Kata demi kata kujalin, membentangkan jembatan cerita antara diriku dengan seorang wanita istimewa yang menjadi sahabat pertamaku sejak aku hadir ke dunia.

Mungkin pada mulanya, suaraku bukanlah suara yang indah untuk engkau dengar. Betapa tidak. Aku menjerit luar biasa bising ketika engkau melahirkanku, pertanda aku tumbuh sehat di dalam rahimmu yang hangat oleh cinta dan kasihmu. Kaki dan tanganku menggeliat tak sabar, merasakan kelegaan dan angin sejuk menerpa tubuh telanjangku yang kecil. Seketika aku berhenti menggigil saat lenganmu yang halus dan hangat membungkusku, menyambutku dengan senyuman terindah, mungkin ditambah dengan satu dua titik airmata.

Kala itu aku sungguh tak tahu, rasa sakit macam apa yang harus kau lalui demi memperkenalkanku pada dunia. Aku terlalu lugu dan acuh untuk mencari arti dibalik lengkung bibirmu yang pucat, dibingkai oleh wajahmu yang berkilau basah oleh peluh. Engkau menyembunyikannya dengan sangat baik. Kurasa kehadiranku telah membuatmu lupa akan semua itu.

Tapi, bahkan hingga saat ini, aku seringkali lupa. Bukannya menjadi putri yang bisa kau banggakan, aku malah menambah rasa sakitmu, dalam wujud yang berbeda. Kekecewaan, kemarahan, dan kesulitan, seringkali kusemai benih-benih itu ke dalam hatimu. Kelelahan yang harus kau tanggung kala menghadapi keegoisan dan sikap kekanakanku, pekatnya kegelapan yang menemanimu kala harus terjaga menunggu kepulanganku yang tengah bersenang-senang di antah berantah, atau merawatku yang tidak bisa menjaga diri dengan baik.

Aku seringkali marah saat engkau menegurku, demi kebaikanku. Bisa saja engkau mengabaikanku setelah itu, namun tidak engkau lakukan. Engkau tak bosan beradu mulut denganku, meskipun itu menjengkelkanku dan membuatmu sedih. Semua kau terima, asal engkau bisa menyelamatkanku dari segala hal buruk nan menggoda yang ditawarkan dunia padaku. Dan aku masih belum menyadari cinta dibalik renggut kesal dan bentakan paraumu.

Advertisement

Sampai tanpa sengaja kulihat punggungmu melengkung renta, menunduk. Tatapan kosongmu mengawang entah kemana. Kutatap lama sosokmu, menyadari waktu telah menggerogoti jiwa dan ragamu perlahan-lahan. Gurat samar yang digores kacau balau di wajahmu tak menghilangkan kecantikan murni puluhan tahun silam kala kita pertama bertemu. Kadang kala kudengar hela nafasmu yang berat, mengirimkan beban ke pundakku, menamparku dengan kenyataan betapa payah dan rendahnya diriku karena belum mampu menghiasi wajah sayumu dengan senyuman.

Apa yang bisa kuberikan untuk membayar semua yang telah engkau lakukan untukku selain doa, Ibu? Aku, yang tak berguna dan tak bisa apa-apa ini. Hanya doa, yang kutahu, yang bisa membayar itu semua. Doa yang kupanjatkan kepada-Nya agar engkau diberi kesehatan, usia panjang, dan kebahagiaan tiada henti.

Aku pun ingin memohon ampun, untuk segala kesalahan, ucapan dan perbuatan, yang telah membuat airmatamu berlinang. Aku tahu, bahkan bila aku bersujud tak putus memanjatkan doa dan membiarkan kakiku melebur dengan tanah yang dingin, takkan cukup untuk membayar semua yang telah engkau berikan padaku, Ibu.

Kuharap dengan sisa waktu yang kita miliki, aku masih berkesempatan menjadi putri yang berbakti untukmu.

Kiranya kuakhiri surat ini dengan permohonan maaf atas kepayahan dan segala kekuranganku.

Maafkan aku, Ibu…

Dan terima kasih…

untuk segalanya…