Sepi yang meruncing dari hari-ke-hari, aku bahkan tidak menyentuh apalagi mengasah hingga kini kau setajam pisau dapur dengan rasa sakit yang tak mau kabur.

Hati yang sendiri ini bersama sepi ditepian hari, menggigil sampai kemudian mentari menghangatkan lagi.

Tentang ia yang datang sejenak mengundang tawa dan mengumpulkan rindu, pergi tanpa membayarnya dengan tatap muka. Sedikit. Sepi menghampiri. Lagi.

Aku terlalu memahami arti patah hati.

Bahkan sebelum ia benar-benar pergi.

Advertisement

Sepi dan lara hati sepertinya satu paket, benar?

Setiap lara menghadirkan sepi, dan setiap sepi menumbuhkan lara.

Kecewa dan air mata seperti kata imbuhan pada kalimat majemuk, menengahi kesedihan. Memisahkan.

Sedih karenanya selalu berujung, air mata juga tak selalu berderai. Aku menemukan keduanya berujung pada satu kata, lelah. Begitu juga dengan sepi. Kau tau, kau akan lelah pada waktunya.

tentang ia yang lupa memungut rindunya pulang, ku-sekat sebisa mungkin dengan ia yang lain. Dengan ia yang kutahu tak bertemu lelah seperti sepi dan yang lain. Ia yang sejatinya mencintai.