Teruntukmu yang selalu menanyakan dan menantikan kabar kepulanganku, kuharap engkau bersabar dan tegar menungguku hingga mimpi ini menjadi kenyataan. Terus terang kukatakan bahwa "Aku masih belum bisa pulang", walau hampir tiga tahun aku merasakan hiruk pikuk kehidupan di metropolitan, tetap saja aku masih tidak bisa pulang.

Akhir-akhir ini aku merasa ada yang salah dalam kehidupan ini. Minggu yang lalu aku dengan tidak sengaja memecahkan gelas yang berada dalam genggaman. Aku merasa bahwa itu hanyalah masalah kecil dan patut untuk dimaafkan. Dua hari setelah itu, tanpa sesuatu yang mengagetkan aku terjatuh dari kendaraan sepulang kuliah. Dan hari ini aku gagal mempresentasikan hasil kerja kerasku yang selama ini kuanggap bisa menjadikan diriku naik ke sebuah level yang lebih tinggi dari yang sekarang, namun nyatanya hal itu tidaklah terwujud.

Apa memang benar aku terlena dengan keinginan batin ini yang ingin sekali pulang. Ah, aku tak mau mencurahkan segalanya di sini. Aku hanya ingin pulang setelah masa studiku berakhir, hingga "Tassel" pada toga kiri berpindah kekanan di atas kepala ini. Aku akan kembali dan mengabdi di tempatku dibesarkan, berpartisipasi untuk menjadi bagian dari pembangunan. Di sebuah desa yang sangat rindang, damai, jauh dari kebisingan, penuh persaudaraan dan toleransi

Kuharap engkau tetaplah seperti desaku yang dulu. Aku selau memikirkan desaku, ingin rasanya kembali menjadi anak kecil seperti yang dulu.

Sengaja tak kubuat kenangan manis di sini supaya ketika pulang nanti aku tak merasa sulit untuk meninggalkan kota ini.

Advertisement

Aku ingin pulang melepaskan rindu, bersendau gurau dengan kalian. Apalagi saat ini suasana Natal dan Tahun Baru, betapa senang rasanya. Namun semua itu haruslah menjadi suatu angan-angan belaka. Menyakitkan sih, tetapi apalah daya. Yang kupercaya hanyalah hidup ini bagaikan roda pedati yang kadang di atas dan kadang pula di bawah.