Bapakku adalah inspirasiku. Tak ada yang lebih gagah daripada bapakku. Apalagi ketika beliau memakai seragamnya. Tak ada yang lebih menawan daripada bapakku. Apalagi ketika beliau tengah mematut diri dengan seragam kebanggaan yang baru saja aku setrika.

Tak ada yang berangkat lebih pagi daripada bapakku. Beliau sudah meninggalkan rumah sejak subuh. Mengenakan sepatu keren. Seragam yang gagah. Tak lupa topi untuk melindunginya dari sinar matahari.

Tahukah Kawan, bapakku sangat bangga akan seragamnya. Seragam itu di dapatkan dengan susah payah. Melalui perjuangan-perjuangan tiada henti. Sekian tahun beliau habiskan agar pemerintah kota mengakui profesinya. Kerja keras tiada henti ia lakukan agar walikota memberikannya seragam. Berkilo-kilo jalan raya ia telusuri agar seragam itu melekat di badannya.

Bapakku juga sangat bangga akan pekerjaannya. Bayangkan saja. Subuh-subuh ia sudah berangkat dengan senyum tersungging di wajah. Seragam kebanggaannya telah melekat di tubuhnya yang kurus kering. Topi lebar telah menaungi wajahnya yang menghitam. Dengan penuh semangat beliau mengayuh sepeda jengki warisan orang tuanya. Melawan dingin, untuk melayani seluruh kota. Sesampainya di tempat kerjanya, bapakku tak bisa langsung berleha-leha seperti pekerja lainnya, Kawan. Beliau harus bergegas, karena banyak yang harus ia kerjakan.

Segera beliau meraih sapu lidi yang menumpuk di pojok gudang. Setengah berlari, beliau menuju ke jalan raya. Beliau harus sekali lagi bergegas, sebelum banyak kendaraan menghalagi tugasnya. Cekatan, beliau mengggerak-gerakkan sapu tersebut untuk mengumpulkan sampah daun dan plastik yang terhampar hampir di seluruh permukaan jalan.

Advertisement

Mentari mulai terik kawan. Sementara bapakku harus tetap bekerja. Tak jarang beliau harus menelan resiko untuk terserempet mobil dan motor-motor yang terburu-buru mengejar masuk jam kantor. Tapi beliau tetap tersenyum. Tak apa, katanya. Ia ikhlas melakukan pekerjaan ini. Senyum tetap mengembang di wajahnya. Tak ada dendam tersumat di hatinya walau kadang ia harus terjatuh karena serempetan spion motor atau mobil yang tak sengaja. Bapakku memahami. Pagi memang selalu sibuk, kan?

Gerakan sapunya tak pernah terhenti hingga siang menerik. Tak ada kata istirahat baginya hingga sampah menumpuk setinggi mata kaki. ia juga tak akan berhenti hingga keringat menetes deras, membasahi seragam kebanggaannya. Ia tak pernah kesal walaupun terkadang angin kadang memporak-porandakan tumpukan sampah yang telah rapi. Ia hanya tersenyum. Alam memang tak pernah terduga, bukan?

Tahukah Kawan, bahwa bapakku adalah seorang sarjana? Ya. Ia pernah mengenyam bangku kuliah semasa mudanya. Namun, nasib tak membawanya ke pekerjaan yang lebih baik daripada petugas kebersihan kota. Nasib, Kawan. Tak pernah ada yang bisa bermain-main dengan kata itu. Namun, bapakku tak pernah mengeluh. Lihatlah senyumnya yang menawan tiap kali pagi menjelang.

Ya, Kawan. Kau benar sekali. Bapakku adalah seorang petugas kebersihan kota. Seragam bapakku adalah berwarna kuning. Terkadang kusam oleh noda-noda sampah yang tak bisa hilang walau dicuci. Seragam bapakku adalah kebanggaannya. Tak apa, kata bapakku. Walau hanya berseragam kuning yang penting ia telah berseragam. Seragam bapakku adalah kehormatannya. Tak sedikit orang memandang sebelah mata padanya, namun tetap, bapakku mencintai pekerjaannya, dan seragamnya. Bukankah tak ada yang lebih bahagia daripada orang yang mencintai pekerjaannya? Juga seragamnya, dalam hal bapakku.

Narasi ini terinspirasi oleh pemandangan setiap pagi.