Tiba-tiba dadaku terasa sesak dipenuhi oleh rasa rindu kepada kalian. Sore tadi, saat aku terbangun dari tidur, saat kesadaranku sedikit demi sedikit kembali, kudengar lamat-lamat ramai gerimis diluar kamar. Lalu kuperhatikan secara seksama cipratan rintik hujan yang berlarian di kaca jendela. Beberapa ada yang hilang di pusaran alirannya, beberapa yang lain berhasil menetes sampai ujung jendela. Dari sanalah segala memori rindu tentang kalian seperti bangun dari tidurnya. Rasanya sudah begitu lama perasaan ini karam dan terbenam oleh jalan hidup masing-masing kita.

Entah ada keajaiban apa dengan fase hidup masa remaja, ia begitu kuat tertancap dalam ingatan masing-masing kita, disanalah fosil-fosil dari makna persahabatan anak SMA berasrama sepertiku kudapati terbina sempurna. Mungkin itu juga alasan kenapa reuni SMA selalu paling meriah jika dibanding dengan reuni SMP atau reuni satu angkatan jurusan di Universitas. Seperti selalu ada alasan untuk menghadirinya.

Dimasa Itulah Kita Begitu Berani Coba-coba

Kali ini sepertinya aku harus setuju dengan bang haji Roma irama tentang darah muda berapinya. Nyatanya jelas kurasa seperti ada arus energi yang bersenyawa dalam denyut nadi seorang remaja. Itulah alasan kita berani sekali melakukan coba-coba pada masa itu, mulai dari yang jelas sampai ambigu, mulai dari menjajal berbagai model rambut kepala, melipat lengan kemeja agar kelihatan lebih gagah, atau merobek jean dengan sengaja hanya agar kelihatan slengekan, padahal kalau ketemu preman ngeri juga.

Sekarang semuanya berbeda, kita begitu khawatir melakukan hal-hal baru sebagaimana dulu. Selalu ada rasa cemas ketika ingin mengerjakan sesuatu. Selalu ada ancaman kegagalan yang menghantui di kepala. Sekarang kita lebih merasa risau mendengar omongan orang dari pada konsentrasi pada apa yang sedang kita kerjakan. Padahal dulu, kita tidak begitu memikirkan derivasi kecemasan yang begitu rumitnya, dulu ketika kita punya konsep kita tinggal sharing di depan kelas, masukan kita terima, lalu kita eksekusi. Gagal? Sudah biasa.

Advertisement

Masa Remaja Mengajarkan Bahwa Persaingan Sangat Bisa Kita Hadapi Dengan Bahagia

Aku masih ingat dengan jelas saat kita membuat janji di bilik kamar asrama waktu itu, dengan saksi buku-buku yang berjajar di dinding kayu dan lemari yang berbaris dibawahnya kita berikrar bahwa siapa tiga orang diantara kita berenam yang nilai ujiannya terendah maka harus mentraktir tiga orang lainnya yang lebih bagus nilainya. Semua sepakat, lalu kompetisi pun dimulai.

Perjanjian itulah yang membuat kita kemudian rajin tak kepalang, kemana-mana buku tidak pernah lupa kita bawa. Ini bukan semata soal hadiahnya bung, ini soal gengsinya. Maka, lembur belajar pun kita jabanin bersama di malam-malam ujian. Bahkan saat kita lihat ada teman kita yang mulai ngantuk, kita tak mampu menahan jail, kita ambil jepitan pakaian untuk menjepit hidungnya. Satu, dua, tiga, dan beginilah yang terjadi selanjutnya; Si-empunya hidung kaget jalan nafasnya dikerjai, namun saat melihat wajah teman lainnya tersenyum ia tak bisa menyembunyikan senyum yang sama. Padahal waktu itu jam sudah menunjuk pukul dua.

Lalu hasilnya? Yup, hasilnya malah diluar dugaan, yang awalnya kita hanya bersaing diantara kita, malah ada yang juara tiga di kelasnya. Luar biasa.

Persahabatan Mengajarkan Kepada Kita Bahwa Bahagia Tak Melulu Soal Materi, Bisa Saling Berbagi Rasa Kadang Lebih Dari Segalanya

Waktu tak terasa membawa langkah kaki kita berpisah untuk berjuang demi cita-cita masing-masing. Kini kita sudah saling berjauhan satu dengan yang lainnya, berjumpa kawan baru di tempat kuliah , berinteraksi dengan orang-orang baru yang berbeda di tempat kerja. Semua sebenarnya asik-asik saja dalam kadarnya, tapi rasanya tidak ada yang mengalahkan manisnya persahabatan masa-masa SMA.

Mungkin inilah salah satu sebabnya, waktu itu kiriman orang tua datang tak sebanyak biasanya. Kemudian seperti biasa kita berkumpul di markas belajar kita. Lalu kuceritakan pada kalian soal keadaanku sejujurnya. Tak ada niat apapun kecuali hanya ingin cerita biasa. Aku berpikir kita adalah keluarga kecil di asrama ini.

Tapi tak kukira respon kalian jadi seperti itu. Kalian rela patungan untuk membayarkan SPPku. Meski sudah kutolak dengan sekuat tenaga, tapi malah kalian langsung membayarkannya ke bendahara asrama. Ya Alloh, demi semua itu aku hampir-hampir tak putus berdoa dalam sujud, berdoa agar orangtua kalian dimudahkan rejekinya, berdoa agar kita nanti dimudahkan dalam berusaha, dan berdoa agar kita nanti bisa reuni lebih indah lagi di surga.

Terima kasih untuk semuanya…

Semoga kalian selalu baik-baik di mana pun berada…

Sampai jumpa di surga…