Bicara tentang perasaan. Sejak dulu semua orang juga sudah tau bahwasannya yang namanya hati dan perasaan itu memang tidak dapat dipaksakan. Betapapun kerasnya perjuanganmu untuk mendapatkannya, seberapapun kuatnya kamu mencoba memilikinya, maka resikonya adalah sekuat itu pula kamu harus rela jika tak bisa menggapainya. Karena yang namanya perasaan itu mutlak tak bisa kita kendalikan.

Begitu juga dengan diriku yang masih terikat dengan kenangan-kenangan pahitku yang dulu. Aku tak mampu mengendalikan hati dan perasaan yang berkecamuk karena kenangan masa laluku begitu menyayat hati dan perasaanku. Lalu kau pun hadir mengobatiku yang waktu itu seperti burung dengan sayap-sayapnya yang patah.

Waktupun berlalu dan kau bilang kepadaku bahwa kau memiliki rasa yang terpendam untukku. Kau bilang kau sangat menyukaiku. Meski begitu kau mengatakan kepadaku bahwa kau akan membiarkan perasaanmu itu mengalir seperti air. Oke aku setuju dengan sikapmu yang seperti itu. Kuakui keteguhan hatimu bahwasannya kau tak memaksaku untuk menerimamu.

Sungguh… Maafkan aku karena aku masih dan selalu mengabaikanmu. Memang benar katamu, bahwa patah hati bukan berarti aku harus menutup pintu hatiku. Andai saja engkau tau sejujurnya aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya masih takut dan semacam kehilangan selera untuk mencintai siapa-siapa lagi.

Biarlah hati ini menentukan pilihannya sendiri, entah akan berakhir denganmu atau orang lain, kuserahkan seluruh perasaan ini kepada Tuhan. Aku hanya ingin engkau tau bahwa di hatiku masih ada sisa luka di masa lalu, maka beri aku waktu untuk menata kembali hati yang rapuh ini.

Advertisement

Meski begitu kau tak perlu ragu, aku akan menerimamu jika memang kau ditakdirkan untukku. Namun kau juga harus merelakanku jika Tuhan telah menuliskan kisah cintaku yang selanjutnya dengan seseorang yang baru yang mungkin bukan dirimu.