Cahaya di mataku meredup bersamaan dengan datangnya segumpal awan hitam di atasku, disusul suara gemuruh yang membisikan kekhawatiran tentang perpisahannya dengan langit, di hari ke lima, bulan ke dua, tepat tujuh hari setelah perpisahanku denganmu. Ketika itu hati dipaksa untuk merayakan sakit yang datang tiba-tiba. Seakan airmata ditahan untuk alasan yang lebih menyakitkan. Meski nyatanya yang jatuh pasti menyakitkan. Dan jatuh cinta kali ini, telah berhasil membuktikannya.

Anak-anak angin bermain di tengkukku, berselancar di antara pori-pori kepalaku. Hari ini ada yang merayakan sesuatu, daun-daun, rambut ikalku, dan rerumputan di sekitar kakiku menari, mengikuti kemana arah anak-anak angin berlari. Lalu tak lama kemudian satu-satu butir air jatuh di pangkuanku, meninggalkan bercak dan dingin di tubuhku. Hujan jatuh lebih cepat dari perkiraanku.

Aku mulai suka hujan yang jatuh tiba-tiba, seakan-akan semesta mengerti, bahwasanya aku memang tengah butuh tempat bersembunyi. Sebab bagiku, di hadapan hujan semua tampak sama.

Seperti ketika, di suatu sore kala itu. Aku berlari menghantam hujan, mencari tempat berteduh paling aman. Namun seketika kutertegun cukup lama, melihatmu tak sekhawatir yang kupikir. Kau membuka jemarimu, seakan-akan membiarkan hujan berkumpul di telapak tanganmu yang gemetar. Seakan menyaksikan pertunjukan sirkus di taman kota, kau tertawa begitu bahagia. Entah apa gerangan, namun bagiku tak jadi pikiran. Sebab aku lebih senang menelisik bahagia yang tercurah di balik hujan; seraut wajah basah yang merona, entah karena menahan dingin, atau suka cita yang memang tak beralasan, bermain-main di pipimu yang ranum. Kala itu aku cemburu, melihat hujan tak ada jarak dengan tubuhmu. Seakan-akan kau beri kuasa atas segala yang kau punya. Seperti hujan tak perlu lagi berharap lebih dulu, untuk mendapatkan semua itu. Ia hanya perlu jatuh, dan seketika itu juga ia bisa memilikimu.

Barangkali hanya hujan yang memiliki anugerah seperti itu, tidak aku. Aku sudah jatuh, dan merasakan sakitnya berkali-kali. Namun lebih dekat sejengkal denganmu pun tidak. Bahkan di hari perpisahan kita, hanya jemari kita yang saling bercumbu, tak ada peluk yang kutunggu-tunggu. Bahkan tak ada lambaian tangan. Karena jika memang bukan perpisahan, lalu ini apa? Jika memang akan ada hari setelahnya, menurutmu berapa presentasi kemungkinan kita masih sama, seperti dulu?

Advertisement

“Hei, kau sedang apa?”, tanyaku berteriak.

“Membantu mereka. Menurutmu berapa presentasi kemungkinan butir-butir air ini bisa berkumpul kembali di tempat yang sama, ketika mereka kembali menjadi awan?”, jawabmu. Aku hanya diam, dan mulai melakukan apa yang kau lakukan, dengan suka cita. Sama sepertimu.

Mungkin dulu kita sama seperti hujan. Pernah ada dalam satu masa, dalam satu tempat yang hanya kita yang punya. Sebelum akhirnya, kita jatuh. Dan aku, ialah butir air yang tak tertangkap. Hingga kembali bersamamu, hanyalah seberkas harapan yang tak terucap.