiang penyangga sekolah, tembok ruang kelas, bunga-bunga taman, bangku-kursi tua, hingga lantai-lantai retak yang tua pula.

Kilaanku tak selalu nyaman teruntuk masa depanmu, nampaknya. Puisi terakhir yang kau tuliskan padaku “Kepergian adalah teman saat ia datang” sepertinya tak indah lagi selepas kau membacakannya di hadapanku, beberapa sebelum bis yang menghantarmu untuk pergi tiba; meninggalkan waktu yang hingga sekarang kunamai dengan dalih menanti. Bahkan, pernah suatu ketika, wajahku berkeringat air mata ketika tak mampu lagi menahan segalanya.

Kamarnya masih sedikit berantakan. Selepas menjalani aktifitas perkuliahan seperti biasanya, Alissa membuka pintu dengan memutar gagang pintu kamarnya. Melepaskan semua yang melekat di tubuhnya kecuali pakaian yang memeluk tubuhnya (mungkin juga kenangannya). Dalam tasnya, sebuah buku berjudul Seorang Perempuan yang Hendak Membunuh Kenangannya ia keluarkan, dengan plastik yang masih membungkusnya.

Buku yang tidak terlalu populer, sebuah buku dengan judul yang masih rentang dengan kisah-kisah yang gagal dalam sebuah hubungan percintaan. Alissa kemudian menyandarkan bahunya dengan sebuah bantal hadiah ulang tahunnya di atas tempat tidur, sambil membaca buku yang baru saja ia beli dari sebuah toko buku dekat kampus.

“Mungkin, aku masih dibutakan olehmu. Sebab akalku masih dikacaukan oleh cinta. Dan seberapa banyak pun aku meminta dan berharap, kau takkan pernah kembali saat hatiku membutuhkannya”

“Ini yang kau sebut cinta?”

“Menunggumu bukan lagi pilihan, izinkan aku meninggalkanmu. Membunuh berbagai macam rindu yang selama ini menemaniku, menghapus semua ingatan yang pernah kau tuliskan kedalam lembar-lembar hidupku, dengan serpihan hati yang masih tersisa”.

“Dan jika ternyata, dia yang ada di sini, sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan saat kami saling menyembuhkan atau dia yang ikhlas merawat dan menyembuhkan lukaku karenamu”

“Salahkah itu jika aku mencoba bersama dia, karenamu?”

**

Seorang laki-laki berbadan atletis, bertubuh tinggi, dan terkesan kuat untuk pemuda seumurannya. Ia memang hobi berolahraga denga rutin, mengkonsumsi makanan dan minuman secara teratur tentu dengan kalori yang cukup untuk tubuhnya. Namun, tak serutin jika bersama perempuan!

Ia sangat mencintai Alissa sejak kelas satu SMA. Bahkan, pertemuan mereka terjadi ketika masih SMP. Namanya Iqbal, pemuda penyuka susu coklat dan buku. Di waktu senggangnya selalu di pakai untuk mengunjungi beberapa toko buku yang ia tahu, mencari buku-buku yang hendak ia ingin baca, kadang ditemani langsung oleh Alissa. Selain mencintai Alissa, ia juga menyukai sastra, salah satunya puisi.

Katanya, puisi adalah jelmaan seorang perempuan yang hendak menunggu untuk dicintai, yang terkadang tanpa harus dimiliki. Larik-larik katanya ibarat senyum, tawa, tangis dan bahagia yang mengalir, membentuk sungai yang hendak menuju ‘mencari’ ujung sungai ‘laut’ bait yang terasa sungguh serta menjadi konsumsi perasaan.

Pemaknaan Iqbal tentang puisi tentu alasannya tidak jauh dari Alissa.

Alissa beranggapan bahwa Iqbal adalah sosok sahabat hidup yang pas dan mengerti akan dirinya. Ia merasakan itu sejak perkenalan mereka menginjak umur dua bulan saat masih SMP. Namun, perasaan dari Iqbal sejatinya belum ia rasakan saat itu, dan nyatanya dari perasaan dirinya sendirilah benih-benih cinta tumbuh dalam hati Iqbal. Apakah ini yang dinamakan cinta?

Lembar demi lembar waktu kami lalui, terkadang menemukan berbagai macam titik, koma dalam perjalanannya. Aku kadang lelah sendiri akan hal itu; titik dan koma. Namun, Iqbal selalu berdalih bahwa titik dan koma hanya tempat pemberhentian yang sementara. Aku bahkan menanti sepasang tanda kurung yang mengurung kita berdua dalam sebuah kalimat indah nan puitis, iya!

Hanya kita berdua. Tak ada yang lain, selain kita. Lelahku beranjak saat aku mendengarnya, mataku kadang berkaca-kaca melihat ketulusan Iqbal menjaga semuanya untukku.

Setiap akhir pekan, sebelum aku dimintanya menemainya ke toko buku, ia selalu menyempatkan datang ke rumah. Dengan mengendarai motor kesayangannya, dan kemudian tak lupa menyalami Ayah dan Ibu atau sejenak ngobrol dan bermain bersama kedua adik-adikku. Sungguh pemandangan tulus yang kadang membuatku menangis bahagia.

Aku mengingat sebuah novel tentang kebahagiaan yang basah, ibarat alam saat menemani hujan membasahi bumi dan menghabisi awan. Ayah dan Ibu sangat menyukai sikap Iqbal, mereka beralasan bahwa lelaki mesti seperti itu. Namun, aku masih takut memberitahukan ke mereka bahwa Iqbal adalah kekasihku.

Selain rutin mengunjungi rumah, ia juga kadang mengajakku ke beberapa komunitas rumah baca yang ia ketahui. Mengajariku mencintai buku, menghargai isinya dan mengabadikan maknanya. Katanya, buku adalah satu-satunya teman yang paling sabar untuk menunggu (saat menunggu giliran untuk dibaca dalam tumpukan-tumpukannya). Selain tentang buku, ia juga mengajariku bagaimana cara menikmati kopi, bukan meminumnya.

Perihal pahitnya, itu yang menjadi esensi dari kopikan? Sekali lagi ia merangkaikannya dengan filosopis tentang kehidupan yang terkadang pahit. Aku sangat mencintai Iqbal, perasaanku tak lagi mampu mengutarakan apa dan bagaimana jika ditanya mengapa.

**

Hari kelulusan adalah puncak kelelahan yang berbahagia. Setelah tiga tahun lamanya beradu dengan lembar-lembar kertas dan ilmu pengetahuan. Namun, setelah aku behasil menyentuh puncak, badai itu datang. Menggoyahkan pijakanku, dan ‘memaksa’ tubuhku jatuh ke dasar kebahagiaan itu sendiri, kekecewaan. Iqbal akan mengikuti orangtuanya pindah ke Perancis. Tepatnya di kota Paris.

Sungguh nalarku tidak percaya dan sulit untuk menerima kenyataan itu. Kenyataan yang bagiku akan memupus dan menghampus sosoknya dari pertemuan di mana yang biasa sering matahari dan bulan rekam. Hatiku yang sebelumnya girang, seketika berubah menjadi situasi perang. Perang yang melawan diriku sendiri dari kenyataan.

Aku paham bahwa takdir tidak selamanya nyata, kenyataan hanya terjadi ketika kita sadar bahwa kehilangan kadang bahagia jika ia tak betul-betul dilupakan. Ketika pertama kali mendengar kepergian itu, hatiku sudah berkata dan menolak untuk tidak bertemu lagi dengannya, sebab hatiku lemah dan takut jika mendengar hal-hal yang berbau perpisahan.

**

Hampir mati dalam penantian yang tak bertepi

Hati memang terbuat atau tercipta dari apa? Apa dapat sekuat itu menahan dan bertahan di karenakan salah satu ujian hidup seperti ini; di tinggalkan!

Salah satu teman dekatku pernah berkata bahwa hidup ini memang penuh dengan tanda Tanya, termasuk jodoh kita nantinya. Ia memaksaku percaya bahwa, bertanya dan percayalah kepada hal yang kau percayai; ia akan menjawabnya dengan jawaban yang hidupmu butuhkan. Aku selalu mengakui bahwa perihal hati dan perasaan, aku sangat lemah. Mungkin, karena Iqbal adalah cinta pertamaku.

Waktu menjelma menjadi selimut buatku, bukan lagi ucapan selamat malamnya yang mendongeni, menemani serta menghangatkan tubuhku saat tidur kadang berubah menjadi tali yang mengikat tubuhku merasakan rindu, hingga sampai pada mimpi-mipiku. Rindu yang berasal dari kecewa, kecewa yang di karenakan oleh laki-laki yang mencintaiku. Apakah mencintai harus selamanya merasakan kecewa?

Tuhan selalu bersama dengan orang-orang yang merasa kecewa, termasuk jatuh cinta. Entah jatuh di tempat yang tepat atau tidak.

**

Suatu malam aku terbangun, dengan mata yang memerah dan wajah yang berair. Nafas terengah-engah, jantung memompa darah lebih cepat dari biasaya. Aku terbangun dari mimpi ketika aku di dapati perasaan sedang membunuh; membunuh diriku sendiri atas kerinduannya yang setengah mati merenggut hampir seluruh hidupku.

“Atas segala cinta yang pernah kita rawat, aku masih percaya atas semua yang pernah kau layangkan, walau ada beberapa bagian yang tak kumengerti”

“Lantas, apa yang membuatmu seperti ini? Laki-laki lain? Atau ketidaksabaranmu?”

“Bukan keduanya!”

“Lalu?”

“Sudahlah, kau sudah membuat harapanku berbahagia sirna Iqbal. Hatiku kecewa kau tinggalkan saat merayakan bahagia ketika kelulusan kemarin!”

“Kau bisa jadi perempuan yang kuat Lis, merasakan kecewa saat bahagia”

“Maksud kamu?”

“Adakah kekecewaan yang rasakan sebelum kau betul-betul kecewa bersamaku?”

“Tidak ada!”

“Kecewa yang kau rasakan kemarin adalah bahagia kita di masa yang akan datang, aku mencintaimu”

“Dan?”

“Bunuhlah aku, makamkanlah tubuhku tepat di hatimu, agar abadi dalam dirimu. Dan aku ingin, kenangan kita yang menjadi nisannya”

“Aku hanya ingin membunuh rinduku”

“Iya, bunuhlah! Aku merestui hubungan kita”

“Maaf, bal. Aku mencintamu!”

“Aku juga mencintaimu!”

“Kalau begitu, tinggalkan tubuhku~menjauhlah darinya. Aku ingin merawat lukaku sendiri”

“Jika itu yang kau pinta; iya”

**

Tak banyak cara Tuhan menghadirkan cinta. Mungkin, aku dapat memposisikan diriku sebagai perempuan yang tengah terluka. Lalu merawat luka itu hingga sembuh, atau belajar memisahkan antara sakit, luka dan kesedihan.

Hatiku berdiri tepat di persimpangan jalan. Tepatnya di pertigaan jalan (masa); lalu, kini dan nanti. Aku masih ragu memilih jalan mana yang akan kutempuh, hatiku masih terlalu mencintai kenangan yang lalu, walau rindu telah mati di tangan pemiliknya. Masa kini adalah kekasih yang terbaik, memberikan segala kasih dan cinta tanpa membuatku lupa masa lalu.

Ia menjelma menjadi laki-laki yang mencoba menemaniku merawat luka, mengobati rindu, dan mencintai kelemahanku; beningnya mata~keningnya cinta!

Masa yang akan datang adalah rahasia bagiku. Sedari kini, kau harus mampu mengajariku tentang waktu dan masa. Jika suatu saat, hatiku memilihmu~bagaimana kau mencintaiku?