Dia berada di sebelah kiri jalur waktu itu. Jalur turun. Duduk kelelahan di atas sepetak tanah yang cukup lebar, di bawah pohon besar yang tak lebat daunya. Tanganya masih memegang botol air mineral. Duduk berdua dengan seorang lelaki, dan saya menduga yang disampingnya itu kekasihnya. Bukan tidak mungkin, kan?

Butiran keringatnya membintik di gurat wajah. Saya ingat, Dia memakai jilbab warna coklat muda dan jaketan tebal warna krem. Sepatunya biru. Kalau tidak salah Dia memakai celana warna hitam, bagian belakangnya kotor kena bekas tanah yang didudukinya sepanjang jalur pendakian.

Langkah kaki saya hentikan, dan kupandang lekat-lekat lagi wajah itu. Kali ini dari jarak dua meter (sebelumnya agak jauh dibawah).

Dia menoleh, menatap saya juga.

Cuma butuh waktu tiga detik untuk saling mengeja. Maksudnya, saya dan dia sama-sama mengingat. Dimana wajahnya yang tak asing bagiku, wajahku tak asing baginya. Ya, cukup dengan tiga detik. Kemudian kami saling menyebut nama. Kusapa namanya, disapa juga namaku.

Advertisement

Dia ini, yang di depanku adalah kawan sejak lama di list kontak blackberry. Dua tahunan kami saling chating, saling sapa. Sekalipun tak pernah bertemu langsung, tak pernah bertatap, dan tak pernah saling mengenal suara. Yang kuketahui tentang dirinya, wajahnya, keluh kesahnya, cuma dari display picture BBM dan dari personal massage.

Kami berjabat. Seolah bertahun-tahun tak bertemu kawan lama. Saya menjabat lelaki di sampingnya juga, terkesan cuek, tapi biarlah. Kami saling memberi senyum. Aduh, senyumnya, yang kumaksud bukan lelaki itu ya, tapi senyum seorang perempuan yang baru ku jabat tadi, yang hanya bisa ku kagumi lewat foto-foto keseharianya.

Ada satu lagi yang membuatku selalu terbayang: Alis matanya yang tebal.

Benar. Saya cukup kagum melihat dia, walaupun cuma dari foto. Apalagi melihat fotonya yang memakai topi merah lebar, berkacamata hitam, duduk di bibir pantai mengenakan baju coklat tua. Entah perasaan kagum yang bagaimana ini. Wajahnya itu menyenangkan. Riang ikhlas seperti kaum sanguinis populer yang selalu terlihat memesona. Daya tarik yang penuh pertanyaan dari mana datangnya. Dan sekarang Dia ada di hadapanku, baru saja ku sentuh jemari lembut itu disini. Di rimba Pawitra. Sungguh, kebetulan yang menyenangkan!

Teringat lagu dari Band Indonesia yang cukup terkenal. Judulnya: “Pandangan Pertama”.

Selanjutnya, tidak ada obrolan yang bararti di tengah rimba ini. Agak canggung memang, selain masih baru pertama kali bertemu, juga karena ada lelaki lain di sampingnya. Oh, barangkali bukan lelaki “lain”. Saya coba mengoreksi asumsi yang tiba-tiba bergelanyut di pikiran. Kemudian kami berpisah, tapi saling susul, saling menyalip. Di iringi senyum ketika Dia duduk istirahat, dan saya lewat. Juga sebaliknya, senyuman itu di tebar lagi ketika saya duduk istirahat, dan Dia lewat. Seterusnya. Sampai senyum itu benar-benar hilang di ujung kaki Pawitra.

Saya terkesan. Rasa lelah rontok seketika.

Pawitra: Sebutan lain dari Gunung Penanggungan, selalu memberi kejutan. Gunung pelarian saat penat melanda. Gunung yang juga di sebut-sebut sebagai miniaturnya Semeru. Atau gunung yang berjuluk seribu candi itu. Pawitra, selalu melahirkan banyak cerita.

Terlepas dari pertemuan ini, saya punya cerita lain sekitaran tiga tahun lalu. Di Pawitra. Setahun sebelum pertemuan ini. Dan ceritanya begitu kontras, bisa di bilang menjengkelkan. Tapi ada sisi baiknya: Melatih sabar.

Akan saya ceritakan juga.

Tiga tahun lalu. Jadi pernah saat itu badai di Puncak Bayangan. Pandangan hanya sekitar dua meter. Berkabut. Hujan turun deras. Hari itu tiga tenda saja yang berdiri disana, termasuk tenda saya. Angin berhembus kencang, frame tenda sampai retak dan akhirnya patah. Berdua dengan kawan, lekas-lakas kami perbaiki dengan tali seadanya, yang penting, setidaknya aman untuk bermalam dihari ini.

Dua orang datang. Suara “permisi” yang sedikit kabur terlontar dari luar tenda. Mungkin ini “pendaki”, pikirku. Tapi bukankah orang yang naik gunung memang disebut dengan “pendaki”, kan? Pendaki yang mau repot menggendong tas raksasa, dengan peralatanya, pengetahuannya tentang navigasi, survival, membawa resiko besar, dan segala macam tetek mbengeknya. Ya, ini pendaki yang datang!

“Mas, pinjam selimut ada? kita nggak bawa tenda, teman saya sakit, sekarang lagi tiduran di sana” celetuk pendaki dari luar sambil tanganya menunjuk arah puncak. Hujan deras. Berkabut, pandangan hanya berkisar dua meter. Badai angin menggelegar menabraki tenda. Petir di luar juga menyambar-nyambar, mengkilat putih di langit gelap. Saya menyangga tiang frame sebelah kiri, khawatir roboh lagi.

Seperti ini kondisinya, mereka tidak bawa tenda? Belakangan saya tahu, mereka juga tidak membawa logistik. Jangan tanya soal tas ransel raksasa, mereka kesini: naik gunung, hanya bawa karpet seperti yang di pakai saat pengajian, di panggul bergantian diatas kepala. Dan yang buat saya geli ada lagi, mereka “berdelapan” membawa helm! Mungkin barangkali disini: di atas gunung ini ada razia kelengkapan berlalu lintas, ya?

“Suruh masuk sini saja temanmu yang sakit, tapi kalau berdelapan masuk semua tidak cukup” Jawabku. Semoga dia paham kalau tenda ini berkapasitas empat. Kalau tidak paham, berarti ada kemungkinan mereka menginginkan semuanya masuk.

Saya terheran, tak bawa apa-apa para pendaki ini. Mungkin yang dibawa cuma satu: Nyali! Yang lain? tidak penting barangkali.

Yang sakit masuk bersama dua pendaki lain dengan keadaan basah kuyup. Teh hangat saya hidangkan, roti juga. Di dalam tenda ada lima orang termasuk saya dan kawan saya, berarti yang di depan lima orang. Tidur beratap langit hujan, di hempas-hempas angin badai, beralas karpet pengajian yang pastinya sudah basah dan kumal kena tanah.

Tersiksa? Saya bisa bayangkan bagaimana penderitaan delapan “pendaki” ini. Terutama yang di luar. Sebenarnya tadi sudah saya sarankan supaya mereka yang berlima ikut gabung dengan dua tenda di sebelah, lumayan, kan? barangkali tenda sebelah berbaik hati bisa menolong. “Katanya sudah penuh mas di tenda sebelah”. Ujar salah satu dari mereka.

Hmm…Sungguh malang nasibmu, rek!

Ternyata mereka punya solusi untuk sedikit mengurangi penderitaan di luar sana. Mereka buat kesepakatan. Mereka bergantian, keluar masuk tenda. Yang di dalam di beri waktu setengah jam, lalu yang di luar ganti masuk tidur sebentar. Terus menerus bergantian seperti itu selama hampir tiga jam. Melompati tubuh saya yang berbaring sadar tanpa permisi. Perlakuan macam apa ini? Saya cuma bisa mengumpat kesal dalam hati.

Sekarang sudah jam satu pagi. Bagaimana keadaan dalam tenda? Tidak karuan! Semuanya basah. Sleeping bag basah. Baju ganti kering basah! Saya menggeram, meledak-ledak ingin berteriak meluapkan emosi. Dan tahu emosi saya bagaimana? Saya menyuruh mereka: Berdelapan masuk semua ke tenda. Semata-mata biar tidak bolak-balik keluar masuk tenda, yang malah bikin tenda banjir kana tetesan air dari delapan pendaki ini.

Duduk merapat kaki terlipat, terjaga menjaga delapan pendaki, dengan total di dalam tenda sepuluh orang. Sudah pasti bakal sesak tak bisa gerak! Dan dengan senang hati, tak keberatan sama sekali mereka mengiyakan kemauan emosi saya ini. Dengan senang hati. Tanpa sungkan, sedikitpun!

“Helmnya letakkan diluar saja mas. Jangan di masukin tenda. Tidak cukup!” Saya berkata sambil hati tersulut-sulut. Kapan mereka kapok? Kapan mereka berhenti meremehkan cuaca gunung?

Saya terkesan. Saya tak henti-henti menyebut Nama Tuhan.

***

Perjumpaan melahirkan kenangan. Kenangan dengan rupa kesan masing-masing. Entah itu kesan indah atau pahit sekalipun. Entah perjumpaan itu berakhir baik, atau biasa-biasa saja. Tapi, setiap orang pasti mempunyai keinginan dan harapan baik, bahkan istimewa setelah perjumpaan terjadi, bukan?

Seperti pertemuan saya dengan Dia disini. Dengan perempuan Istimewa beralis tebal itu. Di Gunung Penanggungan. Yang setelahnya menjanjikan mimpi-mimpi tentang kebahagiaan, romantisme, petualangan bersama, dan apapun lainya tentang kebersamaan. Bersama dia.

Hampir tiga tahun kurang tiga bulan ini, sesudah pertemuan di belantara Pawitra itu saya sukses menjadi pengecut yang merahasiakan rasa dalam-dalam. Pengecut yang hanya bisa membahagiakan hatinya sendiri dari gambar-gambar, dari pertemuan-pertemuan singkat.

Kesempatan seperti datang tapi tidak pernah datang. Keadaan mengkamuflasekan segalanya. Kurasa Dia dan semua orang juga tidak perlu tahu apa yang terjadi. ya, biar Pawitra saja yang menjadi saksi awal. Yang lainya tak perlu tahu tentang alasan-alasan sebenarnya. Betapa kuat alasan itu!

Saya bersyukur, pernah merasakan indahnya proses ini. Proses menjalani kisah ini. Tentang Dia. Pertemuan dua tahun yang lalu itu mengajari merelakan, adanya perasaan yang memang benar-benar suci, mengikhlaskan, tak memiliki seperti memiliki, dan memiliki tapi tak memiliki. Menggantung tak jelas berasama proses yang mengindahkan hidup. Menggantung tak pernah tau isi hati yang porak-poranda.

Tidak pernah memiliki.

Petualangan menyiapkan kejutan untuk para pejalan. Dimanapun itu. Mau tak mau, tertarik atau tidak tertarik, tetap wajib kita melaluinya. Merangkumnya menjadi sebuah catatan hidup, untuk di kenang dan untuk direnungkan.