Untuk kali ini izinkan aku menulis, lidahku terlalu kelu untuk mengatakan semuanya.
Diriku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Maka melalui tulisan ini aku harap kau mau membaca, tak dimengerti pun tak apa, asal sudi bagimu untuk mengetahui isi hatiku.

Kita sudah mengenal setahun yang lalu, dan menjadi dekat sejak 7 bulan terakhir ini, banyak cerita yang sudah kujabarkan tentangmu, asa meraih masa depan bersama sudah kurakit, mencoba menjadi teman terbaik sudah kulakukan. Namun, entah mengapa perasaan ini selalu datang kala aku di kesunyian malam.

Sayang, entah dengan cara apa aku mengungkapkannya, semoga dengan tulisan ini kau mampu untuk memahami apa yang selama ini aku simpan, dan aku tutupi erat-erat. Semoga dengan ini pula aku mampu terlepas dari jeratan dan teriakan-teriakan malam yang selalu membunuhku.

Abang, mungkin bagimu aku jarang menyatakan cinta, sayang, aku lebih sering merengek mengatakan aku rindu. Percayalah sayang, jauh dari sifat maluku, sungguh aku mencintaimu bahkan sebelum kau menungkapkannya 7 bulan silam. Aku sayang padamu sejak pertama kau percaya menceritakan masa lalumu padaku, aku membutuhkanmu sejak pertama kali kau menolongku.

Aku bukanlah perempuan yang sering mengumbar kata cinta. Aku hanya bisa mengadu cinta pada Rabb-mu. Sungguh sayang, hanya namamu yang aku panggil di sembahyang malam, hanya keberkahan rezekimu yang kuminta untuk di masa depan.

Advertisement

Sayang,
Belakangan ini aku sering merengek, menjadi manja dan kekanak-kanakan itu semua aku lakukan untuk menuntut perhatian darimu, aku ingin menjadi seorang yang selalu kau rindukan dan kau perdulikan bukan hanya sekedar menjadi teman sarapan, makan siang dan malam. Jujur aku sedikit cemburu dengan teman-temanmu yang selalu kau berikan waktu, untukku hanya sekali seminggu itupun harus aku yang menuntut. Bukan sayang, bukan aku tidak bersyukur dengan waktu yang kau berikan, hanya saja itu kurang bagiku, rasa rinduku ini terlalu besar dari pada tiga atau empat jam waktu yang kau berikan, itupun dikurangi dengan kesibukan antara kau dan pekerjaan atau handphone-mu.

Sayang, tadi ketika kita bertemu (tentu setelah aku merengek malamnya) tak sengaja ku lihat namaku di handphone mu masih memakai embel-embel USU nama yang seharusnya tak ada. Apakah terlalu banyak nama yang mirip dengan namaku? ataukah namaku tak terlalu indah hingga kau tak berniat menggantinya. Bang, haruskah aku yang meminta hal sekecil ini, tak bisakah kau buat di situ sebutan "adek" yang sering kau berikan, sebagaimana aku menyebutmu "abang" di handphoneku.

Malam ini aku ingin menulis semua kegundahan hatiku, kuharap kau tak bosan membacanya.

Tujuh bulan kita bersama, dan Februari ini sudah delapan bulan aku menjadi milikmu dan kau menjadi milikku. Namun entah kenapa aku menjadi ragu, ragu akan menatap masa depan kita. Bukan Bang, ini bukan salahmu. Mungkin hanya aku yang sedikit melankolis kali ini. Bang, aku bersyukur memilikimu, aku bersyukur Tuhan memberikanmu untukku, namun ada yang ingin aku tanyakan padamu, dan seharusnya ini aku tanyakan ketika kita bertemu. Do you still loving me, Bang?

Aku bukanlah perempuan yang cantik, bahkan terkadang aku minder dan malu dengan penampilanku sendiri, aku bukanlah perempuan yang pintar, kuliah saja aku belum lulus, aku bukan terlahir dari keluarga kaya bahkan aku sering ngutang pada teman-temanku. Entah dengan alasan apa kau dulu menyukaiku, dan entah dengan alasan apa hingga kini kau masih bertahan denganku.
Jika suatu hari, jerawatku kian bertambah, jika suatu hari badanku kian kurus, dan aku menjadi jelek, masihkah kau mencintaiku?
Jika nanti tiba masanya aku dan kau harus dipisahkan oleh jarak Medan-Pekanbaru, masihkah kau mencintai dan setia padaku?
Jika aku menjadi miskin hingga tak bisa memberikan yang kau mau, masihkah kau ada dan mau bersama denganku?

Bang, jika kau ingin mengetahui isi hatiku, inilah jawaban atas semua pertanyaanmu.

Iya, aku menyukaimu dengan teramat.
Iya, aku mencintaimu dengan segenap jiwa, hingga tiada sisa.
Iya, aku membutuhkanmu seperti tubuh membutuhkan oksigen.
Iya, aku menyanyangimu seperti Adam menyanyangi Hawa.
Iya, aku merindukanmu seperti bunga merindukan kumbang.

Bang, untuk saat ini, bolehkah aku yang bertanya, apakah kau mencintaiku? Karena aku ragu denganmu. Belakangan ini kau seolah acuh denganku, kau selalu menghilang. Jika memang aku tak ingin bersamaku, atau bosan padaku lebih baik kau katakan. Sifatmu terlalu aneh, Tingkahmu membuatku takut. Takut untuk kehilanganmu.

Untuk sesaat kau pasti akan mengatakan, kau mencintaiku, menyayangiku, kau terima aku apa adanya, aku pasti senang dan aku akan bersyukur, namun aku tahu itu hanya untuk sesaat untuk menghilangkan rasa raguku pada hari itu saja. Jangan sayang, bilang jika kau marah padaku, bilang jika kau ingin aku menjadi seperti yang kau mau, aku akan mencoba sebisaku. Aku ingin menjadi yang terbaik, menjadi yang selalu kau ingat, menjadi yang kau mau, hingga kau tak berniat meninggalkanku, karena rasa ini sudah keberikan untukmu semuanya, hingga tak ada sisa untuk orang lain.

Aku janji takkan berbohong, aku janji takkan menuntutmu, aku janji takkan meminta jajan yang mahal-mahal dan menghabiskan uangmu. Asal kau mau berjanji memberi tahu kau ingin aku seperti apa, agar kau tak bersifat dingin begini. Kalau saja waktu bisa diputar kembali seperti katamu, aku ingin kau yang dulu yang hangat saat ada di sampingku, saat kau pertama kali menggemgam tangaku, memelukku, mengacak jilbabku, aku ingin kau menjadi 5 bulan yang lalu.

Abang, aku mencintaimu, aku menyanyangimu, boleh aku tahu perasaanmu? Bang, aku tak ingin menuntutmu, memintamu menikahiku 2 tahun lagi. Tidak bang, aku tak ingin itu, aku akan menantimu hingga kau siap. Bang, tolong jujur padaku, benarkah perasaanmu, jujurkah ia?

Bang, aku bukanlah tipekal wanitamu, aku sadar itu, namun kenapa kau memilihku? Boleh aku mengetahuinya, sekedar mengingat dan menyakinkan diriku sendiri atas apa yang kau pilih. Bang, aku bukan perempuan pintar, urusan pekerjaanmu aku pun tak mengerti, tapi bolehkah aku masuk di dalamnya, masuk ke dalam duniamu?
Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui kau akan mencari seketaris untuk mengatur jadwalmu. Aku langsung terpikir akan sulit bagiku lagi untuk bertemu dan berkomunikasi denganmu, bolehkah aku cemburu?

Sayang, aku bukan jenuh akan hubungan ini, aku hanya sebatas takut, takut kau pergi dan meninggalkanku setelah hati ini kau ambil sepenuhnya. Sayang, jika kau membaca ini ketahuilah aku sedang memikirkanmu, menunggu untuk terus mencintaiku.

Dariku

Wanita yang dipenuhi rasa meragu