Tak tahu darimana aku harus memulai. Terlalu banyak kata-kata yang ingin kuungkapkan. Sayang, tak ada satupun yang dapat menjelaskan dengan tepat, betapa bahagia aku dipertemukan denganmu.

Aku tak tahu seberapa lebar tawamu, di hari aku muncul ke dunia. Aku tak tahu apa kata pertama yang kau ucapkan ketika melihat wajah kecilku. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu ketika pertama kali menggendongku. Takut? Bahagia? Terharu? Entahlah, kukira semua bercampur aduk dalam dada bidangmu.

Namun yang pasti, kau adalah laki-laki pertama yang masuk dalam kehidupanku. Pria yang membesarkan, merawat, dan mendidikku. Pria yang rela terbangun di tengah malam menggantikan Ibu untuk menenangkanku yang kesulitan menghadapi rasa lapar dalam kegelapan.

Kau memastikan aku takkan jatuh, dan meskipun itu terjadi, kau pula yang akan memastikan luka-luka itu akan hilang. Kau meyakinkanku akan selalu berada di sisiku, bahwa kedua tanganmu akan selalu menangkapku, menjaga dan melindungiku dari apapun. Jari-jari besarmulah yang kugenggam di kala aku tak ingin lagi digendong. Ke arahmulah langkah kakiku menuju.

Duduk diatas pundakmu adalah sebuah kehormatan, karena aku dapat sedikit lebih dekat menggapai matahari. Hal-hal besar tampak lebih kecil. Hal-hal tak terjangkau dapat kuraih dengan tangan kecilku. Aku bagaikan ratu yang tengah duduk di singgasana terkokoh.

Advertisement

Bahkan sesekali, kau bisa dengan mudah membawaku dengan lenganmu yang besar. Langkah-langkahmu yang besar dapat menyaingi kegesitanku, menghindarkanku dari marabahaya. Benda kecil nan kasar yang menutupi dagumu itu, aku begitu menyukainya. Terasa geli dan membuatku penasaran. Dan tak ada yang dapat membuatku merasa seperti panglima perang terhebat selain duduk di atas punggungmu, setiap kali kau berpura-pura sebagai kuda terkuatku.

Tak dapat kuukur kesedihan dan kekecewaan yang menyergap hatimu ketika aku tumbuh menjadi remaja pemberontak yang nakal. Tak lagi mengindahkan laranganmu, tak lagi ingin bermain denganmu, bahkan menjawabmu dengan kata-kata yang tak patut. Aku lebih memilih bermain dengan teman-temanku, tenggelam dalam kesibukanku, menghabiskan waktu hingga tak ada yang tersisa lagi untuk kuhabiskan bersamamu.

Aku tak tahu waktu perlahan-lahan mengikis kekuatanmu, membengkokkan punggungmu yang gagah, dan menggerogoti otot-otot kekar tubuhmu. Kau tak pernah berkata apapun. Aku hanya melihat sapuan warna putih di sela-sela rambutmu dan guratan-guratan alam di sekitar wajahmu.

Setiap kulihat senyummu menyambut kepulanganku, kukira semua akan baik-baik saja, bahwa suatu hari aku bisa dengan bangga mempertemukan anakku dengan lelaki terhebat dalam hidupku, yaitu engkau, Ayah.

Siapa yang menyangka bahwa takdir tak begitu menyetujui rencanaku itu. Ia menganggap tugasmu sudah selesai, bahwa engkau telah berhasil mendidikku, membesarkanku menjadi seseorang yang pandai, berkarakter, dan berguna bagi orang lain. Bagiku itu belum cukup untuk membahagiakanmu.

Apakah karena aku pernah menyia-nyiakan waktuku, sehingga takdir pun tak ingin lagi memberi waktu lebih untuk kita habiskan bersama? Apakah sebegitu besar rasa cinta Tuhan padamu sehingga Ia memanggilmu untuk pulang lebih cepat? Apakah cintaku tidak cukup besar untuk mempertahankanmu sedikit lebih lama lagi?

Sekian lamanya pertanyaan-pertanyaan itu bermain-main di benakku, seakan-akan itu bisa membawamu kembali padaku. Tapi, perlahan-lahan aku mencoba untuk menerima bahwa mungkin memang tidak ada lagi yang bisa kau lakukan di dunia. Kau sudah mewariskan sesuatu yang baik pada dunia, yaitu aku.

Tak ada kata yang bisa kuucapkan, tak cukup airmata untuk kucucurkan, tak cukup selamanya kuhabiskan untuk meneriakkan betapa aku berterima kasih padamu untuk segalanya, Ayah. Tak ada yang bisa kuberikan, tak ada yang cukup berharga untuk membayar, untuk membalas semua yang telah kau berikan padaku, Ayah.

Hanya satu yang bisa kujanjikan padamu. Warisanmu takkan berhenti padaku. Semua yang telah kau berikan padaku, akan kuteruskan, akan kulanjutkan, akan kubagikan pada anak dan cucuku. Akan dengan bangga kukatakan pada mereka, bahwa dalam hidupku pernah singgah lelaki terhebat.

Dari putrimu yang selalu mencintaimu, Ayah.