Hidup tanpa seorang ayah menjadikanku sebagai sosok wanita tanpa rasa manja. Aku bukanlah seperti kebanyakan wanita yang selalu menuntut ini dan itu dari orangtua. Semenjak kecil aku sudah terlatih tanpa kasih sayang seorang ayah. Ibukulah yang menggantikan sosok ayah di hidupku. Beliau begitu hebat dan tegar dalam mendidik serta merawat anaknya hingga dewasa. Semua orang bertanya-tanya kenapa ibuku tak juga menikah meski aku kini sudah mulai dewasa.

Ibu merupakan sosok pahlawan dalam hidupku, tanpa kasih sayangnya mungkin aku takkan bertahan hingga detik ini. Kesibukanku menjalani kehidupan masa remaja menjadikanku jarang menemui ibu, terutama ketika aku memutuskan untuk pindah keluar kota. Aku berharap ibu bisa mendapatkan pengganti ayah, meski kutahu ibu sangat setia dengan almarhum ayah sehingga sedikit pun ibu tak ingin menikah meski telah banyak lelaki yang bertandang ke rumah untuk meminta ibu menjadi pendamping hidupnya.

Aku sendiripun tak ingin ada lelaki yang menggantikan sosok ayah dalam hidupku. Namun aku tidak tega jika melihat ibuku sendirian membesarkan anaknya, akupun tahu kalau ibu pasti merasa kesepian, apalagi anaknya kini pindah keluar kota. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk mencarikan sosok lelaki yang pantas untuk ibuku.

Hingga suatu hari, ketika aku ingin memperkenalkan kekasihku kepada ibu, ibu terlebih dahulu memotong pembicaraanku, dia menyampaikan bahwa ibu akan segera menikah, itupun jika aku setuju dengan keputusan ibu. Betapa senangnya hatiku, akhirnya ibu mau membuka hatinya untuk lelaki selalin ayah. Akupun langsung menyetujui rencana ibu. Saat tiba perkenalan antara aku dengan calon ayah tiriku, betapa hancur perasaanku kala aku tahu bahwa saudara tiriku adalah kekasihku sendiri yang akan aku perkenalkan kepada ibu.

Kami berdua tak dapat berkata apa-apa, pertemuan antar kedua keluarga itu menjadikanku bungkam seribu bahasa. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi hubunganku dengan calon saudara tiriku, demi kebahagiaan ibu dan calon ayah baruku, aku merelakan cintaku berhenti sampai di sini. Mungkin kita tidaklah berjodoh, karena ikatan persaudaraan ini telah mengikatku untuk tidak lagi mencintai dia sebagai kekasih, akan tetapi sebagai saudara tiri yang akan tinggal dalam satu atap rumah tangga.

Advertisement

Saudara tiriku, prnikahan kedua orangtua kita telah terjalin, kini kita adalah dua insan kakak beradik yang takkan mungkin bersatu dalam sebuah pelaminan. Sepotong hati ini memang masih tersimpan untukmu, namun aku harus segera menggantinya dengan perasaan seorang adik kepada kakak kandungnya. Semoga kau di sana bisa mengerti, bahwa semua ini mungkin sudah takdir kita.

Saudara tiriku, kutitipkan ibu dan ayah padamu, aku kini akan menetap di kota Khatulistiwa ini, hingga akhirnya aku bisa melupakanmu sebagai kekasihku, dan akupun bisa menerima kenyataan bahwa kau kini adalah saudara tiriku.