Tak terasa, hujan turun seperti biasanya, dengan serangkaian kemenangan. Begitu lebat, hingga angin pun tak sudi untuk lewat. Dan samar-samar, kulihat engkau termenung ditempat yang sama seperti kemaren. Setiap sore, kamu menunggu petang seakan ingin mengantarkan sang mentari ke peraduannya.

Selalu sama, kamu dengan secangkir kopi yang mulai mendingin. Sedingin tatapanmu pada gradasi senja yang perlahan menjadi kelam. Mungkin, ada hal lain yang belum terealisasikan atau mungkin juga tak terselasaikan.

Apakah kamu tahu? Aku tetap setia dan masih mengamatimu dari radius sekian meter, ditempat yang sama dan pada waktu yang sama juga. Dan setelah sekian lama, aku masih enggan untuk menyapamu untuk sekedar bertanya.


Saat mata senja berlinang jingga, engkau hanya terlalu bahagia mengenang luka, seperti pergi yang lupa jalan pulangnya.


Bersama dengan terang warna senja yang menjadi gelap, hujan tak kunjung berhenti. Aku terdiam mendengar rintik hujan di malam hari. Seperti melodi yang menlantunkan sepi. Mengapa memejamkan mata justru semakin membuat aku terbelalak.

Advertisement

Bahkan aku tersesat dalam kabut tak dapat menemukan dirinya yang entah siapa. Dan kau tahu, rindu memang menguasai apapun. Aku merindu purnama dalam gelap, mimpi disaat terjaga dan senyap dalam lelap.


Rindu. Ya, aku rindu. Sedang merindu. Karena kau seperti senja, datang hanya untuk pergi. Dan disini aku tertinggal bersama rindu.