Bagi gadis pemimpi dan pecinta dongeng sepertiku, menjadi seorang "Puteri" adalah mimpi yang biasa. Membayangkan hidup di kastil megah bersama Raja dan Ratu serta rakyat yang amat menyayangiku. Lingkungan kastil yang begitu mempesona, dihiasi dengan taman-taman indah yang penuh bunga bermekaran, lengkap dengan air mancur dan kolam ikan di dalamnya, juga kupu-kupu yang tak jarang berterbangan dengan indahnya di sekitar taman.

Tak lupa pula taman labirin yang berada di bagian paling ujung dari kastil kami. Tempat favoritku melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kerajaan. Tapi tenang, taman labirin itu sudah aku masuki lebih dari seratus kali sepanjang usiaku, jadi aku sudah hafal betul dan tidak akan kehilangan jalan pulang. Dan jika aku sudah memasuki taman labirinku, maka tidak seorangpun akan berani mengusikku.

Ah, cerita dongeng tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran seorang Pangeran bukan? Tapi sayangnya memang belum ada Pangeran dalam cerita ini. Sang Puteri masih menikmati masa-masa bahagianya seorang diri, walaupun sesekali memang sering memimpikan Pangeran hadir untuk memberikan warna lain dalam hari-harinya..

Sang Puteri mulai membayangkan akan tinggal di kastil bersama Pangeran impiannya. Pangeran yang penuh dengan kelembutan, kearifan, yang selalu dapat membuat Puteri tersenyum bahkan di hari terburuknya. Jangan khawatir Pangeran, aku tidak akan memintamu membangunkan kastil megah berlapis emas untuk kita tinggali. Kita akan membangunnya bersama, kastil impian kita.

Tidak perlu kastil megah, cukup kastil mungil yang indah dengan taman mawar di halaman belakang. Tidak perlu taman labirin, rasanya sudah cukup aku menghabiskan waktu luangku di taman labirin, biarlah sesekali aku mengunjunginya nanti di kastil lamaku. Kita hanya perlu membangun kastil mungil yang penuh dengan atmosfer kebahagiaan, yang akan membuat anak-anak kita merasa nyaman ada di dalamnya.

Advertisement

Dan aku akan dengan rajin membangunkan kalian dengan aroma kopi dan coklat di pagi hari. Kau amat menyukai kopi kan? Tunggu saja sampai aku menghidangkan kopi buatanku, kau pasti akan jatuh cinta. Dan aku memang bukan pecinta kopi, tapi kopi dan coklat dalam satu meja tentu akan menjadi perpaduan yang amat manis. Kita akan menikmati pagi di halaman belakang sambil memandangi kehebohan pangeran dan puteri kecil kita berlarian disana.

Ah, jangan terburu-buru mengernyitkan kening Pangeran. Aku tentu tidak hanya akan menyuguhkan kopi dan coklat di pagi hari. Aku memang seorang Puteri, tapi aku tahu bagaimana melakukan pekerjaan rumah. Seperti memasak. Walaupun mungkin masakanku belum seenak masakan Ratumu, tapi aku yakin masakanku tidak akan membuatmu kehilangan selera makan.

Mungkin masakanku masih agak payah pada awalnya, tapi lambat laun aku pasti akan menguasai berbagai resep masakan favoritmu.

Setelah menikmati pagi bersama, tentu kita akan disibukkan dengan kegiatan yang lain. Kau pasti akan sibuk menjalankan tugasmu sebagai Pangeran, atau mungkin telah menjadi Raja, demi bisa menjaga cerobong asap kastil kita agar tetap menyala. Lagi-lagi kukatakan, jangan khawatir Pangeran. Selama Kau tidak di kastil, aku bisa menjaga anak-anak dan juga diriku sendiri.

Aku memang seorang Puteri, tapi aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri Pangeran. Aku cukup kuat dan mandiri untuk ukuran Puteri. Mungkin aku hanya akan menyusahkanmu saat sisi wanitaku muncul. Saat aku tidak ingin melakukan apapun kecuali bermanja di sisimu.

Dan, satu lagi. Kau pasti khawatir tentang Raja dan Ratumu. Tenang Pangeran, sebagai seorang Puteri aku sudah khatam dengan semua pelajaran kepribadian seperti tata krama, sopan santun, hingga table manner sekalipun. Jadi akan aku pastikan, aku tidak akan membuat kesalahan sekecil apapun saat bertemu dengan Raja dan Ratumu. Aku akan dengan hati-hati memilih setiap kata yang akan aku ucapkan pada mereka, dengan senyum tulus di bibirku.

Kau pasti tahu betapa senyum sudah menjadi keseharianku. Aku tidak akan berpura-pura di hadapan mereka. Aku akan tetap menjadi Puteri yang kau kenal. Hanya saja mungkin aku akan sedikit lebih kalem demi mendapatkan hati Raja dan Ratumu. Hingga akhirnya semua akan berjalan seperti yang kita harapkan.

Semua akan indah pada waktunya bukan, Pangeran? Maka demi menanti masa indah itu, aku akan terus memantaskan diriku. Begitu pula kau, tetaplah memantaskan dirimu. Agar kita dapat bertemu di saat yang tepat, saat kita telah pantas untuk dipertemukan. Agar impianku mengenai kastil mungil kita dan semua kebahagiaannya, tidak hanya akan menjadi mimpi seperti dalam dongeng yang sudah-sudah.