Senang bisa kembali kesini,ke tempat dimana kau tak dapat melihatku,tempat terbaik untuk mengakhiri hari-hari kejam yang tak penah mengizinkan kita untuk bersama. Dari sini aku bisa menyaksikan setiap gerak-gerikmu, mendengarkan semua celotehmu, menyaksikan kau tertawa, bersedih bahkan saat kau kecewa, aku disini,meski kau tak melihat.

Ingin sebenarnya aku berada disana, berdiri dihadapanmu, menatap matamu, dan mengucapkan apa yang sudah lama ingin kukatakan, tapi tak mungkin rasanya. Aku ini wanita dan terlalu agresif jika aku melakukanya bukan? Sadarkah kau akan kodratmu? Atau kau terlalu pemalu untuk melakukanya?

Aku selalu tau, matamu mengawasi setiap inci dari pergerakanku, tak jarang kau curi-curi pandang saat aku sengaja lewat depan rumahmu. Aku senang kau melakukanya, tapi kau tak pernah melakukan tindakan lebih dari itu. Aku ragu, benarkah rasa itu ada padamu? Atau aku yang terlalu berharap?

Tak jarang aku mendengar teman-temanku menyenggol topik tentangku di depanmu tapi kau seolah tak peduli. Apa kau malu? Atau memang rasa itu tak pernah ada. Salahkah aku jika aku memendam rasa padamu yang menyimpan banyak ketidakjelasan?

Sesekali kau lemparkan senyum manismu padaku, aku amat bahagia untuk itu.Tapi senyum seperti apa yang sebenarnya ingin kau sampaika? .Senyum karena aku ini temanmu atau lebih dari itu? Sinyalmu terlalu samar untuk dapat dibaca. Sebenarnya apa maumu? Aku sudah mencoba sedikit lebih agresif dari biasanya. Ini memalukan tapi kulakukan untukmu, tapi tampaknya kau biasa saja tak ada yang berubah darimu.

Advertisement

Sifatmu ternyata tak semanis senyummu, hari ini kau berusaha berlari agar kukejar, menghilang agar kucari. Aku tak mengerti seperti apa rencanamu. Hei,berjuang tak sebercanda itu. Mengertikah engkau bahwa seharusnya kau yang mengejarku bukan sebaliknya. Aku tau memang kelihatannya kau belum mengerti bagaimana untuk memulai.Tapi haruskah terus begini?

Dapatkah kau mengerti? Aku disini menunggumu mengatakan sesuatu. Tenang, takkan ada penolakan karena sesungguhnya aku sudah terlebih dahulu jatuh padamu .Kenapa kau begitu pesimis, seolah beribu penolakan telah ku lontarkan. Kau mengalihkan matamu saat aku ingin menatap kedalam sana dan melihat seperti apa aku dimatamu? Kau lari saat kukejar dan berbalik saat aku akan menyerah.Apa maumu? Belum jelaskah tanda-tanda yang kukirimkan? Aku lelah terus begini. Dan seandainya kau membaca ini, aku ingin kau tau ini bukan karangan tanpa alasan. Kau ada disini menjiwai kata demi kata dan ini adalah ungkapan dengan selipan sinyal agar kau mengerti apa yang sebenarnya telah kau perbuat dengan duniaku.