Jujur sebuah sukma telah kulepas bersama sang napas, sekantung senyuman kuikatkan pada batang bambu yang telah menguning. Sudahi, pelukis yang menulis di atas kehidupannya, di sebuah persimpangan jalan yang berkelok, tepat sebuah jembatan antara senyum dan air mata.

Di tempat pemberhentian mata, seorang wanita berpayung hangat berdiri. Menapaki setiap permukaan aspal yang basah, hujan baru saja berakhir. Kulihat matanya tergenang, belum sempat menutupi wajahnya yang memerah. Garis-garis pipinya membentuk, seorang gadis dengan segudang masalah yang menjadi perhatianku di sore itu. Sekilas dengan kegundahan, ia nampak anggun dan cantik sore itu.

Tiba-tiba saja, perempuan lain datang saat belum usainya yang pertama. Ia menidurkan sukma yang jatuh dari relungku yang berdusta. Di dalam samudera terdapat keindahan karang, di atas langit terdapat hamparan galaksi yang tiada tara, di puncak gunung tersimpan hamparan keindahan lelah yang memuncak impian. Jiwa dan hatiku berdiri, membuka topi penghalang matahari, saat bulan datang dengan senyum yang memuncak.

Ku jumpai koma dalam titik-titik hujan barusan, memberiku jalinan pemberhentian yang sementara saja. Aku tak menemukan tanda lagi saat wanita yang sudah tak cantik lagi mempercantik.

Advertisement

Kuberani merindukan siapapun yang menganggap dirinya pantas, kubuka segala bentuk perhatian sederhana kepada belaian rambut saat tidak tertutupi adat. Kubiaskan separuh cahaya mataku, kuberikan separuh kepada mereka yang tak bisa melihat cahaya di wajahnya sendiri. Walau sebuah cermin menemaninya..

Aku selalu menyebut cantik milik semua lawan jenisku, namun aku juga selalu bilang, cantik bukan hanya milik wajah yang menyombongkanmu.

15 Maret 2015; Tepat beristirahat di sebuah rumah kecil—Makassar