Untuk kedua orang tuaku tersayang disana yang kami tinggalkan.

Terimakasih atas segala yang telah kalian berikan kepada kita anak-anakmu yang terkadang melupakan kalian. Untuk segala pengorbanan yang kalian berikan pada kita baik materi, pendidikan, serta kasih sayang yang tidak pernah ada habisnya untuk kami.

Maafkan kita yang sering tidak bersyukur menjadi anak kalian dan sering menuntut hal-hal diluar kemampuan kalian. Maafkan terhadap segala amarah, kata-kata yang seringkali menyakiti hati kalian karena kita terkadang tidak beripikir dahulu apakah kata-kata tersebut menyakiti hati kalian.

Untuk Ayah,

Selama kita hidup dan bertumbuh kita sering kali tidak memperhatikan betapa berat beban tanggung jawab yang Ayah rasakan. Kita hanya meminta uang meminta barang yang kita inginkan tanpa berpikir bagaimana susahnya Ayah mencari sepeser Rupiah dengan bekerja sampai larut malam mencari uang tambahan. Namun terkadang setiap ayah pulang ke rumah sehabis bekerja, kita menuntut hal-hal yang memberatkan pikiran ayah. Kita tidak berpikir dan merasakan betapa tuntutan kita sangat membebani.

Advertisement

"ayah aku ingin motor/mobil baru, malu-maluin banget! "Ayah kenapa rumah kita ga pindah-pindah sih, nyewa mulu, aku malu ngajak temen kerumah!" "kok ayahku kek gini mending aku lahir dari keluarga lain aja!"

Betapa hancur hati ayahmu saat mendengar kalimat tersebut, pernahkah kamu melihat ayahmu bersedih akan hal itu? Jarang kita melihatnya bersedih maupun menangis, ayah hanya memendamnya, berpikir sendiri, dan terus berusaha memenuhi kebutuhan kami yang terlalu banyak tersebut.

"Apakah kamu pernah sesekali memperhatikan ayahmu saat tertidur? terkadang dalam pikiran kita ini ayah mengganggu dengan dengkurannya saja tanpa melihat lebih dalam dari raut wajahnya.

Ya coba perhatiakan ayahmu, ayah tertidur dengan kening yang berkerut seakan dalam tidurpun ayah memikirkan segala beban yang ditanggungnya, memikirkan pendidikanmu, kebutuhanmu, KEINGINANMU yang tidak pernah ada habisnya. Belum lagi masalah kerjaan yang tiap hari ayah lalui untuk tetap bertahan dan mencari nafkah untuk kita. Ayah juga butuh ruang dan seseorang untuk meluapkan pikirannya dan perasaannya. Apakah kita pernah mendengarkan sedikit saja cerita yang mereka hadapi? sekedar meluangkan waktu sebentar untuk mendengarkan cerita ayah? Maafkan kita ayah terkadang kita melupakan hal itu dan lupa bersyukur atas perjuanganmu.

Untuk Ibu,

Ibu yang selalu ada, selalu mengerti diri kita, merasakan apa yang kita rasakan, karena ibu yang terikat secara batin dengan kita karena ibu yang melahirkan kita. Namun apakah kita sering memikirkan Ibu kita?

"Kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah"

Pepatah tersebut semakin hari semakin jarang kita dengar bahkan terlupakan dalam benak kita. Namun, kasih ibu memang tidak pernah ada matinya untuk kita. saat kita bersama dengan teman disaat kita bersenang-senang diluar rumah, Ibu di rumah menunggu kabar kita dan mengkhawatirkan kita. sering kali kita menganggap ibu terlalu "lebay" namun itu memang bawaan hati ibu.

Ibu memang bendahara dalam keluarga, setiap uang/gaji yang diberikan oleh ayah, ibu yang selalu memanajemen uang tersebut. Diluar biaya hidup, tidak jarang ibu mengepress dan menahan diri untuk berbelanja untuk pribadinya, ibu lebih mengutamakan membagi uang bagi pendidikan kita secara maksimal dengan harapan kelak kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih enak, lebih dipandang, dan menjadi kebanggaan ibu dan ayah.

Tapi, kita sering kali tidak berpikir bahwa pendidikan itu penting, ke sekolah/kampus hanya untuk bertemu teman bersenang-senang dengan nongkrong dengan teman menghabiskan uang jajan yang orang tua berikan. Kita sungguh tega bukan??

Pernahkan kita memperhatikan wajah, postur tubuh, danmelihat tangan kaki ibu kita? setidaknya melirik saja, pernah?

Wajah ibu yang terlihat kelelahan dan memaksakan untuk selalu tersenyum dihadapan kita, postur tubuh ibu yang semakin bungkuk karena harus mencuci pakaian kita setiap harinya dengan membungkuk, kaki tangannya yang kasar dan pecah-pecah karena bersentuhan dengan detergen dan sabun. Ibu berjuang tanpa memikirkan kesehatan dirinya.

Ibu hanya berpikir agar kita tidak kesusahan dan dapat menikmati hari tanpa terbebani urusan rumah.

Ya ayah ibu, kami tahu sekarang kami mulai mengerti,

kami sudah bekerja merasakan bagaimana beratnya meski kami belum berkeluarga.

kami mulai kehilangan teman satu per satu, dan kami sadar bahwa kalian lah yang selalu bertanya kabar tentang keadaan kami. Tak Jarang kalian ingin mengirimkan uang pada kami agar kami tidak kekurangan di tempat kami sekarang. Terima kasih ayah ibu dan kami mencoba menolaknya.

"Bagaimanapun, kami adalah orang tuamu, meski nominal yang kami beri tidak sebesar gajimu, ijinkan kami untuk memberikannya karena wujud kasih kami yang jauh dari kalian"

saat kalian berkata seperti itu hati anak mana yang tidak bergetar, beribu terima kasih pun tidak pernah akan cukup untuk membalas cinta kasih kalian berikan pada kami.

"Ayah Ibu kami berjanji untuk dapat membanggakan kalian bagaimanapun caranya, maaf untuk segalanya karena pendewasaan yang mengubah pola pikir kami akan kalian"