Dear Sahabatku,

Pastinya kamu tahu kalau aku merindukanmu. Sejak 2 tahun kepergianmu menghadap yang maha kuasa aku masih bersedih dan terus mengingatmu. Tak dapat kepercaya bahwa kini kamu telah tiada. Aku ingat kalimatmu terakhir kali yang mengatakan "persahabatan tak lekang oleh waktu. Ketika waktu memisahkan, ingatlah bahwa aku tetap menjadi sahabatmu dan kamu tetap sahabatku". Dan kalimat itu selalu terpatri dikepala dan hatiku. Begitu banyak memori indah yang kita lalui bersama, dan kenangan itu hingga kini masih melekat dipikiranku. Teringat akan hobi kita, yaitu memandang matahari terbenam di pantai, kamu bilang " begitu indah ya ciptaan Tuhan, hebat banget!" seperti itu kalimatmu ketika matahari mulai meninggalkan peraduannya, dan kau tak berhenti memuji karya sang Pencipta. Aku yang melihatmu bahagia saat memandang matahari terbenam, hanya tertawa kecil karena pola tingkahmu yang lucu. kau selalu membuatku tertawa dan bahagia, sampai aku tak tahu rasanya bagaimana jika aku kehilanganmu. Aku takut membayangkannya saat itu.

Hingga saat kau menikah, aku tahu aku harus melepasmu bersama pendamping hidupmu. Sebelum mengikrarkan janji pernikahan, kau menggengam erat tanganku dan berkata bahwa kau gugup sekali. Aku tahu ketakutanmu saat itu, tapi justru aku yang lebih takut karena harus melepasmu.Tetapi aku bahagia, karena kau telah menemukan belahan jiwa yang kau idamkan. Setelah persahabatan kita 25 tahun lamanya, hari itu adalah hari teristimewa dalam hidupku, karena bisa melihat kamu menikah, kamu begitu lega ketika janji pernikahan selesai dilaksanakan. Aku tersenyum bahagia melihatnya.

1 tahun setelah pernikahanmu, aku yang tinggal diluar kota bersama suamiku mendengar bahwa kamu akan melahirkan. Aku bahagia sekali mendengarnya karena aku akan punya keponakan. Dan langsung terbang ke jakarta untuk menemuimu. Aku tak mau melewatkan momen saat kamu melahirkan. Aku sangat excited!

Tetapi, apa yang aku dapatkan setiba dirumah sakit, dokter mengatakan pada suamimu bahwa salah satu diantara kamu dan anakmu ada yang harus diselamatkan, tidak bisa keduanya diselamatkan. Aku yang mendengar kabar itu hanya terduduk lemas dan menangis keras, hingga suamikupun tak mampu menenangkanku. 1 jam kemudian dokter, mempersilahkanku untuk menemuimu. Aku melihatmu begitu cantik, sama seperti dulu, Dan tak berubah sedikitpun. Untuk kedua kalinya kamu menggenggam tanganku, saat kamu menikah dan saat kamu akan melahirkan. Aku tahu ketakutanmu, dan aku mengerti keinginnmu untuk memiliki anak. Kamu mengenggam tanganku sambil menangis dan menatapku seolah " semua akan baik-baik saja". Hingga akhirnya, kamu memutuskan pilihan..

Advertisement

Dengan langkah kaki penuh gontai, aku menemui suamimu yang sedang menunggu mukjizat. Aku tahu kebingungan suamimu saat itu. Namun aku tak dapat menghentikan keinginanmu untuk terakhir kalinya..

Ya..kamu memilih untuk menyelamatkan bayimu, buah hati pertama dan terakhirmu. Tak tahu harus bagaimana aku memberikan kabar ini pada suamimu yang sedari tadi memohon Sang kuasa untuk menyelamatkanmu dan buah hati kalian. Tetapi, seiring waktu berjalan suamimu akhirnya bisa menerima keputusan terhebatmu. Kamu sungguh luar biasa, sahabat. Kini anakmu tumbuh cantik, dan kuat sepertimu, mamanya yang kini berada disurga. Aku yakin, anakmu pasti menjadi wanita yang kuat dan mandiri serta mampu menghadapi arus kehidupan yang terjadi padanya nanti kelak ia dewasa. Dan aku, akan memastikan bahwa amanat yang kau titipkan padaku untuk menjaga dan menyayangi anakmu, tak akan ku ingkari dan kulupakan.

Sahabat,

Terima kasih, kau mengajarkan banyak hal padaku. Kamu mengajarkan bahwa hidup tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. dan kita harus mampu menghadapi cobaan ketika cobaan itu datang. Sahabat, kau akan selalu terkenang dihati kami. Semoga kau membaca suratku.

Dari,

Aku, sahabat yang merindukanmu.